[review] Pengetahuan terbesar adalah yang diiringi rasa takut

Sebuah Novel Spiritual : Sang Raja Jin : Petualangan Menemukan Cincin Nabi Sulaiman

Penulis     : Irving Karchmar, terj. : Tri Wibowo BS
Genre       : Fiksi/ Religi
Penerbit    : Mizan
Cetakan    : I,  Maret 2012
Halaman   : 322 hlm
ISBN         : 978-602-9255-19-5

Di sebuah gua Kapten Aaron Simach menemukan sebuah artefak kuno dalam genggaman kerangka manusia ketika ia diterjang badai di gurun pasir. Kemudian, ia lari kepada Professor Freeman, lelaki tua kenalannya untuk menyelidiki apa isi artefak berbentuk silinder emas itu. Setelah dibuka, di dalamnya berisi gulungan papirus kuno yang masih utuh bertuliskan huruf alfabet Yahudi kuno. Di dalamnya terdapat sebuah manuskrip yang sangat kuno yang Profesor Freeman duga sebagai peninggalan dari kekuasaan Raja Sulaiman.

Kaget yang tiada terduga, Profesor Freeman pun diliputi rasa keheranan karena tiba-tiba saja masa lalunya hadir melalui mimpi dan bercampur dalam ingatannya, seolah memori genetis itu sedang mencoba melepaskan diri. Gema mimpinya itu seperti berkaitan dengan sesuatu yang diterjemahkannya dari sang manuskrip kuno yang ditemukan Kapten Aaron Simach. Hal ini membuat pikiran Profesor Freeman terbuka, seolah ada suatu tempat asing dan aliran energi yang sedang menunggunya.

Kami harus pergi ke gurun!

Sebuah perjalanan pun disiapkan untuk membuktikan kebenaran gulungan papirus kuno itu. Berdasarkan petunjuk guru tarekat sufinya, Syaikh al-Hadi, Profesor Freeman, Kapten Aaron Simach, dan Rebecca pun memulai perjalanan besar tersebut. Seorang faqir misterius sakti yang memiliki ilmu Nabi Khidir diperintahkannya sebagai penunjuk jalan, bersama dengan ketiga murid Syaikh yang bertugas mendampingi perjalanan, Ali dan Ramli, serta 1 orang yang diperintahkan untuk menuliskan apa yang dialami selama perjalanan, Ishaq. Mereka semua memulai perjalanan panjang nan menegangkan itu dengan melintasi gurun pasir dan menghadang badai yang membawa mereka masuk ke dalam dunia lain, dunia jin.

Tak pernah terbayangkan mereka akan memasuki dunia dimana manusia tak akan bisa memasukinya. Dunia dimana beribu pintu dan tirai tertutup, dunia yang hanya diisi oleh makhluk gaib, para jin dan tentaranya. Mereka pun harus terlibat dalam pertarungan antara Baalzeboul, Sang Raja Jin, melawan Ifrit. Kesaksian sungguh tak dapat terbayangkan dan tak terungkap dengan kata-kata, legenda cincin Nabi Sulaiman yang konon dapat menundukkan semua makhluk termasuk jin, pencarian lintas alam ini menjadikan mereka semakin terhanyut dalam kesadaran spiritual yang lebih intens.

Evolusi fisik manusia dan alam berjalan seiring dengan evolusi spiritual, dan keduanya saling bertemu dan berkelindan seperti anyaman tali. Yang satu bisa dijelaskan dengan sains, yang satunya tidak bisa dipahami kecuali melalui ilmu hati” (hlm.281)

Kira-kira seperti itulah perjalanan manusia pada intinya. Melalui kisah yang sarat akan kedalaman makna ini, penulis mencoba menyampaikan pesan-pesan rahasia yang tersirat dalam pencarian para darwis tersebut akan harta karun Nabi Sulaiman. Pencarian yang mengantarkan para penempuhnya menemukan kebijaksanaan.

Kisahnya memang tidak sesimbolis pencarian para burung-nya Fariduddin Attar, namun pengalaman diluar nalar yang dinarasikan dengan apik oleh sang penulis cukuplah membuat pembaca kembali berkontemplasi terhadap dirinya. Unsur sejarah dan legenda di masa Raja Sulaiman yang mengikuti jalannya konflik, dengan rahasia-rahasia kuno dibawanya membuat kisah ini seperti kisah petualangan mengungkap sejarah, memintal kembali sejarah yang terputus oleh kematian dan menyatukannya kembali melalui renungan batin. Disini pembaca diajak untuk menemui kembali cinta. Sosok cinta yang dapat meredakan ketegangan fisik dan batin sehingga memperoleh ketenangan jiwa yang hakiki.

Yaahhh….jika saya boleh lebay, buku ini cocok untuk jiwa yang kesepian, yang kering dari lautan rohani, yang rindu akan basuhan tetes air penyejuk kalbu :mrgreen: terlalu lebay ya? Ma, forget it. Berikut saya kutip salah satu ungkapan dalam buku yang sekiranya dapat mewakili perasaan melting saya setelah membaca buku ini ❤ ❤

“Seperti yang ditulis Amr Ibn Uthman Makki dalam Kitab-i Mahabbat, Kitab Cinta, Allah menciptakan jiwa 7000 tahun sebelum tubuh, menempatkan jiwa dalam maqam kedekatan. Dan Dia menciptakan ruh 7000 tahun sebelum jiwa dan menyimpannya dalam maqam keakraban. Dan Dia menciptakan hati 7000 tahun sebelum ruh dan menyimpannya dalam maqam persatuan. Dan Dia menyibakkan tajalli keindahan-Nya kepada hati 360 kali dalam sehari, dan menatapnya 360 kali setiap hari. Dan Dia membuat ruh mendengar kata cinta sejati, dan menampakkan 360 keakraban kepada jiwa.

“Dan demikianlah ketika Tuhan menyuruh mereka melihat alam semesta yang diciptakan-Nya, mereka tak melihat hal-hal yang lebih berharga ketimbang diri mereka sendiri, karenanya mereka dipenuhi kebanggan dan kesombongan.

“Lalu Allah memberi mereka hukuman. Dia memenjarakan hati dan ruh dalam jiwa, dan jiwa dalam tubuh. Kemudian Dia mencampurkan mereka dengan akal, dan masing-masing mulai mencari maqam asalnya. Tubuh sujud dalam shalat, dan jiwa meraih cinta, ruh sampai ke kedekatan dengan Tuhan, sedangkan hati mendapatkan kedamaian dalam persatuan dengan Allah” ❤

[gambar : darvish.wordpress.com]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s