Kode Keras Kemanusiaan

CELOTEH JALANAN

Penulis       : M. Faizi
Genre          :  Nonfiksi/ Social Budaya
Penerbit     : Penerbit BASABASI
Cetakan      : Pertama, Agustus 2016
Halaman    : 284 hlm
ISBN              : 978-602-7742-96-3

“Kita melihat orang yang tampak saleh karena busananya, padahal pikirannya jorok dan mesum. Kita melihat orang yang tampak sangat pintar, padahal semua itu bergantung pada jaringan internetnya  karena ilmunya Googleial dan Wikipedial. Kita sering pula melihat orang yang sangat sopan saat bicara tapi sangat kejam di saat yang berbeda. Semua itu bisa dipalsukan. Akan tetapi, di jalan raya, semua sifat asli akan muncul apa adanya, terutama ketika mereka telah berada di belakang kemudia.”— hlm. 40

Yang namanya celoteh, mestilah sekedar omongan kanan-kiri bak anak kecil polos yang sialnya begitu makjleb untuk beberapa kalangan. Dalam esai-esai singkatnya ini, M. Faizi tampaknya memiliki obsesi untuk membenahi carut-marut aktivitas Homo Sapien Indonesia dalam berkendara.

Lebih dari 20 judul esai dalam buku ini penulis paparkan berdasarkan pengalamannya sebagai pengendara sekaligus pengamat jalanan yang tidak dibayar apalagi digaji :mrgreen: , hanya kehendak naluriah kemanusiaan yang ingin agar dunia transpotrasi ke-Indonesiaan ini menjadi lebih baik dan tertib lagi.

Tapi buku ini bukan berisi kumpulan aturan rambu lalu-lintas dan pedoman teknis bagi pengendara. Bukan juga ide-ide pembangunan fasilitas anti macet dan anti ngebut-benjut mutakhir. M. Faizi beranggapan bahwa penertiban lalu lintas di jalan raya sebaiknya dilakukan melalui perubahan pola pikir umum masyarakatnya (para pengendara).

Betapa banyak kita temui masalah-masalah klasik yang saking klasiknya justru jadi artefak kebudayaan khas Homo Sapien Indonesia, seperti macet, parkir liar, tabrak rambu, soal SIM dan STNK, ugal-ugalan, parade klakson, hingga makian kasar yang saling apung-apungan di lembah raya, bahkan makna kata OTW sendiri yang tereduksi secara tidak menyenangkan namun akhirnya dipahami sebagai anggapan umum yang salah kaprah. (On the Way, tapi sebenarnya masih keramas).

Permasalahan-permasalahan itu secara teori memang bisa diatas dengan intensifikasi pemahaman aturan berkendara. Bahkan angka kecelakaan pun minimalnya bisa diatas dengan kepatuhan rambu lalu lintas dan pengaturan kecepatan umum di jalan raya. Lalu kemacetan sendiri dapat diatasi dengan pembatasan jumlah kendaraan di jalan raya atau setidak-tidaknya diurai dengan gerak tangan polantas perapatan dalam memberi kode ke pengendara untuk maju atau berhenti.

Semua unsur itu tidak mungkin belum ada. Pengetahuan rambu lalu lintas, rambu lalu lintas itu sendiri dan polisi yang bertugas pasti bagian dari sistem transpotrasi kita. Tapi kenapa masih saja ada pelanggaran dan kesemrawutan?

“…yang belakangan terus naik peringkatnya adalah hilangnya “rasa mengalah”, seolah jalan raya adalah rimba belantara… semua orang semakin dikejar waktu, karena mereka semakin terburu-buru.”— hlm.112

“…mereka yang meski pun sarjana atau dosen dan bahkan pula tokoh agama, tidak punya kepekaan sosial di jalan raya…”— hlm. 121

“Kita harus menghentikan ambisi untuk memiliki persepsi tunggal bahwa siapapun yang lewat di jalan raya itu adalah sama, yaitu sama dengan pikiran dan persepsi kita. Pemikiran ini harus diubah, bahwa mereka adalah sebaliknya. Mereka tinggal di luar cakupan rencana dan anggapan kita. Di jalanan kita, mereka adalah puisi, sesuatu yang artinya berbeda dengan apa yang ditampakkannya.”— hlm. 34

Beberapa drama jalanan yang M. Faizi uraikan dalam bukunya ini sungguh bagai klakson yang bisa kita bunyikan untuk meredam arogansi berkendara. Bahasanya ringan, dibawa asik, tidak ribet dan karena memang kita semua adalah Homo Sapien Indonesia yang tidak mungkin tidak pernah berkendara, jadi cukup dengan mengingat kembali bagaimana kemarin “gue” menyalip kendaraan, atau bagaimana orang lain misuh-misuh ke kita padahal dia sendiri yang salah tidak pasang lampu sein saat belok dan kita ikut misuh-misuh saat orang lain yang menabrak kita pada kasus yang sama, kita bisa menyamakan suara kemanusiaan di saat yang sama.

Kendati pilihan berkendara adalah urusan kita yang tidak pernah diatur  dalam kitab fikih atau kitab akhlak mana pun, “rasa mengalah” bukan berarti menjadi item langka kemanusiaan. Justru ketika kita merampas hak berkendara secara aman orang lain, boleh jadi kita bakal terhalangi hajatnya : seperti yang jomblo tidak mendapatkan pasangan atau yang sudah menikah tidak kunjung move on dari mantan.

M. Faizi benar-benar tahu bagaimana cara berceloteh. Tulisannya yang lucu, kutu kupret, segar, bikin misuh-misuh sendiri sejatinya adalah potret kita semua. Potret panorama alam berkendara yang bising di satu sisi dan berisik di sisi lainnya (sama saja ding!).
Jika Anda menemukan kecocokan diantara sekian cerita yang disampaikan penulis “jalanan” satu ini, harap misuh-misuh lah secara sportif. Jangan sampai buruk muka cermin di belah khi khi :mrgreen:

Selamat berceloteh!

PIC : divapress.com

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s