[review] Menghindari Turunnya Azab Atas Umat

Rahasia Amar Ma’ruf Nahi Mungkar : Percikan Ihya ‘Ulum A-Din

Penulis   : Imam Al Ghazali, terj. : Muhammad Al Baqir
Genre      : Nonfiksi/ akhlak-tasawuf
Penerbit : Mizan
Cetakan  : I, Desember 2014
Halaman : 225 hlm
ISBN        : 978-602-306819

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar serta beriman kepada Allah…” (QS Ali ‘Imran : 110).

Allah berfirman, “Aku akan membinasakan 40 ribu diantaranya yang baik-baik, dan 60 ribu diantaranya yang melakukan kejahatan.” Yusya’ bertanya, “Ya Tuhanku, sudah sepatutnya Engkau membinasakan orang-orang yang jahat diantara mereka, tetapi bagaimana dengan yang baik-baik?” Allah menjawab, “Mereka tidak ikut marah bersama kemarahan-Ku, bahkan ikut makan-makan dan minum-minum bersama!” (Hadis Qudsi, diriwayatkan Ibn Abid-Dunya)

Akrab di telinga kita perintah beramar ma’ru nahi mungkar, alias menyerukan kebaikan dan mencegah yang mungkar. Tak ayal karena terminologi tersebut telah dikenalkan sejak kecil melalui pelajaran Pendidikan Agama Islam saat SD dulu. Bahkan sering nasihat-nasihat agama yang disampaikan ketika acara ceramah atau khotbah Jum’at menyematkan ayat-ayat tentang beramar ma’ruf nahi mungkar. Tanpa sadar istilah tersebut masuk dan mengendap di pikiran kita. Tapi, yang namanya tanpa sadar, tentu jauh dari kata memahami. Jika kita berpegang pada pengertian Ibnu Qayyim al Jauziyah bahwa ibadah adalah segala nama yang dicintai dan diridhoi oleh Allah, maka mungkin ada diantara perilaku kita yang sebenarnya mencerminkan amar ma’ruf nahi mungkar, namun belum kita sadari sehingga niat ibadah kurang maksimal.

Lalu apa sebenarnya yang disebut dengan amar ma’ruf nahi mungkar? Begitu besar kah kecaman bagi yang melalaikannya sehingga sering dijadikan nasihat dalam berbagai kesempatan? Bagaimana bentuk amar ma’ruf nahi mungkar di tengah-tengah beragamnya fenomena hidup masa kini? Imam Abu Hamid Al Ghazali melalui rekonstruksi dan komtemplasi yang tertuang dalam karya sufistiknya, Ihya ‘Ulum Al-Din, menjawab semua pertanyaan tersebut. Sebuah kajian yang sangat apik tersusun dengan bahasa yang santun namun tegas. Gaya penuturan Imam Al Ghazali yang khas dari sisi filosofisnya, membawa suasana hati pembaca mengalir, mendayu syahdu seperti mendengar lantunan syair.

Seperti seri yang sebelum-sebelumnya, terjemahan Percikan Ihya ‘Ulum A-Din terbitan Mizan ini begitu mengena langsung ke poin yang ingin disampaikan. Pembahasannya tidak bertele-tele. Tidak ada paragraf yang mubadzir. Semuanya berkelindan saling melengkapi. Tak bosan-bosannya saya memuji buku ini. Dan tak pernah lebih puasnya saya mengagumi sosok penulisnya. ❤ ❤

gambar : [mizanstore.com]

 

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s