[Opini Bareng Agustus] Menyoal Amanat

Selamat datang bulan Agustus!! Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia!! (TELAT) Wahh…sudah tak terasa tahun 2015 menjelang akhir. Sudah beropini apa saja ya? *tanya diri sendiri* Nah…sebelum saya sok sibuk dalam persiapan agenda lomba dan pernak-pernik acara kemerdekaan, alangkah baiknya jikalau saya memulai saja opini bertema AMANAT ini. Akibat kesibukan 2 bulan terakhir ini, berbagai challenge membaca termasuk beropini bareng BBI sempat tercecer. Dan karena dalih itu pula saya jadi jarang membuka-buka buku. Namun, jika aktivitas blog tidak segera diseriusi, kapan bisa produktif? Begitu lah kira-kira bahwa saya harus berpartisipasi meski sering telat-telat he he :mrgreen:

Kebetulan atau tidak, tema kali ini sangat cocok dijadikan tema bulan Agustus. Menurut saya, momen kemerdekaan sangat pas untuk mengatakan bahwa apa saja yang dapat diambil hikmahnya dari apapun sebelumnya? Apa saja yang sudah terjadi setelah sekian lama kemerdekaan diikrarkan? Sama saja dengan hal-hal apa yang sudah diimplementasikan dari buku-buku yang pernah dibaca?

Dan kurang lebih sama, berikut pertanyaan sebagai bahan eksplorasi bersama :

Apakah buku yang kamu baca membuatmu belajar sesuatu dan sampai kini kamu terapkan dalam kehidupanmu?

Bicara soal amanat artinya bicara tentang kehidupan. Dan bicara tentang kehidupan tidak lepas dari proses olah pikir. Proses berpikir mendalam disebut kontemplasi. Dan dari kontemplasi, kita mengevaluasi diri. Pada akhirnya, amanat (sebuah karya fiksi khususnya) harus mampu membuat pembacanya dapat memperbaiki diri. Itulah kesimpulan sekaligus indikator bahan bacaan saya he he :mrgreen: #HidupHanyaSekali

Menggandeng manfaat membaca sekaligus kembali menyelami konsep Iqra’, amanat merupakan unsur yang sangat utama yang hendaknya terdapat dalam setiap buku. Dalam setiap karya tulis. Khusus kategori fiksi, amanat bagaikan tujuan dan manfaat dalam karya tulis ilmiah. Harus jelas, konkrit, dan dapat dieksekusi.

Kembali kepada pertanyaan, apakah buku yang saya baca membuat saya belajar sesuatu? Tentu. Sangat malah. Justru, saya membaca buku untuk belajar atau mencoba belajar sesuatu. Inilah yang sekaligus menjadi alasan mengapa saya kurang tertarik dengan karya fiksi karena saya membaca berdasarkan kebutuhan akan informasi tertentu. Namun, meski begitu buku fiksi tak mengurangi kadar belajar saya. Jika benar-benar dihayati, pasti ada lah nilai-nilai moral yang tersemat dalam konflik yang dibawakan oleh penulisnya. Apalagi karya-karya klasik. Yahh…indikator bahan baca seseorang kan berbeda-beda :mrgreen: Tapi, di tahun ini baru ada satu “novel” yang benar-benar mencuri perhatian saya. Bukan hanya mencuri tapi meremas-remukkan hati saya (lebay sedikit).

Novel ini sungguh luar biasa. Saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata betapa senang dan beruntungnya saya membaca novel ini. Intinya, Kafilah Al Fatihah membuat saya kembali belajar hal yang paling dasar dalam hidup. Kece untuk penulisnya. Dan sugoi-nya ia karena telah memudahkan orang lain untuk memahami Alqur’an yang multitafsir dan kontekstual. Sampai saat ini masih saya baca berulang kali untuk mengendapkan makna cerita yang dibawakan, khususnya pesan tersirat untuk menyelami samudera Al Fatihah.

Lalu, apa yang sudah saya terapkan?

BELUM ADA. Tepatnya, saya masih berjuang memahami karakter sendiri. Maunya apa, karepe piye dan hoyongna kumaha. Jadi, saya menyesuaikan diri saja bacaan yang tepat dengan mau, karep, dan kahoyong saya :mrgreen: *adakah yang seperti saya?* Lagipula konsep “membaca” yang telah ternukil dalam Alqur’an menghendaki membaca bahan bacaan yang tidak melalaikan terhadap Allah. Bacaan yang memperkuat keimanan kita terhadap Pencipta. Dan menurut saya itu jarang ditemui di kategori buku fiksi. Label religi sama sekali tak membuat kekutubukuan saya bergejolak sekalipun prinsip membaca saya agak gemana-getoh 😛

Setiap BUKU memiliki gagasan dasar. Apapun itu pastilah sesuatu yang bermanfaat (dan tentu komersil) 😀 ). Sekarang tergantung pembaca mau menyikapinya bagaimana. Dunia telah memberikan pilihan, giliran kita yang berusaha mencari bahan bacaan terbaik dalam rangka memperbaiki diri. Ayey!!

Long life maintenance

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s