When Your Soul Turning into the Demon

SEASIDE : dendam takan pernah terhapus waktu

Penulis     : Zee
Genre        : Fiksi / Thriller – Suspense
Penerbit  : Penerbit Senja
Cetakan   : Pertama, 2016
Halaman : 236 hlm
ISBN          : 978-602-391-263-6

Papa sudah dijebak oleh musuh-musuhnya ketika menangani kasus korupsi pejabat. Kini Papa ditahan dengan gugatan ancaman dengan kekerasan, membuat Papa mendekam di Lapas bahkan sebelum proses persidangan dimulai. Cara yang pintar untuk menjatuhkan lawan. Bahkan setelah itu, musuh-musuh Papa bertindak lebih jauh dan membuat nama baik Papa benar-benar tercemar.

Tiffany alias Azzure berencana melancarkan serangan balas dendam paling terstruktur demi Papa tercintanya. Hanya dia satu-satunya orang yang percaya kalau Papa adalah pengacara yang baik, idealis dan menjunjung tinggi keadilan. Tapi, hanya percaya saja tidak cukup. Hukum seringkali nyleneh. Bahkan yang bersalah bisa dibuat tak bersalah atas kepentingan kelompok. Tiffany tidak rela Papa nya menjadi korban ketidakadilan hukum.

“….Mata di balas mata? Why should I Be satisfied with their eyes if I can make them pay with their blood. Decoy is too vegan. I’m carnivorous”—hlm 45.

Bersama partner in crime nya, Tiffany memulai perburuan pertamanya. Mula-mula ia dilatih untuk memperkuat tubuh di gym, menguasai beberapa trik “menguntungkan” seperti kemampuan mencopet, membobol, dan menggunakan senjata. Itu semua adalah modal untuk melancarkan usaha balas dendam.  Kemudian, kemampuan lain harus ia kuasai. Kemampuan yang menjadi kunci utama melancarkan serangan. Being prostitute. Cara paling cepat untuk mendekati pejabat sekaligus cara paling aman dari kecurigaan.

Satu demi satu target Tiffany pun berjatuhan dan ia menikmati setiap tetes darah yang mengalir di tangannya. Alri—salah satu partner Tiffany—tidak menyangka bahwa kliennya akan bertindak sejauh ini. Namun, itu bukan urusannya. Perjanjian Alri adalah membantu Tiffany untuk menghabisi target. Apapun yang terjadi ia akan menutup jejak-jejak mencurigakan bahkan melakukan “finishing” ;  something like vanish the corpses.

“Ketika elo punya rahasia, ada dua cara untuk menghindari diseminasinya : berhubungan sesedikit mungkin dengan orang sehingga nggak ada yang bisa memberikan informasi  apa-apa ke petugas kalau hal buruk terjadi, kedua, be excessively extrovert. Dengan begitu orang-orang akan memberikan  informasi positif. Like ‘tapi dia selalu cerita kalau ada apa-apa, gak mungkin dia kayak gitu’ and so forth”—hlm 102.

Bersama dengan Alri—yang ternyata mahasiswa satu gedung dengan Tiffany di kampusnya—Tiffany memperoleh banyak “pelajaran” dan pengalaman being criminal yang menyenangkan. Sambil mempertahankan status ordinary student di kampusnya, terutama Mia, teman dekatnya, Tiffany menghabisi target-targetnya sesuai rencana dan menyerahkan segala penyelesaian kepada Alri. Kunjungan ke Lapas Papa setiap minggu tak pernah ia lupakan. Bercengkerama sejenak dengan Papa memberi Tiffany kekuatan. Dan tentu saja ia merahasiakan segala rencana balas dendamnya.

Hubungan Tiffany dengan Alri makin intens. Kedekatan membuat benih-benih cinta muncul. Namun Tiffany sadar bahwa ruang di hatinya untuk Alri tak pernah bertahan lama. “Takdir” yang mempertemukannya tidak datang secara baik-baik. Dan kata “baik-baik” sudah terlambat bagi Tiffany.

Target terakhir Tiffany adalah seorang hakim suapan. Meski begitu, ia tak perlu khawatir. Penegak hukum sekelas hakim yang biasanya memiliki penjaga pribadi dan berbagai perlengkapan keamanan termasuk informan andal tak menjadi ketakutan bagi Tiffany. Ia memiliki segalanya. Pengetahuan, tekad, dan Alri. Darah yang melekat sehabis ia melakukan pembunuhan sudah seperti bagian dari warna kulitnya sendiri. Dan mengayunkan pisau, menarik pelatuk, menghantamkan palang besi,  meracun, bukan sesuatu yang berat lagi untuk dilakukan.

Apakah masih ada tempat untuk nurani? Apakah dia masih mampu memaafkan?

Kalimat terakhir yang ada di blurb sebagaimana di atas sungguh menarik. Tema balas dendam memang tak pernah membosankan untuk dijadikan sebagai hiburan di kala penat. Meski pada umumnya kisah pembalasan dendam berakhir dengan tragis—sejak awal balas dendam memang bukan sesuatu yang baik untuk dilakukan, of course causing some down on luck—namun mengetahui bagaimana sang tokoh melancarkan aksinya adalah kesenangan tersendiri. Bagi pembaca yang merasa dirinya psikopat—atau cobalah sesekali mempsikopatkan diri, it’s gloriously happy :mrgreen: —novel besutan Zee ini memberi banyak ruang untuk pikiran melanglang buana ke alam tergelap manusia. Memberi referensi skenario kehidupan berikut nilai-nilai yang mesti ditegakkan.

Ditulis dengan gaya metropop, Seaside sungguh asyik untuk diikuti. Memang banyak sekali bentuk code switching di berbagai dialog, namun justru di sini lah kekuatannya. Ada beberapa percakapan yang hanya asyik jika diucapkan dengan bahasa Inggris.  Namun juga tekadang membuat dialog terkesan rumit. Terutama pada saat tokoh menggunakan bahasa Inggris dalam dialog yang agak panjang. Untuk pembaca yang berjiwa locality seperti saya, membaca dialog bahasa Inggris seperti menjauhkan kesadaran yang sudah ada menuju realita yang baru. Saya tidak tahu istilahnya apa. Like local is something mystical and modern is so technical he he…. Saya tahu, misteri yang ditawarkan berbeda.

But, as a whole novel ini asyik. Kekuatan “psikopat”nya tak melulu datang dari bagaimana cara Tiffany menghabisi target-targetnya. Justru, dialog-dialog berbahasa Inggris di dalamnya itu lah yang membuat novel ini terasa “mengerikan” dan thrust into the soul.

Apakah kalian pernah terlintas untuk membalas dendam? *winked

[gambar : goodreads.com]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s