[opini bareng : Juni] Menyoal Setting dalam Buku

:mrgreen: Yo! Setelah bulan lalu saya absen memposting opini, kini saatnya tema SETTING saya bantai. Seingat saya sewaktu masih belajar Bahasa Indonesia, setting dalam cerita meliputi dua hal., yaitu waktu dan tempat. Mungkin keadaan sosial juga termasuk salah satu unsur setting ya? Tapi biasanya itu sudah tercover sesuai dengan periode waktu cerita. Nah…berikut apa yang ada dalam alam pikiran saya tentang tema opini bareng kali ini.

Setting ada dua macam. Adalah waktu, yang mengungkapkan pada periode kapan cerita itu berlangsung. Apakah terjadi pada masa lampau jauh sebelum kemerdekaan, bahkan pada masa kerajaan layaknya kisah sejarah atau hikayat, yang terjadi di masa sekarang di abad ke-20 maupun yang terjadi di masa depan. Periode waktu yang membangun konflik dalam cerita menimbulkan ke-khas-an penceritaan suatu karya sastra. Ke-khas-an itu bisa terletak pada bahasa, istilah atau karakter tokoh. Dari setting waktu, pembaca dapat menganalisis berbagai gambaran sosial dan relita bahkan fenomena yang telah terjadi, tengah terjadi bahkan akan terjadi dalam masyarakat. Sehingga cerita yang menurut saya OK adalah cerita yang memiliki kesesuaian antara konflik dengan periode waktu yang melatarbelakanginya.

photobucket.com

Misalnya, dalam sebuah fiksi sejarah, katakanlah Gadjah Mada, Oda Nobunaga dan lain-lain memiliki latar masa lampau dimana beberapa kebudayaan baik konkrit atau simbol terkini belum dikenal pada masa itu. Tentu saja penulis menuturkan kisahnya sesuai dengan keadaan bahasa yang mendukung cerita, misal banyaknya istilah-istilah lama, bahasa daerah atau peribahasa-peribahasa. Dan konflik yang diangkat tentu saja konflik yang memang kala itu menjadi pertentangan. Perang, perebutan kekuasaan, pembangunan sistem pemerintahan, pemberontakan, baik yang disemati kisah romansa, mistis atau drama politik. :mrgeen: Absurd rasanya jika cerita model fiksi sejarah tersebut justru menceritakan tentang kusutnya sistem pendidikan atau pentingnya pemberdayaan ekonomi.

Tapi kalau cerita model fanfiction atau crossover lain soal. Tokoh Gadjah Mada bisa dibuat sebebas-bebasnya yang jauh dari karakter aslinya bahkan bisa tergabung dalam sebuah grup band atau menjadi ketua OSIS misalnya 😛 Atau cerita-cerita lintas waktu seperti anime Nobunaga Concerto atau Oda Nobuna No Yabou. Duh! Kalau versi novel khususnya novel lokal saya belum tahu apakah ada cerita yang lintas waktu begitu. Novel Gerbang Nusantara? Saya lupa blurb-nya bilang apa 🙄

Yang kedua adalah setting tempat. Entah itu tempat nyata yang diketahui pembaca pada umumnya, tempat seperti luar negeri atau daerah terpencil yang hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya bahkan tempat fiktif baik yang bersifat realistis maupun fantasi. Seperti halnya setting waktu, tempat dapat memberi informasi atau gambaran sosial masyarakat kepada pembaca. Dan tentu saja segala deskripsi dalam cerita harus mencerminkan kebiasaan, karakter, atau keadaan sang tempat. Tidak lucu jika penggunaan setting tempat nyata tidak sesuai dengan kenyataannya. Misal, seorang tokoh yang berasal dari keluarga Sunda dilarang untuk menikah dengan orang di luar sukunya. Tokoh tersebut menentang kehendak orang tuanya yang sudah menjodohkannya dengan anak gadis yang sekampung dengan tokoh tersebut. Hal ini cukup absurd dijadikan konflik. Sunda tidak seperti Minang yang endogami (dulu sih, sekarang mungkin budaya ini sudah agak ditinggalkan).

Sedangkan untuk tempat-tempat fiktif atau futuristik, ketentuan kesesuian sebagaimana berlaku untuk setting tempat yang nyata tidak terlalu berlaku. Asalkan penuturannya konsisten atau bersebab-akibat, cerita bersetting tempat model-model begitu yang saya suka.

Bagaimana penulis menuliskan latar buku yang kamu baca?

Saat ini saya sedang membaca novel Khidir, karangan Wiwid Prasetyo. Tempat yang menjadi setting cerita ini adalah fiktif. Namun beberapa terdapat penyebutan tempat riil seperti Gresik, Jombang dan sebagainya. Namun, untuk detail tempat riil tersebut sepertinya sedikit diubah oleh penulis. Yang saya suka dari novel ini, khususnya dalam hal latar adalah penuturannya yang metaforis. Suatu tempat digambarkan sedemikian rupa sehingga masyarakat yang tinggal di tempat itu memiliki karakter atau perwatakan yang sama. Tempat yang mempengaruhi karakter tokoh dan kebiasaan tokoh yang mempengaruhi suasasa tempat seolah berjalan seperti lingkaran yang tak putus. Begitu pun dengan berbagai tempat yang melatari cerita ini. Berpautan dengan kebiasaan-kebiasaan masyarakatnya sekaligus mempengaruhi karakter seseorang. Hal ini menjadikan satu tempat memiliki karakter unik layaknya manusia atau sekelompk masyarakat tertentu.

Apakah membuatmu dapat membayangkan tempat itu pada waktu itu?

en.rocketnews24.com

Deskripsi yang bersifat abstrak seperti sifat atau karakter cukup mudah saya bayangkan, seperti yang latar novel Khidir gunakan. Penuturan metaforis memudahkan saya untuk memvisualisasikan desa-desa di dalam novel tersebut berikut aktivitas dan kecenderungan masyarakatnya. Imajinasi saya menjadi sangat liar ketika penulis menggambarkan sebuah tempat dengan kata “malas, rajin, magis, horor” dan berbagai sifat lainnya. Berbeda dengan deksripsi non sifat (apa ya istilahnya? :mrgreen: ) seperti tebing yang sangat tinggi dengan sulur pohon yang terulur ke bawah, atau hutan di siang hari dengan pepohonan yang tak terlalu rimbun hingga menutupi langit-langit, dan lain-lain lebih susah saya bayangkan. Saya memang termasuk ke dalam golongan manusia yang sulit membayangkan sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya. Seperti halnya mulut yang hanya membicarakan apa yang pernah dialami atau dimengerti. Jadi, ketika membaca novel-novel bergenre advanture atau fantasi, saya sangat kesulitan dalam hal bayang-membayang latar. Lagipula saya juga tidak suka dengan novel genre tersebut :mrgreen:

Pamungkas, setting dalam buku adalah termasuk yang saya pertimbangkan ketika membaca apalagi membeli novel. Biasanya saya akan lebih memilih waktu-waktu lampau (sekarang ini sedang senang-senangnya dengan tema sejarah) atau tempat-tempat riil apalagi daerah Sunda dimana saya tinggal. Saya juga senang dengan cerita-cerita yang mengangkat latar-latar Timur Tengah karena sudah keduluan membayangkan berbagai visualisasi dari anime Magi 😛

[gambar : goodreads.com, buku.kompas.com. bukjalapak.com, mangauk.com]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s