[review] Membela Martabat Sastra

Darah Daging Sastra Indonesia

Penulis   : Damhuri Muhammad
Genre     : Nonfiksi/ Sosial-Budaya
Penerbit : Jalasutra
Cetakan  : I,  Maret 2010
Halaman : 168 hlm
ISBN       : 978-602-8252-34-8

Telah jamak diketahui bahwa sastra berjenis prosa, apalagi fiksi, telah mengundang banyak orang melakukan curah pendapat dan secara mental menamai diri sebagai kritikus sastra. Sebuah pekerjaan sarat komplektivitas dan sistem kode yang rumit, begitu ungkap A. Teeuw. Dipicu adanya  suatu aksi, yaitu keberadaaan teks sastra, telah membuka peluang hubungan timbal balik (yang diharapkan menguntungkan namun sportif) berupa proses kritik sebagai reaksinya. Tentu saja rumus reaksi dihitung dengan persamaan yang rumit. Kritik sastra pun diperoleh melalui proses yang rumit, kontemplatif dan penyelaman struktural yang dalam.

Namun, karena makin giat didekati, dijinakkan, ditelanjangi, dan dibedah, kritik sastra menjadi kegiatan yang tidak elite lagi. Telah banyak penikmat sastra yang ikut-ikutan menamai diri sebagai kritikus sastra.  Apalagi dilihat dari arti yang paling lugu bahwa sastra hanyalah untuk dinikmati. Artinya, sepanjang itu sudah tak nikmat lagi atau tak ada nikmatnya sama sekali sejak awal persentuhannya, ia mudah dicampakkan. Betapa menggiatkan diri di ladang sastra semacam peruntungan russian roulette di rumah kasino. Tak ada martabatnya sama sekali karena dipersamakan dengan candu.

Apakah martabat sastra sendiri sedang membutuhkan pembelaan?

Baca lebih lanjut

Iklan