UNWIND novel review ~personal version~

UNWIND : Pemisahan Raga

Penulis        : Neal Shusterman, terj. Mery Riansyah
Genre           : Fiksi – Adventure, Dystopian
Penerbit     : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan      : Kedua, Mei 2016
Halaman     : 456 hlm
ISBN              : 978-602-03-2695-5

Mungkin tulisan ini akan sedikit lebih panjang, non EBI, juga spoiler (?). Dan karena versi personal, jadi reviewnya sangat subjektif nan semau-gue. Yaahh…anggap saja sebagai review spesial di tahun 2017  he he

Hehe… *OK stop

 “Aku memang tidak akan pernah menjadi seseorang yang berarti, tapi sekarang, menurut statistik, ada kesempatan yang lebih baik bahwa sebagian diriku akan sukses di suatu tempat di dunia ini. aku lebih memilih sukses sebagian daripada tidak sama sekali”—Samson Ward, hlm. 44

“Kalau tidak ada pemisahan raga,akan ada lebih sedikit ahli bedah, dan lebih banyak dokter. Kalau tidak ada pemisahan raga, mereka akan kembali berusaha menyembuhkan penyakit, bukannya mengganti organ tubuh dengan milik orang lain”—Connor, hlm. 231
“Karena undang-undang bilang begitu, bukan berarti itu salah. Undang-undang ada karena banyak orang memikirkan hal tersebut dan memutuskan kalau itu masuk akal”—Hayden, hlm 235

World building singkat yang cantik.


RUU Kehidupan menyatakan bahwa kehidupan manusia tak boleh disentuh sejak masa pembuahan hingga seorang anak mencapai usia 13 tahun.
Namun, antara rentang usia 13 dan 18, orang tua boleh memilih untuk secara retroaktif “menggugurkan” seorang anak…
…dengan syarat hidup anak tersebut tidak “secara teknis” berakhir.
Proses seorang anak determinasi tapi tetap hidup disebut Unwinding—Pemisahan Raga, dan anak itu disebut Unwind.
Saat ini, Peisahan Raga merupakan hal yang lumrah dan diterima dalam masyarakat.
—hlm. 7

Tidak seperti dunia dystopian yang kental dengan beragam teknologi futuristik maupun sistem kehidupannya yang “nyentrik”, dunia Unwind justru terkesan sederhana namun memiliki konsep yang menarik—Pemisahan Raga—dengan aroma adventure-action yang membuat plotnya bergerak. Topik pilihan Neal ini sungguh provokatif. Menyinggung sakralitas kehidupan dan arti menjadi manusia, berikut berbagai terminologi humanis lain yang terselip diantara dialog maupun deksripsi atau narasi, namun disampaikan secara youthful membuat Unwind terasa menyenangkan saat dibaca.

Blurb yang nge-plot.

Orang tua Connor ingin menyingkirkannya karena ia selalu menimbulkan masalah. Risa tidak punya orangtua dan akan menjalani pemisahan raga untuk mengurangi beban panti asuhan. Pemisahan raga Lev sudah direncanakan sejak ia dilahirkan, bagian dari agama orangtuanya. Dipertemukan nasib, dan dipersatukan keputusasaan, ketiga remaja ini melakukan perjalanan yang penuh bahaya, tahu bahwa nyawa merekalah taruhannya.

Jika bisa bertahan hidup sampai ulang tahun ke-18, mereka selamat. Tetapi,  ketika setiap bagian tubuh mereka dari tangan sampai jantung diincar dunia yang menggila, 18 terasa amat sangat jauh.

Adalah jenis blurb novel yang paling saya sukai. Karena saya termasuk pembaca (pertama by genre dan kedua) by topic, dengan sinopsis singkat yang mengacu pada konflik utama cerita membuat saya mengajukan hipotesis seperlunya lalu tertarik untuk mengujinya dengan membaca hingga tamat sang novel. Yah, saya membaca bukan untuk bersenang-senang melainkan untuk mengetahui sesuatu. Jadi, blurb yang informatif sangat menarik perhatian saya. Hehe :mrgreen:

Novel Unwind sendiri mengisahkan perjalan survival remaja bernama Connor, Risa, dan Lev untuk menghindari proses pemisahan raga yang telah disetujui orangtua/ walinyanya masih-masing. Mereka menolak untuk dipisah-pisah lalu melarikan diri dan sembunyi di sebuah rumah penampungan para Unwind—keberuntungan pertama mereka.

Namun, sayang sekali bahwa Lev tidak bersama Connor dan Risa. Lev sangat bodoh! Dia percaya jika dirinya dijadikan persembahan melalui unwinding karena perintah tuhan di agama keluarganya. Maka dari itu, saat diajak kabur, Lev justru pergi dan “berkelana” sendiri di tengah dunia yang sedang memburunya. Ia berniat untuk menyerahkan diri agar tidak membuat keluarganya repot. Itu lah yang dipikirkannya saat itu. Memang bodoh! Connor sangat geram dengan bebalnya otak Lev yang sudah dicuci dengan doktrin agama konyol  itu sejak dilahirkan. Ia tidak percaya ada seorang Unwind yang bangga dengan dirinya yang hendak dipisah-pisah. Peduli setan, dengan anak itu!—

Tapi tidak! Kali ini mereka dipertemukan kembali di Kuburan Pesawat sang Laksamana. Tonjokan sekuat tenaga Connor daratkan di rahang Lev. Sial! Anak itu sudah membuatnya khawatir. Setelah itu mereka saling berpelukan melepas rindu dan kelegaan karena masing-masing diantara mereka belum dipisah-pisah. Ini sisi tsundere Connor yang sangat manis.
Lama tak jumpa, kini Lev kelihatan lebih keren dan tak cengeng lagi seperti saat pertama bertemu. Connor merasakan ada sesuatu perubahan dalam diri Lev. Tapi, apapun itu, yang penting dia sudah tidak merengek untuk diantar ke Polisi Juvey karena dirinya adalah persembahan yang ingin segera di-unwinding. Pasti sekarang Lev berpikir jika bertahan hidup lebih bernilai ketimbang menjadi persembahan. Bagus! Dia sudah menyadarinya.

Klimaks yang greget.

Kumpulan pelarian unwind berada di satu tempat. Tentu saja banyak sekali karakter anak di dalamnya. Connor sangat membenci Roland. Dia dan gengnya sangat menyebalkan. Bersikap seperti pemimpin, penjilat, juga hampir merebut Risa darinya. Connor merasa Roland adalah ancaman. Dia bertindak seperti si extrovert yang menyusun benteng alami dari kepercayaan banyak orang. Lalu akan berubah menjadi si otoriter dengan alasan “balas jasa” atas perlindungan artifisialnya.

Connor muak. Ia akhirnya lepas kendali dan selalu berkelahi dengannya. Namun, Risa yang cerdik dapat membaca permainan Roland sehingga menyuruh Connor untuk menahan diri atau kau yang hancur! Connor setuju. Kali ini ia menerima nasihatnya. Ia tidak ingin mengacau lagi seperti yang sudah-sudah dan seperti yang dilabeli keluarganya. Anak pengacau. Ia benci itu.

Hingga pada suatu hari keanehan pun terjadi di Kuburan Pesawat. Connor berkubu dengan sang Laksamana dan berusaha menguak misteri hilangnya para unwind. Tapi di sisi lain Roland mencium ada suatu konspirasi yang direncanakan Connor. Hingga mereka saling melempar tipuan, akhirnya terjebak dengan risiko pilihannya sendiri. Connor dan Roland sama-sama diboyong ke ruang penjalagan alias kamp akumulasi—tempat para unwind menjalani sisa hidupnya—dan menunggu waktu untuk segera dipisah-pisah.

Adakah cara untuk mereka meloloskan diri?

Gaya tutur yang youthful dan akhirnya saya salah fokus.

Saya kira kisah pelarian unwind ini akan membawa saya pada suasana mengerikan nan berbahaya. Action yang penuh ketegangan atau bertebarannya berbagai trik dan tipuan ala gangster. Setidaknya, unsur violence cerita-nya lebih kental lah da tema-nya juga pan pemisahan raga; rada-rada  dark gitu.

Tapi-tapi, ternyata Neal menarasikan cerita dengan cantik. Pantas saja di testimoni di blurb buku mengatakan kalau novel ini sangat bernuansa remaja. Memang benar. Selain setelah dipikir-pikir kalau tokohnya juga remaja, cara Neal menuturkan kisah juga sangat fresh dan sederhana. Meski memang tema-nya berat, deskripsi dan dialog-dialog yang terbangun di karyanya tak membuat pembaca merasakan adanya atmosfer mengancam yang begitu serius. Apalagi sampai pembacanya guling-guling melakukan reasoning di setiap paragrafnya—ini maksudnya apa sih? (semacam itu).

Gaya tutur Neal mengalir dengan cara menyenangkan (menyenangkan disini mungkin bisa dibayangkan seperti gayanya Orizuka, Luna Torashyngu, atau Winna Efendi kali yak?) sebagaimana membaca kisah-kisah remaja pada umumnya. Sifat bad boy Connor (yang sekaligus tsundere. Duh, apalagi kalau dia udah mikirin si Lev. Unconscious-male-friendship nya bikin melting deh) yang cukup asik dipelintir-pelintirkan dengan momen so sweet (terutama dengan Risa) membuat saya asa rada-rada geli gimana membacanya.

Alhasil, saya suka senyum-senyum sendiri. Coba deh bayangkan adegan saat kedua tangan Risa berhasil disergap Connor sebelum sempat ia meninju wajahnya lalu mereka saling menatap tajam dan Risa hanya membatin serupa, “kalau gue teriak gue pasti dianggap lemah, cih!” lalu Connor cuma menyeringai menggertak menunjukkan power kelelakiaan (berkuasa) nya biar Risa yang waktu itu mematahkan logikanya bungkam dan membatin serupa, “sepintar apapun elo, elo itu cewek. Cewek itu lemah dan gak bisa apa-apa” semacam itu khi khi :mrgreen:

Dan mulai dari sana lah keinginan saya menghatamkan novel Unwind begitu besar. Akibat tarikan romansa Connor x Risa termasuk friendshipnya Connor x Lev, bukan lagi pada genre apalagi tema pemisahan raga. Yang membuat asyik adalah karena Risa itu cerdas dan digambarkan agak stoik (cewek sok kuat gitu), jadi sering eyel-eyelan sama Connor yang keras kepala dan mudah emosian. Ketika mereka terpisah mereka saling khawatir, tapi kalau sudah berdekatan justru sering berantem tapi dalam hati seneng. Begitu pun dengan Lev. Seringkali kedapatan jaim. Wah! Keremajaan banget kan? Membaca Unwind ini saya jadi merasa ketipu sama Neal. Tapi anehnya, saya justru senang.

Cover dan POV.

Ini bagian yang saya tidak suka dan suka.
Saya tidak suka dengan cover Unwind versi Gramedia 2016. Entah kenapa gambar organ dalam yang sangat catchy ditaruh di bagian tengah buku lalu dipadukan dengan icon alat bedah dan jahitan-jahitan kulit juga ilustrasi kepala pria dan kepala wanita dari samping, membuat gambaran misterius proses unwinding terkesan asal-asalan dan cenderung psikopatik mainstream. Begitu juga dengan font di blurb yang terkesan biasa dengan alignment tak beraturan. Mungkin lebih baik jika di-center saja, biar lebih enak dibacanya.

Kemudian, bagian yang saya suka adalah POV cerita. Menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas, tapi dengan sajian parsial per fokus chara ala penulisan fanfic. Jadi, secara bergantian pengisahan cerita akan bersudut pandang Connor, Risa, dan Lev. Meski ada beberapa tambahan sudut pandang seperti Para Penepuk, Polisi Juvey, Roland, dan lain-lain, tapi intinya cerita dibawakan oleh mereka bertiga. Ini menarik, terutama pas awal-awal.

Saat membaca POV 3 Connor, saya merasa dibawa masuk ke dunia Kafka yang saat itu hendak kabur dari rumah ayahnya. Sama seperti Connor, mereka masih belia, hendak kabur, dan tengah dalam pergulatan yang hebat atas pikirannya tentang kehidupan. Dengan pemutusan cerita yang catchy di sisi Connor, Neal melanjutkan kisahnya dengan POV 3 Risa. Sebuah penuturan yang fresh dan cerdas. Cocok dengan karakter Risa yang serba ingin tahu dan skeptisan. Hingga pemutusan yang catchy di sisi Connor tadi sedikit demi sedikit terangkai menjadi peristiwa integral, Neal pun memasukkan chara ketiganya, Lev, dengan POV 3 nya. Membuat kisah awal pelarian mereka menjadi kesatuan kisah yang utuh lagi menarik.

Sekuel Addict.

Sialnya, seperti novel bantal (maupun semi bantal) pada umumnya, kisah Unwind masih memiliki kelanjutan. Meski termasuk telat saya membaca karya Neal ini—terbitan pertama tahun 2013—berhubung saya sudah terpesona dengan gaya youthful dan momen-momen so sweet nya Connor x Risa x Lev, saya pun memutuskan untuk menaruh Unwholly di daftar belanja buku 2017. Yahh…sebelumnya pernah agak trauma baca Divergent dan Eragon. Mungkin kotak fantasi saya cetek,  jadi enek duluan sebelum mau lanjut ke buku kedua-ketiga-dan keempatnya.

Akhir kata, novel ini asyik. Bahkan ada saat-saat saya menjadi berbalik simpati pada chara Roland. Memang Neal berhasil menyampaikan berbagai sisi karakter fiksinya. Keren!
“Aku masih sangat percaya pada Tuhan—tapi bukan Tuhan yang membenarkan persembahan manusia”—Lev, hlm. 445

Yeay! Owari (^_^)/ *telolet

Iklan

One thought on “UNWIND novel review ~personal version~

  1. Quiana berkata:

    HÃ¥ller med Zejho, har inte heller förstÃ¥tt mig pÃ¥ det där med moddar.Men sÃ¥ spelar jag inte heller pÃ¥ PC nÃ¥ng gÃ¥ng typ.Men ändÃ¥ ett härligt och vÃlkr¤sivet inlägg

    Suka

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s