[review] Uzlah vs Bergaul

Judul : Beruzlah atau Bergaul : Mana yang Lebih Utama? : Sebuah Pemahaman Sufistik Tentang Aspek Positif dan Negatif Dalam Beruzlah dan Bercampur Gaul Dengan Masyarakat Luas

Judul asli : Adab Al Uzlah

Penulis : Al Ghazali, penerjemah : Muhammad Al Baqir, penyunting : Tholib Anis

Genre : Nonfiksi/Islam-akhlak dan tasawuf

Penerbit : Penerbit Karisma

Cetakan : I, Juni 1999

Halaman : 106 hlm

ISBN : –

Lembutkan suaramu ketika berucap di malam hari

lihat sekelilingmu sebelum berucap di siang hari

Ucapanmu takkan pernah kembali setelah kau lepaskan

yang mengandung keburukan maupun kebaikan

UZLAH. Seringkali kita mendengar kata tersebut, dan kadang memperdebatkannya apakah kegiatan yang penuh dengan unsur qana’ah dan tawaduk itu baik atau buruk. Sejatinya, uzlah (pengasingan diri dari masyarakat) merupakan praktik untuk mencegah kebobrokan moral dengan menahan hawa nafsu dan sabar melalui kegiatan ibadah. Tujuan uzlah adalah agar diri dekat dengan Allah swt, maka dari itu intensitas ibadah diperbanyak dan konsekuensinya, meninggalkan segala hingar bingar dunia luar termasuk mengurangi hubungan interaksi dengan masyarakat. Adapun tindakan pengasingan diri adalah tidak lain bentuk pengingkaran hati atas berbagai kerusakan moral yang merajalela. Suatu cara untuk mempertahankan keimanan tatkala kegiatan amar ma’ruf nahi mungkar yang telah dilakukan tak berdampak apa-apa, atau justru mencelakakannya.

Namun seringkali kita jumpai bahwa uzlah dipandang sebagai tindakan pengecut dan lari dari kenyataan *ceilah…* sehingga timbullah sikap apatis dalam diri terhadap berbagai fenomena masyarakat sehingga kemalasan yang luar biasa mengambil alih diri orang tersebut. Ada sebagian yang menganggap bahwa uzlah sudah tak relevan lagi di zaman sekarang, terlebih dengan maraknya kemungkaran-kemungkaran yang lebih modern dan samar sehingga ber-amar ma’ruf nahi mungkar sangat diutamakan. Tindakan pengasingan dan menjauhkan diri sebagaimana yang dilakukan Rasulullah saw atau para pembesar agama zaman dulu dianggap sebagai suatu keanehan. Dan orang yang melakukannya akan dicap sebagai pecundang yang tak berkontribusi apa-apa terhadap kehidupan. Begitulah stereotip uzlah di mata sebagian besar orang banyak.

Memang ada beberapa yang memiliki motivasi uzlah demi kepentingan diri, agar dipandang sebagai abid, atau yang tanpa membekali diri dengan ilmu yang mantap sehingga ia tak benar-benar mengerti apa hakikat dari yang dilakukannya itu. Namun, men-generalisir uzlah sebagai tindakan buruk adalah tidak adil. Justru beberapa ulama—memang tidak banyak—melalui uzlahnya ia berhasil meningkatkan rasa ruhaniahnya sehingga timblnya kecintaan dan makrifat. Ada pula ulama yang menulis di sela-sela pengasingannya, menghasilkan karya yang bermanfaat dan mendalam sehingga tak lekang oleh zaman *jiahh…bahasanya :mrgreen: * Semacam Kitab Ihya Ulum Ad Din-nya Abu Hamid Al Ghazali yang ditulis pada masa uzlahnya,yang dicetak berkali-kali dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, bahkan hingga kini pun selalu relevan dengan berbagai kondisi masyarakat yang terjadi. Buku ini adalah bagian dari Ihya Ulum Ad Din yang versi aslinya berjudul Adab Al Uzlah, dialih bahasa oleh Muhammad al Baqir. Buku ini berisi tentang berbagai pendapat mengenai uzlah termasuk dalil dan penejelasan serta hakikat uzlah. Dan yang paling menjadi pokok dalam pembahasan tentang uzlah ini yaitu berbagai kebaikan dan keburukan uzlah yang dijelaskan secara rinci, keuntungan dan kerugian yang timbul atau menyertai cara hidup uzlah, serta kapan dan untuk siapa uzlah dipujikan, dan kapan pula pergaulan dengan masyarakat lebih diutamakan.

You must read this book ❤ ❤ [gambar : kitaabun.com]

Iklan

One thought on “[review] Uzlah vs Bergaul

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s