[review] Men-sakinah-kan Qalbu dan Men-thuma’ninah-kan Nafs

The Power of Sakinah – Agar Engkau Tenang

Penulis     : Zainul Muttaqin Yusufi
Genre       : Islam/ Akhlak
Penerbit   : Fima Rodheta
Cetakan    : II, Januari 2010
Halaman  : 379 hlm
ISBN         : 978-979-1039-11-6

[maaf sebelumnya cover buku tidak saya temukan setelah browsing di google. berhubung hape saya jadul, saya pun tak kuasa memfoto sang cover buku. he he 🙄 ]

Awalnya saya ragu dengan buku ini karena tampilannya luarnya yang tak sreg dengan mata dan judulnya yang terkesan meniru sebuah frase populer. Dominan warna covernya pun gelap sehingga mengingatkan saya akan koleksi-koleksi di rak yang membahas misteri dari sesuatu. Misteri shalat, misteri kiamat, misteri alam gaib, dan misteri lainnya. Namun terlepas dari bagaimana buku ini terlihat, sudah jelas bahwa konten yang dibahas sangat dekat dengan pembahasan buku-buku tazkiyatun nafs, kategori buku favorit saya. Buku hasil pinjaman berbulan-bulan lalu ini akhirnya teman saya tagih. Review lantas saya buat dan segera mengunggahnya ke Panda Kapiler :mrgreen:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : “Kami telah beriman”, sedang mereka  tidak diuji lagi? (29: 2)

Ujian adalah motor penggerak kurva y kehidupan. Tanpanya, kita tidak tahu mutu dan kualitas kehidupan meningkat atau justru malah menurun. Ujian dibutuhkan oleh seorang manusia agar ia mampu meraih derajat di sisi Allah dan melangkah ke maqam yang lebih mulia. Ujian adalah rahmat untuk seorang hamba menggapai rahimNya. Maka dari itu orang beriman pasti diuji. Karena jalan rahim satu-satunya adalah melalui ujian. Dengan begitu, Allah akan menetapkan siapa kekasih yang sangat dicintaiNya.

Bersyukurlah jika diuji, karena itu artinya kalbu masih memiliki iman. Kemudian, perkuat iman itu dengan menghadapi ujian tersebut secara arif. Lantas, bagaiman menjadi arif?

Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (48: 8)

yaitu dengan Ketenangan alias SAKINAH.

Terlepas dari hakikat makna, sakinah adalah kata yang tak asing dalam kehidupan sehari-hari kita akibat penggunaan istilah “keluarga sakinah-mawaddah-warrohmah” yang sejak dulu sudah ngtrend sebagai ucapan selamat paling  mainstream dalam acara walimahan.

Ternyata, istilah sakinah itu tak hanya berkaitan dengan urusan rumah tangga. Bahkan secara konteks dalam ayat yang turun justru berbicara tentang hijrah, perang Hunain, haji, bai’at Ridwan dan perjanjian Hudaibiyah yang dianggap sebagai kemenangan besar oleh para sahabat. Dan secara global, sakinah merupakan sikap yang diperlukan untuk mengantarkan kalbu kepada ketaqwaan dan meraih derajat.

Pembahasan yang ditawarkan dalam buku sangat jelas. Agar Engkau Tenang. Karena ketenangan selalu diperlukan dalam menanggapai situasi yang tiba-tiba berubah dratis. Ketenangan pun diperlukan dalam setiap gerak tindakan sehari-hari. Misalnya dalam mengambil keputusan, seseorang harus menyertakan sikap tenang agar tak dikendalikan oleh emosi. Itulah mengapa seorang hakim yang marah tidak berhak memutus perkara sebelum ia tenang. Pun dalam shalat. Setiap rukun yang ditunaikan hendaknya dilakukan secara sakinah dan thuma’ninah.

Sakinah dan thuma’ninah? Apa hubungan mereka? Secara bahasa mereka memiliki makna yang sama, bahkan sering disinonimkan. Namun, dalam hal sasarannya terdapat perbedaan diantara keduanya. Sakinah tertuju kepada ketenangan  kalbu agar tidak bergejolak, sedangkan thuma’ninah tertuju pada ketenangan nafs/ jiwa/ mind. Jika sakinah konsolnya jantung, maka thuma’ninah konsolnya akal.

Belajar melakukan pengendalian diri adalah teknik terbaik dalam menghadapi ujian. Jika diri terkendali dengan sikap sakinah dan thuma’ninah, maka seberat dan seperih apapun jalan Allah yang ditetapkan atas hambaNya hanya membuatnya semakin cinta kepadaNya.

Atha’illah bilang siapa yang mengira kemahalembutanNya terlepas dari kemahakuasaanNya, berarti ia memiliki pandangan sempit.

Salah satu tanda lemahnya iman adalah tidak mampu melihat lembutnya takdir.

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s