[review] Gengsi Pakai Bahasa Indonésia, apalagi Bahasa Daérah…

Badak Sunda dan Harimau Sunda

Penulis : Ajip Rosidi
Genre :Nonfiksi/ Sosial-Budaya
Penerbit : PT Dunia Pustaka Jaya
Cetakan : Pertama, 2011
Halaman : 213 hlm
ISBN :978-979-419-377-8

Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa memiliki sistem tingkat tertentu, disebut unggah-ungguhing boso (Jawa) dan undak-usuk basa (Sunda). Bahasa semacam ini lahir pada masa Sultan Agung menjadi Raja Mataram yang feodalistis, tidak cocok dengan paham demokrasi yang oleh para bapak bangsa kita telah tetapkan sebagai paham kenegaraan bangsa Indonesia. tidak mungkin bahasa dengan tingkat-tingkat berdasarkan kedudukan sosial para pemakainya itu digunakan dalam masyarakat demokratis, yang menganggap manusia itu sama kedudukannya. Bagi orang yang berpaham demokratis, maka kedua bahasa itu, kalau hendak dipertahakankan penggunaannya haruslah didemokratisasikan, artinya unggah-ungguhin boso atau uandak-usuk basa itu dihilangkan. Kata-kata jangan dibagi-bagi menjadi kromo, ngoko, lemes, kasar dan semacamnya, melainkan semunya harus dianggap sebagai sinomin belaka. Artinya, kata-kata boleh digunakan terhadap siapa saja tanpa peduli apa kedudukan sosialnya.

Bahasa sebagai produk budaya merupakan sesuatu yang menarik untuk dibahas dan tak ada habisnya untuk didebatkan. Sebuah pemikiran jitu seorang sastrawan Sunda kenamaan, Ajip Rosidi, yang cukup kritis terhadap masa depan bahasa, seolah membuka lembar berdebu dunia kebahasaan. Dalam Pengantarnya, buku ini merupakan kumpulan tulisan Ajip Rosidi yang pernah dimuat dalam kolom “Stilistika” Pikiran Rakyat, Bandung sejak 2009. Tulisan-tulisan tersebut khusus mengupas soal kebahasaan, sastra, pendidikan bahasa dan sedikit mengenai budaya baca-tulis.

Buku ini menjadi menarik karena pemaparannya yang lugas dan menggelitik nalar pembaca. Ajip Rosidi berhasil melontarkan pikiran yang memantik daya kritis terhadap bahasa Indonesia. Melalui tulisannya ini, pembaca diajak untuk memikirkan kembali kebiasaan berbahasa dan menelusuri masalah-masalah berbahasa—yang nyatanya telah lumrah di lingkungan sebangsa Indonesia.

Buku ini terdiri dari 2 pokok pembahasan, pertama mengenai “kegagalan” pelajaran bahasa, yang diantaranya kesalahan-kesalahan dalam berbahasa baik berupa bahasa tulisan maupun komunikasi lisan, dan kedua mengenai urgensitas keterampilan berbahasa, dengan itu diwujudkan melalui budaya membaca dan menulis. Tulisan di bagian akhir, pembaca akan menemukan berbagai permasalahan klasik perihal dunia bahasa maupun sastra. Dan karena disampaikan secara “menggigit”, maka menggugah perhatian pembaca sehingga memikirkan kembali persoalan-persoalan yang diungkit tulisan tersebut dengan harapan dapat memberikan kepedulian terhadap perkembangan bahasa Indonesia, secara umum.

Wacana perihal kebahasan memang bukan bahasan baru lagi. Banyak buku yang memiliki pembahasan yang sama, seperti buku-bukunya Pak Hernowo atau beberapa penulis lain yang memberi perhatian kepada dunia literasi, umumnya.

Adapun buah pemikiran Ajip Rosidi yang tertuang dalam buku ini—yang diambil dari publikasi tahun 2009 dan terbit dalam bentuk buku tahun 2011 🙄 —sebelumnya telah didahului oleh bukunya “Pembinaan Minat Baca, Bahasa, dan Sastra” yang terbit tahun 1983. Buku ini sama menggagas keterampilan berbahasa, terutama memberi perhatian khusus terhadap minat baca dan budaya menulis manusia Indonesia. Bayangkan! Ide (baca : kegelisahan) yang sudah berumur lebih dari 30 tahun ini begitu masih merajalela di kehidupan bangsa ini L Memang gagasan tentang minat berbahasa (termasuk di dalamnya baca-tulis) bukanlah gagasan revolusioner sehingga setelah melewati waktu hampir setengah abad terdapat kemajuan yang signifikan akan budaya berbahasa. Kenyataannya, perkembangan dari rentang waktu yang sangat lama itu hanya maju selangkah demi selangkah, terbukti dengan terbitnya buku-buku yang membahas tema serupa, namun kadang pula mundur, bahkan maju mundur, karena kepedulian masyarakat yang sangat rendah sehingga wacana perkembangan keterampilan berbahasa tidak berkembang dan jalan di tempat.

:mrgreen: Waduh, malah curhat . . .

Namun, yang menarik dari tulisan-tulisan ringan Ajip Rosidi ini adalah perhatiannya terhadap perkembangan bahasa daerah. Tak banyak buku yang mengupas perihal bahasa daerah—apalagi buku yang memang berbahasa daerah—begitu menyenangkan ketika dibaca namun tetap memiliki pesan yang mendalam untuk direnungkan.

Siapapun yang pernah mengucapkan Sumpah Pemuda, yang hidup berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, dan lahir dengan identitas bahasa daerah tertentu, serta yang mengaku menjadi agen penggerak keliterasian, bacalah buku ini 😆

INDONESIA : saking beragamnya segala sesuatu di dalamnya, sulit untuk merumuskan ketentuan bakunya. Bahkan dalam hal makanan, nama jalan, warna, dan kata serapan. Apalagi kalau sudah bicara soal ras dan agama. Geehh 🙄 Politik? (lebih) Geehh (lagi) 🙄 🙄

Iklan

2 thoughts on “[review] Gengsi Pakai Bahasa Indonésia, apalagi Bahasa Daérah…

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s