[review] Apa yang Seharusnya Manusia Pikirkan?

Tafakur Sesaat Lebih Baik daripada Ibadah Setahun

Penulis :Al-Imam Abu Hamid Al-Ghazali, penerj. : K.H.R. Abdullah bin Nuh
Genre :Islam/ akhlak dan tasawuf
Penerbit : Mizan
Cetakan : I,April 2015
Halaman : 155 hlm
ISBN : 978-602-0989-36-5

Tafakur itu pada dasarnya adalah menghadirkan dua macam makrifat untuk sampai pada makrifat ketiga. Hasil dari tafakur ialah ilmu pengetahuan, keadaan-hati (hal) dan amal. Ilmu pengetahuan merupakan buah yang utama. Bila ilmu sudah masuk ke hati, berubahlah keadaan hati. Bila hal hati sudah berubah, berubah pula lah amal anggota badan. Jadi, amal itu bergantung pada hal. Sementara hal bergantung pada ilmu, dan ilmu pengetahuan bergantung pada tafakur. Kesimpulannya, tafakur lah yang menjadi prinsip dan kunci segala kebaikan”. (hlm.11)

Buku ini merupakan bagian dari kumpulan tulisan Imam Ghazali yang dinamai Kitab Tafakur, dan merupakan sub bab dari kitab utamanya, Ihya ‘Ulum Al-Din. Seperti judulnya yang sangat catchy, dan sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw, tafakur merupakan aktivitas paling utama dan hanya menusia yang dapat melakukannya. Anjuran untuk bertafakur banyak terdapat dalam Alqur’an. Terma-terma seperti afalaa ta’qilun, ta’qilun, ya’qilun, yatafakkarun, semuanya terulang beberapa kali sehingga sangat penting bagi mukmin untuk merenungi makna dan teknis pelaksanaannya.

Tafakur adalah alat manusia untuk memperoleh derajat tertinggi di sisi Allah. Kata Raghib al-Ashfahani, tafakur atau berpikir adalah sesuatu kekuatan yang hanya dapat dibimbing oleh akal dan objeknya tergambar dalam hati. Maka dari itu kegiatan ini hanya dilakukan oleh manusia karena hanya manusia lah yang dikaruniai akal dan hati. Sisanya, apakah manusia itu hendak menggunakan akal dan hatinya atau tidak secara haq, maka itu pilihannya sendiri, yang mana terdapat kemungkinan untuk menjatuhkannya pada jalan kebinatangan. Na’udzubillah… Seorang mukmin hendaknya adalah seseorang yang senantiasa bertafakur.

Fikr adalah asal mula amal. Fikr akan menggerakkan manusia untuk berbuat. Perbuatan tergantung pada fikr, apakah ia benar dengan fikr-nya atau justru salah paham dengannya. Maka dari itu, selain mengetahui hakikat dan tujuan berpikir, perlu diketahui pula darimana datangnya saluran pikiran tersebut, metode pelaksanaan tafakur termasuk hal-hal apa saja yang harus ditafakuri.

Buku ini terdiri dari 2 bab. Yang pertama menjelaskan mengenai teknis bertafakur dimana banyak menggambarkan objek tafakur seperti merenungkan hikmah penciptaan manusia, keajaiban bumi, benda-benda angkasa, udara dan langit yang berlapis 7 dengan segala malaikat penghuninya. Buku ini mengajak kita menyelami samudera alam inderawi dan merenungkan apa yang paling dekat hingga diharapkan nantinya bahwa akan sampai pada keyakinan paling tinggi atas Allah. Keajaiban-keajaiaban yang ada di alam semesta tersembunyi di balik ketidaktahuan kita, dan dengan tafakur lah akan tersingkap sebagian rahasia Tuhan yang dapat membuat hati kita semakin teguh atas keagungan-Nya.

Sementara bab kedua menjelaskan bagaimana metode berpikir yang benar dan menghindarkan diri dari kesesatan atau kesamaran. Yang tak kalah penting, dalam bab ini juga dipaparkan kisah perjalanan panjang tafakur Imam Ghazali dalam mengarungi ilmu pengetahuan hingga memperoleh pencerahan kalbu. Kesalahan dan kerancuan berpikir beberapa ahli pikir seperti filosof atau ahli kalam atau golongan mazhab tertentu dipaparkan secara rinci. Keikutsertaannya mendalami berbagai bidang pikir membuat pemahamannya matang hingga akhirnya jalan sufiyah lah yang dirasa paling cocok untuk mencapai kedekatan dengan Pencipta.

Dari sekian buku atau bab tertentu yang membahas tentang tafakur, saya rasa buku terjemahan K.H.R. Abdullah bin Nuh inilah yang paling komprehensif. Penjelasan dipaparkan secara general sehingga cocok untuk dibaca kalangan awam sekalipun. Memang, banyak istilah bertebaran dalam tulisannya dan pencantuman footnote hanya untuk beberapa terma yang sangat asing di telinga kita. Namun, karena penyampaiannya yang renyah, dengan untaian paragraf—yang boleh saya bilang, tidak ada yang mubadzir—tersusun rapi cukuplah untuk memantik pikiran pembaca untuk segera merenungi hakikat bertafakur dan melaksanakannya sesuai dengan tingkat kemampuannya.

Akhir kata, tafakurlah secara total, baik sendiri maupun berdua dengan berdiskusi. Berpikirlah secara tenang dan cermat, karena perbuatan yang benar dimulai dengan tafakur yang benar. Ayeyy!!

[gambar : bukabuku.com]

Iklan

One thought on “[review] Apa yang Seharusnya Manusia Pikirkan?

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s