[review] Sepenggal Babad Persaudaraan dan Martabat

The Rise of Majapahit

Penulis   : Setyo Wardoyo
Genre      : Fiksi/ Historical
Penerbit : Grasindo
Cetakan  : Pertama, 2014
Halaman : 399 hlm
ISBN  : 978-602-251-826-6

“Hancurkan Mongolia!!”

Teriakan lantang Raden Wijaya menjadi api semangat para prajurit untuk mempertahankan kerajaan. “Pilar utama” Majapahit itu tengah menyusun rencana kembali merebut kekuasaan Sri Jayakatwang sekaligus mempertahankan tanah Jawa dari invasi pasukan Mongolia. Peristiwa runtuhnya Singosari dan jatuhnya kekuasaan Tumapel oleh Gelang-Gelang, kerajaan bawahannya, begitu memilukan. Sebagai satu-satunya panglima perang yang tersisa, Raden Wijaya dan beberapa perwiranya meminta suaka politik dari seorang adipati Sumenep (Madura).

Atas sarannya, Raden Wijaya kembali ke Jawa dan berserah kepada Sri Jayakatwang yang telah mendirikan kerajaan di Kediri. Ia menyatakan tunduk dan meminta sebidang tanah di Hutan Tarik yang kelak digunakannya untuk membangun benteng. Suatu hari seorang pekerja dari Madura memakan buah pohon maja dan ternyata rasanya sangat pahit, dan sejak itu Desa Tarik dinamakan Desa Majaphit. Sebuah Desa yang membuat “debut kekuasaan” dengan sang inkubator Raden Wijaya sendiri.

Pada 1293 pasukan Mongolia datang membawa titah hukum dari Kubhilai Khan atas penghinaan Raja Singosari terdahulu karena telah menolak mentah-mentah dan berani memotong telinga utusan Mongolia yang hendak mengukuhkan kedaulatan dinastinya di tanah Jawa. Memanfaatkan situasi, Raden Wijaya pun berkudu dengan pasukan Mongolia yang dendam itu untuk sama-sama menghancurkan Singosari, menghancurkan eks Singosari atau siapapun penerusnya yaitu Sri Jayakatwang di Kediri.

Namun, tak mau menjadi boneka kekuasaan Mongolia, Raden Wijaya pun melancarkan taktik. Ia berusaha meyakinkan Mongolia atas kesepakatannya untuk tunduk setelah membantu menghancurkan kerajaan Kediri, akhirnya Majaphit bergandeng tangan menyusun rencana penyerangan bersama. Setelah istana Kediri luluh lantah dan Sri Jayakatwang beserta Ardaraja, anaknya ditawan, saat pasukan Mongolia menikmati kemenangannya, disitu lah Raden Wijaya bersama panji-panji Majaphit menggempur habis Mongolia hingga tercerai berai dan sebagian yang selamat melarikan diri kembali ke negerinya. Kembali membawa hadiah kekecewaan karena tak berhasil mendapat pengakuan dari tanah Jawa. Murka Kubhilai Khan menanti di Mongolia sana :mrgreen:

Majapahit. Tak berapa lama, “desa debut” itu akhirnya menjadi awal sebuah dinasti baru di bumi Nusantara. Dan Raden Wijaya lah yang kemudian menjadi Rajanya.

Hyaaahh…sudah pasti nama Raden Wijaya tak asing di telinga kita para pembaca yang pernah belajar IPS Sejarah di SMP dahulu kala. Karena keseringan tidur di kelas (saking boringnya ceramah guru), baru kali ini saya bersemangat dengan kisah awal mula kemunculan kerajaan Majaphit. Melaui novel ini, Pembelajaran sejarah menjadi lebih menarik. Meski dalam kemasan fiksi namun mampu membangun ketertarikan terhadap sejarah dan asal usul negeri sendiri 😀

Memang. Tak sedikit novel sejarah yang menceritakan tentang kelahiran kerajaan Majapahit. Di tengah tren karya kolosal, The Rise of Majaphit seolah menjadi oase tersendiri di kalangan pembaca novel fiksi sejarah lokal. Setyo Wardoyo yang bekerja di bidang jurnalistik, meski dirinya tidak mengaku sebagai penulis, karena pengalamannya dengan beberapa teman sineas membuatnya cukup mumpuni dalam menulis sebuah screen play film sejarah kolosal. Dan salah satunya, The Rise of Majapahit ini, yang merupakan adaptasi screen play garapannya. Disusun berdasarkan hasil riset dan berbagai literatur sejarah membuat karya fiksi yang kental aroma Hindunya ini cukup terpercaya sebagai sumber pembelajaran sejarah. Penuturannya yang apik dan pemilihan cerita yang tepat menambah unsur dramatis kisah sejarah, membuat pembaca seolah tehanyut dalam simulasi yang menegangkan.

Tak ada sesuatu yang saya sukai tak memiliki kekurangan. Sebuah desain vector yang menghiasi lingkup judul dan sub judul novel ini cukup mengganggu pikiran saya. Sebuah bercak berbentuk hati di tengah desain framenya membuat saya illfeel. Novel fiksi sejarah yang bercerita tentang perang dan pengkhianatan harus dikemas dalam desain vector berbentuk hati! Tentu saja kurang cocok. Kecuali jika novel ini memang menjadikan kisah romansa sebagai konflik utamanya 🙄

Namun dari segi cerita, novel ini, khususnya penggalan kisah sejarah ini cukup mengusik hati saya selaku pembaca. Dramatis. Indah sekaligus mendebarkan. Selain itu, banyak sekali tokoh penting lain yang menghiasi cerita sehingga bisa dibayangkan sendiri bagaimana rupa dan penampilannya. Saya jadi ingat anime Sengoku Musou yang sama-sama saya puji berkat pemilihan ceritanya. Penulis begitu cerdas menjadikan suatu peristiwa atau konflik menjadi begitu dramatis dan mendalam. Tak hanya itu, tema sejarah yang begitu berat di pundak, dibawa secara mengalir dan hasilnya adalah pemahaman yang cukup komprehensif terhadap peristiwa sejarah tertentu. Tak lupa unsur dramatis yang terngiang-ngiang di kepala. Dan tentu saja, ketertarikan untuk mempelajari sejarah.

Meski banyak buku lainnya yang dapat dijadikan media pembelajaran sejarah, tak ada salahnya mengacungi The Rise of Majapahit ini 5 jempol (2 jempol tangan dan kaki dan pinjem jempol tangan mamah).

Yeayy!! Hebat! Semangat belajar sejarah

gambar : [ majapahit online]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s