PUISI YANG ISENG

Suara-Suara yang Terpinggirkan : Antologi Puisi Mbeling

Oleh        : Kelompok Studi Sastra Bianglala Semarang
Genre     : Fiksi / Antologi Puisi
Editor     : Heru Emka
Cetakan  : Pertama, Mei 2012
Halaman  : 364 hlm
ISBN        : 978-979-94555-88

 

Puisi yang nyleneh, lugu, iseng nakal, nan penuh luapan napsu (?) memang tak pernah habis menyita perhatian. Diantara sebagian kita ada yang tetap bertahan pada estetik puisi yang rumit dengan bahasa eksklusif dan pemilihan yang pelik sehingga hasilnya dianggap sebagai adikarya yang canggih—sebagaimana ungkap Heru Emka dalam esai pembuka buku ini—namun di belantara puisi yang lain, ada kita yang menikmati kepolosan dan kespontanan sebuah kata yang digoreskan tanpa naluri puitik—melainkan naluri keisengan belaka. Disanalah nuansa komikal-kelakar puisi tereksplorasi tanpa malu-malu. Penikmatnya mungkin orang yang tak tahu malu :mrgreen:

Saya penikmat puisi mbeling. Buku ini sangat saya banget. Mengingat saya tidak suka puisi karena seperti melihat kucing dalam karung, akhirnya saya tidak pernah punya pengalaman rasa dengannya. Atau setidaknya bercumbu sebentar dengannya. Saya bosan. Puisi membuat saya kesal karena tak mendapat informasi yang diperlukan. Saya tidak menemukan kepuasan batin karena belum tepat menangkap pesan penyair. Itu merepotkan kalau disaat yang sama juga harus melakukan hermeneutika tatkala menikmati sebait puisi.

Tapi, puisi mbeling membuat saya bahagia. Buku ini membuat saya bahagia. Antologi puisi mbeling besutan kelompok studi sastra bianglala Semarang ini membuat saya bahagia *OK Stop sangat cocok untuk para pembaca yang sudah bosan dengan wajah elit puisi yang tak bisa digapai dengan mudah  oleh pikiran-pikiran anti-mainstream sebagian kita.

Buku ini memuat banyak sekali puisi mbeling—lebih dari 100 judul!—dari banyak pegiat sastra. Puisi mbeling adalah model puisi kontemporer yang sudah tak terikat oleh aturan pepuisian yang pernah berlaku. Rima, bait, diksi, kelindan kata, semuanya ditabrak oleh spontanitas kreatif. Tapi, karya mbeling tak kehilangan nilai estetik. Justru kehadirannya yang dirasa sebagai “the others” ini memberi semacam ruang guyon yang renyah nan aktual.

Ini salah satu puisi mbeling dalam antologi ini yang membuat saya hampir membanting buku :

JURU SITA SIAP UNTUK MEROBOHKAN RUMAH DAN BANGUNAN SEKELILINGNYA, RAGA DAN JIWA. DI AREAL INI AKAN DIJADIKAN KOMPLEKS YANG MEGAH DAN MEWAH.
?

Karya : Adri Darmaji Woko, 2011

Dan masih banyak lagi karya-karya yang nyleneh dalam antologi ini. Pembaca akan diajak ke dalam nuansa puisi yang sama sekali baru. Penuh kesegaran, kelakar, satire, hingga sensualitas dalam berbagai tingkatan.  Puisi ini menimbulkan keringat panas, keringat dingin, dan jenis-jenis keringat lain secara estafet. Di satu sisi pembaca dapat cekakak-cekikik menikmati karya yang ada. Namun, di saat yang sama dapat pula terasa ketagangan karena nuansa horor puisi yang tercetuskan. Atau mungkin pembaca juga merasakan hal yang sama seperti saya ingin membanting sang buku.

Akhir kata, mengikutip ungkapan Heru Emka dalam esai pembukanya ;
Suara-Suara yang Terpinggirkan sengaja saya pilih sebagai judul antologi ini, sebagai penanda, bahwa apa pun yang hendak disampaikan oleh puisi ini, mereka sudah terlanjur dipandang sebagai puisi marjinal, dan sampai kapan pun tak bakal tertampung di media massa. Tapi bukankah wilayah luas dunia maya membuat kita kini dengan mudah menciptakan media kita sendiri?

Kendati model puisi mbeling tak terlalu beken dan cenderung dicap sebagai karya “para pemberontak”, namun toh dia tetap ada. Seadanya saya dan model-model seperti saya yang lain.

Pembaca dan pembaca puisi, tak ada salahnya menikmati salah satu sajian iseng yang terhimpun dalam antologi puisi mbeling ini. Tenang saja, meski terpinggirkan, Anda tetap ganteng—seburuk apapun cermin memantulkan realita.

Selamat berkelakar !

gambar : palestina-bila.blogspot.com

My Review : sebuah hikayat

Buku ini saya pinjam dari Perpustakaan Daerah. Awalnya cuma iseng aja mejeng di rak sastra, ehh tak tahunya mata ini menangkap cover buku yang unik dengan coretan ala doodle-nya. Dan ternyata itu adalah antologi puisi. Setelah dibuka dan diraba-raba, puisinya asyik-asyik. Mbeling sih. Saya kan suka yang nyleneh. Walhasil, dibawalah buku ini ke konter peminjaman dan dibantai dalam satu hari saja hingga terbit review arsurd ini moa ha ha :mrgreen:

Catatan : itu cover jadul, saya gak punya kamera dan gak berniat pinjem smartphone orang, jadi no newest cover untuk review kali ini 😛 Kedua, itu ISBN bisa benar-bisa salah. Pasalnya, bagian belakang bawah buku tempat pencantuman iSBN tertutup kertas kode bacaan :mrgreen:

Ceritanya sih diikutkan dalam :

pbbp

Iklan