[review] Persahabatan yang Adil dan Beradab

Belajar Bersahabat – Petunjuk Nabi Agar Menjadi Pribadi Menarik dan Menyenangkan

Penulis   : Ahmad Mahmud Faraj, terj.
Genre      : Islam/ Akhlak
Penerbit : Zaman
Cetakan  : I, 2013
Halaman : 208 hlm
ISBN        : 978-979-024-342-2

Mungkin banyak dari kita yang sudah membaca karya-karya perihal pengembangan dirinya Dale Carnegie. Siapa juga yang tak kenal dengan 7 Habits-nya Stephen R. Covey. Teori Jung dan eneagram hapal diluar kepala. Kita pun pandai mengklasifikasi karakter pribadi ke dalam dua kutub besar introvert dan ekstrovert. Adapun 4 model yang sudah sangat akrab yaitu melankolis, pragmatis, koleris, dan sanguinis tak ketinggalan memenuhi kotak pengetahuan di kepala kita.

Setidaknya, sederetan karya mendunia diatas telah mempengaruhi pola pikir dan tindakan kita.  Tak dapat dibantah lagi bahwa mengetahui karakter posisi baik diri sendiri maupun lawan bicara membantu dalam kelancaran komunikasi dan hubungan sesama. Namun, sesungguhnya, umat Islam memiliki sumber autentik yang mesti dibanggakan selain melahap beberapa karya tersebut sebagai makanan pengganjal perut.

Jika beberapa nama penulis buku diatas merupakan motivator dunia, masih ada sosok motivator yang menjuarai tangga motivator seluruh manusia di alam ini. Ajarannya tidak hanya mendunia, tapi juga meng-akhirat, karena bersumber dari wahyu. Yep. Siapa lagi kalau bukan Rasulullah SAW. Seorang manusia utusan Tuhan yang bertugas memperbaiki akhlak manusia. Seruannya mengajak umat untuk saling bersahabat dan menebarkan kasih sayang. Dan inti dari tindakan itu adalah kebagusan perilaku.

Jika Buku Pintar Akhlak-nya Amr Khaled bebicara mengenai tata beradab dengan sesama atau karya yang lebih klasik lagi, yaitu karya akhlak muslim-nya Al Ghazali menjabarkan bagaimana hendaknya manusia saling berhubungan, maka buku Ahmad Mahmud Faraj ini, dengan bahasanya yang ringan dan menyenangkan mengajak pembaca untuk belajar bagaimana cara bersahabat dan menjadi pribadi menyenangkan ala Rasulullah. Sekilas, tema pembahasan buku terasa sangat umum dan akan terkesan sama dengan buku-buku akhlak lainnya.

Tapi, setelah menyelami daftar isi maka akan terasa perbedaannya. Buku ini lebih menitik beratkan pada etika persahabatan dan persaudaraan. Pemilihan kata persahabatan membuat buku ini terasa teens-nya.  Dalam usia itu, bayak diantara mereka yang mulai mempertanyakan apakah arti persahabatan? Bagaimana cara bersahabat sehingga disenangi banyak orang? Sementara sebagian orang mencari jawaban atas pertanyaan itu melalui majalah teens atau situs gaul, buku ini loh yang  saya rasa cocok untuk menjadi rujukan. Selain sahih, juga bersumber dari pribadi Rasulullah, manusia teladan umatnya. Bukan majalah teens atau situs gaul yang referensinya tidak jelas  he he:P

Tapi, jangan khawatir bagi pembaca yang sudah mangkat dari kategori teens :mrgreen: Buku ini sangat cocok dirujuk oleh semua kalangan. Bukankah mempelajari etika tidak dibatasi usia? Selain itu, bukankah belajar adalah kegiatan sepanjang hayat? Wahh…filosoifs sekali. Berat.

Hal menarik dari pembahasan akhlak dalam buku kecil ini adalah kutipan-kutipan yang sangat menyentuh kalbu bahkan bagi saya banyak diantaranya merupakan sindiran. Buku ini cukup kejam, jadi berhati-hatilah pembaca yang belum menyadari akan keinginan untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik he he 😛

 “Jika kau menemukan sesuatu yang kau benci pada diri seorang sahabat, atau sebuah cela yang tidak kau sukai, jangan putuskan hubungannya dan jangan rusak jalinan kasih sayangnya. Perbaikilah tutur katanya, tutupi kekurangannya, biarkan dia apa adanya”

“Kesuksesan seseorang dalam kehidupan sosial bergantung kepada kemampuan mengekspresikan diri saat membutuhkan sesuatu. Kita hanya perlu memperlajari beragam trik yang dapat memperbaiki gaya bicara kita

Itulah mengapa buku-buku semacam public speaking perlu juga kita baca. Yahh…setidaknya bagi kutu buku yang kesulitan bagaimana bicara di depan banyak orang perlu belajar lebih giat lagi.

Buku ini semacam mukhtasar alias ringkasan tentang bab adab bersahabat. Kenapa saya sebut mukhtasar? Karena pembahasannya merujuk kepada berbagai kitab akhlak ulama terdahulu dan tentu saja hadis atau atsar dan perilaku Nabi sendiri. Siapa yang tidak tahu Ihya’-nya Al Ghazali. Kitab tasawuf kenamaan yang menjadi masterpiece ilmu pengetahuan di Barat dan Timur. Adapun buku ini mengutip kitabnya Ibn Hazm, Ibn Maskawih, Imam Mawardi, Minhajul Qashidin-nya Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Bustan al ‘Arifin-nya Imam Nawawi, dan pesan-pesan Ali serta Umar yang begitu mengena.

Sebagaimana yang ditulis dalam blurb, buku ini diselingi dengan kisah menggunggah dan kita sederhana tapi mengena. Buku ini menuntun pembaca tak saja menjadi pribadi memikat, tapi juga mulia dan bermartabat.

Etika bertamu, etika menyambut tamu, etika berbicara, hal-hal yang dilarang dalam pergaulan seperti sifat sombong dan dengki termasuk pembahasan tentang bagaimana memelihara hubungan dengan mengetahui hak-hak persaudaraan dan penunaiannya dibahas secara padat dalam buku ini. Dan seperti yang telah kita yakini bahwa bersahabat adalah kemampuan dasar yang dengannya derajat kemanusiaan kita terangkat. Manusia baru bisa disebut manusia ketika ia mampu memanusiakan diri dan memanusiakan orang lain. Dengan apa memanusiakan manusia? Jawabannya mudah. Yaitu dengan akhlak.

Sebagai rujukan kecil, buku ini mengajak pembaca bagaimana menjadi manusia yang memiliki jiwa kemanusiaan. Sebagaimana sila kedua Pancasila : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Apa perlu kita ubah pernyataan ini lebih teens lagi dengan Persahabatan yang Adil dan Beradab? Ha ha…saya rasa sangat konyol.

Mari tutup review ini dengan kutipan mendalam berikut :

“Tidak ada yang lebih berharga daripada mendapatkan cinta orang-orang sekitar kita. Sebab, cinta orang lain pada kita adalah bukti cinta Allah pada kita”—sambil baca hadis ke-13 ‘Arbain.

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s