[review] Pangeran yang Berubah Menjadi Darwis

Sebuah Novel Sufistik : Ibrahim ibn Adham (Sang Pangeran Pengembara Tanpa Alas Kaki)

Penulis    : Ahmad Bahjat, terj. : Zainul Muttaqin Yusufi, peny. : Damhuri Muhammad
Genre       : Fiksi/ Islam
Penerbit   : Zaman
Cetakan    : Pertama, 2012
Halaman   : 164 hlm
ISBN         : 978-979-024-318-7

Kerajaan Tujuh Kota gempar. Sang Pangeran, Ibrahim ibn Adham, berlari meninggalkan istana tanpa alas kaki mengikuti seorang darwis (sufi pengelana) setelah perbincangannya yang mengusik hati di istana malam itu. Pangeran penasaran dengan apa yang dikatakan oleh sang darwis tentang rahasia-rahasia, yang tak disangka darwis itu mengetahui kegundahan hatinya.

Istana lebih semarak pada malam hari dan menguncup menjelang pagi. Pangeran banyak menghabiskan waktu untuk berpesta-pora sampai mabuk sedangkan ia baru akan tidur di pagi hari dan bangun saat matahari akan tenggelam. Namun, merasakan ada kekosongan di hatinya, Pangeran sesekali menampakkan wajah gelisah di tengah-tengah kegembiraan hingga membuat pelayannya ikut heran. Hingga di suatu malam, datanglah seorang darwis bersama anjingnya yang kemudian membuat Pangeran keluar bersamanya.

Mereka berdua berjalan jauh menuju tebing sedangkan Pangeran selalu memberondongi sang darwis dengan beragam pertanyaan. Bagaimana ia bisa tahu kegelisahannya? Apakah yang ia maksud dengan kemerdekaan dan rasa terikat? Namun darwis itu bukannya menjawab, ia malah menyuruh Pengeran untuk tidak banyak bicara. Setelah sampai di puncak tebing, mereka pun beristirahat di sebuah gua yang gelap. Pangeran baru sadar bahwa ia berjalan keluar istana tanpa alas kaki dan kini ia lihat darah segar mengalir karena menginjak bebatuan tajam. Setelah menyantap sepotong roti yang ia rasakan seperti segumpal daging, Pangeran mulai merasakan kantuk. Akhirnya ia tertidur dengan pulas meski hanya beralas tanah dan berbantal batu keras. Bahkan ia merasa lebih nyaman ketimbang tidurnya pada malam-malam sebelumnya di istana meski beralas sutera berbantal bulu empuk.

Singkat cerita, perjumpaannya dengan sang darwis berikut pertemuan dengan kelompok dariws lain membuat Pangeran sadar akan kekosongan hidupnya selama ini. Pangeran pun sadar akan kezalimannya sebagai penguasa dan kini ia bertekad untuk menjalani asketisisme. Ia hidup bersama darwis, meninggalkan status penguasanya dan ingin menebus kesalahannya dengan menjadi darwis. Pangeran memercayakan urusan istana kepada panglima dan melalui surat-suratnya ia menitahkan untuk segera memperbaiki segala yang salah. Namun, sang putra pengaran kesal karena ayahnya lebih memercayakan panglima ketimbang dirinya untuk memimpin kerajaan. Akhirnya, ia semakin berhasrat akan kekuasaan lalu memenjarakan panglima dan mengganti seluruh dewan dengan orang-orang pilihannya yang ambisius. Mereka berkonspirasi untuk mengisi menggulingkan kekuasaan Pengeran dan berniat membunuhnya. Akhirnya, isu meninggalnya Pangeran pun tersebar di seluruh wilayah kerajaan.

Ada dua hal berseberangan yang saya tangkap dari novel tipis berjudul asli Al-Amir wa al-Darwis terbitan Kairo ini. Pertama, sebagaimana tema cerita, bahwa sisi sufistik merupakan unsur penting untuk memahami kaidah kehidupan. Artinya, kedalaman pandangan dari kejernihan pikiran yang jauh dari kegelimangan harta akan mengantarkan pada diri pada kebebasan. Kebebasan untuk tidak terikat dengan dunia hingga hati senantiasa dekat dengan Pencipta. Cinta adalah pencapaian utama, dan sebelumnya didahului oleh kesederhanaan hidup, sebagaimana kisah Pangeran yang bertekad menjalani kehidupan ala darwis.

Namun, yang kedua. Sang tokoh adalah Pengeran. Artinya ia pemimpin atas sebuah daulat. Ia adalah orang yang dinanti keadilannya oleh rakyat dan ia pun memiliki kekuatan untuk membentuk itu. Jalan sufi yang seorang pemimpin tempuh sangat berguna untuk melangsungkan pemerintahan yang berorientasi kesejahteraan rakyat. Jalan sufi memuat kesederhanaan sebagai asas sehingga seorang pemimpin dapat memahami segala sisi kehidupan rakyatnya tanpa terpengaruh oleh bergelimangnya harta di sekelilingnya yang berpotensi untuk membutakan mata siapa saja. Seorang pemimpin harus berani berpaling dari kemewahan dan menggantinya dengan sikap zuhud, sehingga jiwa kepemimpinannya mencerminkan pembelaan terhadap rakyat sekaligus sebagai bentuk tawaduk terhadap Sang Pencipta, Pemimpin dari semua kalangan Pemimpin.

Ketika Pangeran memilih menjadi seorang darwis, ia akan meninggalkan segala kemewahan dan kekuasaannya dalam arti yang sesungguhnya. Dalam novel, Pangeran pergi berkelana meninggalkan istananya dipimpin oleh wakilnya dan akhirnya diperebutkan oleh penghuni istana. Bagi saya, pilihan Pangeran untuk menjadi seorang darwis adalah tindakan yang angkuh. Ia membiarkan rezim yang zalim berkuasa. Hingga tak tampaklah bahwa ia menebus kezalimannya atas kepemimpinannya terdahulu, sebagaimana tujuan jalan sufi yang ia tempuh. Justru ia semakin menambah kezaliman merajalela di bumi kerajaannya hingga menyengsarakan rakyat. Tindakan begini bisa termasuk kemungkaran. Karena seorang yang dirasa mampu (memiliki daya memimpin) mengarahkan pemerintahan yang adil tidak melakukan apa yang semestinya. Justru, ia menjauh dan hidup menjadi darwis yang hanya peduli dengan kedekatannya dengan Pencipta, membiarkan rakyatnya diombang-ambing oleh kepemimpinan yang zalim 🙄

Namun, terlepas dari beberapa hal tadi, novel ini patut untuk diselami. Transformasi seseorang dari keterikatannya pada materi menuju pencarian ruh lah yang menjadi inti hikmah. Kita belajar untuk dapat bersikap sederhana dan seimbang dalam segala hal. Tidak terlalu cinta juga tidak sepenuhnya membenci terhadap materi. Syukur saat berlimpah dan sabar saat diuji. Hal-hal itulah yang digambarkan oleh penulis dari kisah Pangeran Ibrahim ibn Adham.

Yuk, sama-sama merenung dari kutipan menarik berikut :

“Manusia umumnya bergaul dengan pangeran dengan berbagai cara. Para pedagang berhubungan sesuai dengan isi kantongnya, para darwis berhubungan sesuai dengan isi hatinya, tapi anjing tidak berubah seiring dengan bergantinya arah angin. Cintanya tetap utuh dan kokoh bagai gunung. Ia menjumpai tuannya ketika masih menjadi pangeran, dan ia memperlakukannya sebagai pangeran. Kalau saja ia menjumpai tuannya dalam kondisi sebagai gelandangan tentu ia tetap memperlakukan tuannya sebagai pangeran. Anjing-anjing selalu memperlakukan tuannya sebagai pangeran. Mereka mematuhi perintah tanpa membantah. Anjingg makan dari tangan tuannya, lalu menaatinya. Sedanglan manusia memakan makanan dari tangan sang Pencipta, tapi tidak mematuhinya. Apakah dalam beberapa hal, jiwa manusia lebih rendah dari jiwa anjing? Apakah hal itu mungkin walaupun ada penghormatan dan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia, dan manusia meninggalkan kemuliaan itu dengna pilihannya sendiri?” (hlm 110) ❤

[gambar : kiosislam.com]

 

Iklan

2 thoughts on “[review] Pangeran yang Berubah Menjadi Darwis

    • mulyasaadi berkata:

      Kalau pdf setahu saya gak ada. Bukunya bisa dibeli di toko buku (kalau di jogja ada di Social Agency, itu pun 1 ekslempar lagi) atau beli langsung dari penerbitnya (baik online atau ke kantornya)

      Suka

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s