Reading Circle Syndrome Effect

Reading Circle Syndrome atau singkat saja RCS adalah istilah saya untuk menggambarkan satu keadaan dimana seorang pembaca—yang entah terserang oleh infeksi virus apa :mrgreen: —memperluas jaringan bacanya, dari beberapa buku menjadi banyak buku, dan itu cukup sulit untuk dihentikan. Sekilas sih tak ada yang salah dengan kegemaran membaca yang makin bertambah, tapi ada sisi lain dari seorang pecinta buku yang harus diwaspadai. Adalah sebuah penyakit yang menyerang kesehatan pundi-pundi finansial, yaitu lebih bahagia membeli buku ketimbang pinjam di perpustakaan. Hal ini yang membuat pecinta buku bergelar rangkap menjadi seorang penimbun buku. Masalah dibaca langsung atau tidak, urusan belakangan. Yang penting sang buku sudah terpajang di rak pribadi, dan suatu ketika membutuhkan tidak usah repot-repot mencari kesana-kemari. Itu salah satu prinsip yang dipegangnya. Saya pun tergolong dalam kelompok yang beginian. Baca lebih lanjut

[artikel] Tragedi Malam bulan Maret

Hanya ada satu kata untuk menggambarkan suasana pada malam itu : shimattaaaaa . . .!! Saya membeli buku dengan secara kalap dan pada akhirnya saya tidak jadi beli sepatu 😛 karena jatah untuk itu tiba-tiba tergelontorkan ke kasir toko buku. Malam itu saya hanya berniat jalan-jalan saja ke Social Agency, sekalian cari novel-novel ringan teen romance gitu (dalam rangka gerakan cinta novel). Tapi bukan pecinta buku namanya jika ke toko buku hanya untuk cuci mata saja, akhirnya rak yang seharusnya saya hindari justru saya dekati pertama kali memasuki sang toko buku. Yaitu rak buku-buku Islam. Padahal sebelumnya saya sudah merancang skenario untuk langsung menuju lantai atas ke rak novel, but unfortunately, kaki saya penasaran melangkah ke tempat berkumpulnya kitab-kitab, buku-buku klasik dan referensi Islam. Dan, aarrrrghhh!! Ketemu dengan buku Tajul ‘Arus. Kemudian, secara slow motion saya melirik ke bagian rak atasnya, dan Jreng!! Mata saya bertemu dengan Kitab Al Hikam yang sudah menjadi great wishlist saya sejak berbulan-bulan lalu. Dengan gaya menunduk sambil bertumpu pada rak buku (tak lupa garis-garis hitam di belakang sebagai latar), saya pun berpikir untuk melupakan sejenak program “kece-isasi” dengan membeli sepatu baru yang terlihat lebih formal namun tetap trendi ketika digunakan. Lupakan. Buku di depan mata dan saya tak kuasa untuk menahan tidak membawanya pulang ke rumah. Dan pada akhirnya, kalap buku saya kambuh. Baca lebih lanjut