[review] Membumikan Idealisme atau Tidak Sama Sekali

Orang-Orang Proyek

Penulis   : Ahmad Tohari
Genre     : Fiksi/ Slice of Life
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan  : II, Oktober 2015
Halaman : 256 hlm
ISBN       : 978-602-03-2059-5

Sekilas saya melirik cover novel ini seperti umang yang berjejer. Backgroundnya putih dan kesederhanaannya justru lebih mencolok dari sekian cover novel lainnya yang berwarna-warni. Saya baca blurb-nya pun jelas terungkap menggambarkan isi cerita. Tanpa pikir panjang, novel Ahmad Tohari yang terkenal dengan kisah relitas sosialnya ini saya bawa ke meja kasir. Dan setelah sampai di rumah, mulai lah saya menyelami dunia idealisme seorang insinyur Kabul dalam proyek pembangunan jembatannya di Sungai Cibawor.

Novel ini menceritakan sebuah pergulatan antara kesungguhan seorang pekerja profesional yang idealis dengan format sistem berpenyakit sebagai realita. Ir. Kabul namanya. Seorang kepala proyek mantan aktivis itu pusing tujuh keliling karena harus mengulang proyek dari awal akibat banjir menerjang sungai dan membuat beton pancang miring. Hal ini membawa beban batin karena dalam beberapa hari saja, biaya jutaan rupiah lenyap terbawa bah.

Selama mengawasi, hari-hari berjalan cukup lancar. Kabul selalu memperhatikan bagaimana pekerjanya dan menimang situasi sedemikian rupa agar terjadi kenyamanan diantara mereka. Warung Mak Sumeh yang seolah menjadi sebuah karavan bagi para pekerja siang malam selalu dihiasi oleh candaan khas pekerja kasar dan tawa keras para pekerja proyek. Kabul memperhatikan hal tersebut. Ia bersyukur jika para bawahannya masih dapat “menikmati” makan siang dan makan malamnya tatkala waktu istirahat tiba.

Tapi pergulatan yang sesungguhnya datang, membuatnya makin pusing tujuh keliling dan beretoris ria dengan pertanyaan tentang kejujuran dan profesionalitas. Ia seorang insinyur, orang pintar. Orang yang mengerti tentang ilmu rancang bangun jembatan. Tahu risiko dan proyeksi perhitungan. Lagipula, ia mantan aktivis. Seorang yang bertindak berdasarkan setidaknya pada kebenaran dan keberpihakan pada yang lemah atau yang tertipu muslihat. Dipadupadankan dengan posisinya sekarang, menjadi seorang idealis yang bekerja secara profesional rasanya tak mungkin melawan seabreg realitas yang terjadi dalam proyeknya.

Ada sebuah korporatisme yang harus ia lawan. Idealismenya tak mampu bertincak secara revolusioner demi pembangunan jembatan yang amanah. Kabul sebut amanah karena biaya membeton, mengaduk semen, dan membayar para pekerja adalah biaya rakyat juga. Apa daya, logika politik akhirnya mengambil posisi setiap domain  konflik. Kabul terbang bagai anai-anai.

Ketika membaca novel ini, saya langsung membayangkan proyek pemerintah kota Jogja yang sedang mem-batu-andesit-kan jalanan 0 km. Saya jadi berpikir, proyek bernilai lebih dari 50 milyar itu yang pada akhirnya diinjak-injak saya (kebetulan tadi sore ke Gamping) apakah berasal dari kelihaian korporatisme atau hasil pergulatan yang sama sebagaimana Insinyur Kabul dalam novel Ahmad Tohari ini. Ahh…saya rasa itu opini dliuar review ha he 😛

Ada yang saya kira khas dari kisah Orang-Orang Proyek ini. Sebagai sastrawan yang budayawan, Ahmad Tohari selalu membawa sebuah relitas kalangan masyarakat bawah yang paling magi sekalipun. Sebuah keyakinan animis penduduk desa sekitar proyek menjadi kesegaran tersendiri bagi saya selain tenggelam dalam warna konflik Kabul yang idealis dengan permainan politik yang terjadi dalam wujud pembangunan jembatan itu. Disisipi oleh semai-semai cinta membuat cerita idealisme Kabul benar-benar romantis. Romantis dari segi sentimennya, dan romantis dalam artian tak bakunya (percintaan).

Iklan

5 thoughts on “[review] Membumikan Idealisme atau Tidak Sama Sekali

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s