Trigatra Kemerdekaan yang Tak Pernah Hilang Cerita

Seteru 1 Guru

Penulis   : Haris Priyatna, penyunting : Agus Hadiyono
Genre      : Fiksi/ Sejarah
Penerbit  : Qanita
Cetakan   : I, April 2015
Halaman : 260 hlm
ISBN        : 978-602-1637-78-4

Tidaklah wajar melihat negeri ini menjadi sapi perahan. Diberi makan hanya untuk diambil susunya! Bangsa-bangsa asing hilir mudik datang mengangkut hasil bumi kita. Sementara kita tidak diperbolehkan memperbaiki nasib sendiri. Ini suatu kekeliruan yang harus kita luruskan!—hlm 64

Suara Tjokro lantang menyerukan semangat perjuangan yang lantas membuat Soekarno kecil terpukau. Siapakah gerangan lelaki gagah itu? Mengapa ia begitu dihormati oleh banyak orang, begitu pikirnya.  Jalinan takdir pun mempertemukan mereka. Selepas Soekarno lulus dari ELS (sekolah pendidikan dasar setara dengan SD), ia berangkat ke Surabaya untuk menempuh pendidikan di HIS (sekolah lanjutan tingkat menengah) dan tinggal di jalan Peneleh Gang VII.

Bersahabatkan Musso, seorang pria tukang pukul bertubuh gempal, mereka menjalani pendidikan,  baik di sekolah maupun di kamp Tjokro sembari merajut mimpi-mimpi akan sebuah kebebasan yang memerdekakan. Belenggu penjajah kala itu telah banyak membuat rakyat menderita dan kehidupan layak yang diharapkan setiap orang musnah. Belanda datang menguras sumber daya alam, menumpuk kekayaan dari jerih keringat rakyat dan berbuat sewenang-wenang dengan bertindak sebagai “tuan tanah” yang keji.  Satu-satunya keberuntungan Soekarno adalah karena ia terlahir dalam keluarga priyayi sehingga mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Kegeraman semacam itulah yang mendorongnya begitu pun Musso untuk serius belajar sembari mendalami masalah kenegaraan dalam bimbingan sang guru, H.O.S Tjokroaminoto. Seorang ketua Sarikat Islam yang kala itu sosoknya begitu dihormati sehingga dikenal dengan sebutan Raja Jawa Tanpa Mahkota. Tinggal dalam naungan yang sama, Soeakarno dan Musso muda digembleng dan dididik keras hingga ketiganya belajar tentang makna kemerdekaan, kebebasan dan kebenaran dalam berbangsa. Inilah cikal bakal ideologi bangsa yang diperjuangkan mati-matian .

Kartosoewirjo adalah sosok yang muncul belakangan. Kehadirannya menjadi sahabat baru Soekarno dalam berbagi semangat karena Musso telah lulus lebih dulu. Namun, karena ikatan ketertarikan yang sama akan cita-cita kemerdekaan, lantas membuat hubungan mereka tak pernah putus. Dalam berbagai kesempatan, baik Soekarno, Musso maupun Kartosoewirjo selalu belajar kepada Tjokro dan turut aktif di Sarekat Islam. Semangat perjuangannya semakin tebal dan usahanya mengusir Belanda kian kerap.

Tetap bersabar dalam perjuangan. Sebuah tujuan besar harus diraih dengan kesabaran dan siasat yang tepat. Tujuan yang besar membutuhkan perjuangan dan kesabaran yang besar pula. Bertindak gegabah dan terburu nafsu justru bisa menghancurkan perjuangan itu sendiri sebelum sempat berubahd an berkembang. Rancanglah siasat dengan rapi dan bertahap, lalu jalankan dengan penuh kedisiplinan dan kesabaran. Jangan mengutamakan kepentingan sendiri dalam perjuangan. Dahulukan kepentingan orang banyak—hlm 105

Namun siapa sangka bahwa perjalanan sejarah menuntut hal lain. Ketiga murid Tjokroaminoto tersebut mau tak mau berpisah jalan dan menempuh keyakinan kemerdekaan bangsa dengan laskarnya masing-masing. Musso yang mendapat kesempatan untuk “berkarier” di Rusia dimana basis komunis berada telah terpengaruh pola pikirnya dan kian radikal. Ia menuduh pemerintah telah menjual negara dengan menyetujui perjanjian Linggarjati dan Roem Royen sehingga kedaulatan Indoensia kala itu makin sempit dan Hindia makin menjadi boneka Belanda. Soekarno yang bertahan di kubu nasional mendapat tekanan dari berbagai pergerakan internal yang mengatasnamakan diri sebagai revolusioner. Sementara Kartosoewirjo bersikukuh dengan ideologi Islamnya dan memaklumatkan Indonesia sebagai negara berbasis Islam serta merancang perlawanan sendiri dengan laskarnya.

Terdapat sebuah seteru yang menghasilkan persimpangan paham. Pengalaman, lingkungan dan barangkali ambisi mereka masing-masing membentuk jalinan pikir seperti bangunan limas, namun justru tidak bertemu pada titik akumulasi yang sama. Pertemuan kembali pun menjadi area nostalgia berdarah. Perselisihan paham membuat ketiganya harus saling menumpas.

Novel Seteru 1 Guru ini sukses menampilkan kembali kelindan pemikiran yang mendalam. Tak berlebihan jika membacanya sama dengan menziarahi sejarah perjuangan bangsa, sebagaimana ungkap Yudi Latif dalam endorsemennya. Di tangan Haris Priyatna, suguhan peristiwa politik serius menjadi ringan namun tetap berbobot ketika dibaca. Meski ia sendiri menegaskan bahwa novelnya tak memuat temuan baru baik tentang tokoh utama kisahnya—H.O.S Tjokroaminoto, Soekarno, Musso, dan Kartosoewirjo— maupun tentang peristiwa-peristiwanya—Pemberontakan G30S/PKI, Peristiwa Madiun dan Gerilya DI/TII— namun sentuhan narasi fiksinya mampu membuka kunci-kunci refleksi semangat kebangsaan.

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s