[review] Menyegarkan Kembali Gagasan Islam

Kun Fayakun La Takun

Penulis      : Irfan L. Sarhindi
Genre       : ISLAM
Penerbit   : Bunyan
Cetakan    : Pertama, September 2013
Halaman   : 198 hlm
ISBN         :  978-602-7888-45-6

Manusia merupakan makhluk yang dianugerahi peranti untuk mengenali pekerjaan dengan baik. Peranti yang tidak lain otak itu memungkinkan manusia untuk beprikir dan mengambil keputusan dengan bijak dalam menghadapi kehidupannya. Dengan daya nalarnya, manusia hadir sebagai makhluk yang selalu bertanya, memperkuat alasan-alasan dan mencari-cari pembenaran dalam segala hal termasuk dalam konteks beragama.

Pertanyaan-pertanyaan seputar agama bak lautan tak bertepi dan menuntut sepenuhnya pikiran. Namun begitu, bukan berarti manusia harus mempertanyakan segalanya dengan getir dan mengusung skeptisme di segala tempat. Justru pembatasan-pembatasan adalah keniscayaan karena nalar manusia tak akan sanggup meraup ilmu Tuhan. Sebuah kebijaksanaan jika membatasi tafakur terutama pada persoalan ketauhidan mengingat kekhawatiran akan datangnya kufur.

Buku ini, sebagaimana aku penulisnya, merupakan kumpulan pertanyaan keagamaan yang menggelitik dan cukup menggelisahkan serta menuntut ingin dicari pembenarannya. Bagaimana tidak?

“Jika Allah Maha Kun Fayakun, kenapa Dia butuh 13,7 milyar tahun untuk menciptakan alam semesta? Jika sejak awal manusia diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi, kenapa Dia memanpirkan nenek moyang kita di Taman Surga? Jika Islam adalah sebenar-benar rahmat kepada semesta, kenapa haya satu dari empat khalifah pertama yang meninggal tanpa dibunuh?”

Tanpa disadari, pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut telah menguji kesungguhan keimanan dan wawasan hikmah kita dalam ber-islam. Mencari jawaban adalah cara yang dapat ditempuh untuk sekedar mereguk makna perbuatan-perbuatan Tuhan. Meski tak selalu berujung pada titik terang, yang perlu disadari adalah bahwa ilmu-Nya lebih luas ketimbang otak manusia—kendati sebegitu besar potensinya ketika digunakan secara maksimal—menurut ilmu-ilmu eksak.

“Berlaku adil lah karena itu lebih dekat kepada takwa. Jika engkau mampu berkeluh kesah atas semua kegagalanmu, mengapa pula engkau lupa setiap kemenangan yang Allah hadirkan ke dalam hidupmu”

Buku ini terdiri dari 17 esai yang terbagi ke dalam 4 bagian. Pertama, mengenai kontemplasi dalam rangka memahami Islam. Kedua, mengenai toleransi dalam keberagaman dan ikhtilaf. Ketiga, mengenai tafsir kontemporer dan keempat, mengenai Hari Kiamat. Semua tema tersebut diangkat dari “tafakur”penulis atas pertanyaan-pertanyaan seputar Islam dan cara berIslam.

Kehidupan semakin kompleks dan rumit seiring bertambah dewasanya pemikiran manusia. Dunia tak lagi sekedar hitam dan putih, namun lebih runyam dari itu. Batas-batas kebenaran dan kebatilan berbaur dan berkelindan menjadi satu pintalan sehingga menuntut manusia bersungguh-sungguh dalam menegakkan keadilan. Tak pelak lagi, amar makruf nahyi mungkar bak medan tempur. Manusia dihinggapi kegamangan karena tak cukup keberanian—apalagi ilmu—dalam menegakkannya dan tak kuat rasa dalam menahan berbagai cela yang kemungkinan menimpanya.

“Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah d engan lisannya, jika tidak mampu hendaknya ia mengubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah—HR Muslim”.

Buku ini begitu menyegarkan kembali gagasan Islam dalam benak pembaca. Di balik setiap pembahasannya senantiasa terdapat renungan yang kemudian dapat digunakan pembaca sebagai media mengevaluasi diri dan mengukur tingkat keimanan. Tak perlu ambil pusing dengan penggunaan bahasa yang rumit , buku ini ditulis dengan gaya esai personal yang lebih padat sehingga lebih mudah dipahami.

Sesungguhnya, perbuatan-perbuatan manusia tak lepas dari alasan pembenar dan kuatnya dasar keimanan. Adapun, berbagai rintangan, kesulitan dan perbedaan-perbedaan yang niscaya merupakan jalan Tuhan dalam rangka membimbing hamba-Nya untuk menyadari betapa kuasanya Tuhan Alam Semesta, Allah SWT. Terakhir, Prof. Komaruddin Hidayat mengungkapkan,

“Sikap lapang dan rendah hati sangat diperlukan dalam beragama. Alasannya sederhana saja. Manusia itu memiliki kelemahan dan keterbatasan, sedangkan Tuhan dan ajaran-Nya sangat mulia dan absolut. Dengan demikian otak manusia yang terbatas tentu tak akan sanggup menampung dan memahami yang absolut. Jadi, menganggap pemahaman kita tentang Tuhan dan ajaran-Nya bersifat mutlak dan pasti benar adalah kesimpulan yang salah”.

[gambar : goodreads.com]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s