[review] Pesan Kepada yang Sedang Marah…

Laa Taghdhab : Jangan Marah

Penulis : Dr. Aidh al-Qarni, penerjemah : Fauzi Bahreisy, penyunting : Abu Raihan
Genre     :  Nonfiksi/ Islam
Penerbit :  Al Qalam
Cetakan  : Pertama,  2013
Halaman : 184 hlm
ISBN       :  978-602-7769-08-3

Jangan kagum dengan sifat sabar seseorang sebelum ia marah, juga dengan amanahnya sebelum ia memiliki keinginan. Pasalnya, engkau tidak tahu di sisi mana ia akan jatuh”—Yahya bin Abi Katsir

Marah adalah watak manusia. Setiap makhluk yang memiliki nafsu pasti pernah marah, pemimpin, bangsawan, pembesar agama, tak terkecuali Rasulullah saw sendiri. Marah bukanlah sesuatu yang mesti kita musnahkan sebenarnya, seperti menghendaki kejahatan hilang agar hanya kebaikan yang ada dalam kehidupan. Itu mustahil. Justru, marah adalah bentuk kasih sayang Allah kepada umat Nya, karena tanpa tahu rasa marah manusia tidak bisa merasakan senang. Pun marah merupakan unsur pembela agama, marah dapat menjadi sebab tegaknya agama. Itulah marah dalam arti positif. Rasulullah saw begitu pun para nabi terdahulu akan marah terhadap segala sesuatu yang mengandung kemungkaran dan jauh dari unsur tauhid. Amarah mereka sesungguhnya bukanlah untuk membela kepentingan atau semata-mata memenuhi keinginan diri sendiri, tetapi karena membela agama Allah. Marah yang seperti ini dibenarkan, bahkan dianjurkan.

Marah, betapapun penting sebagai unsur pembelaan diri, mestilah dikendalikan agar tidak seutuhnya menguasai pikiran. Karena pada hakikatnya marah senantiasa kuat menuntut pembalasan, sehingga belumlah reda sebelum keinginannya ditunaikan. Diantara serangkaian perasaan yang timbul akibat marah barang tentu ladang setan untuk membujuk manusia berpaling dari jalan Nya. Maka dari itu penting bagi seoragn muslim untuk senantiasa mengingat Tuhannya ketika hati meluap-luap karena marah.

Buku ini—Laa Taghdhab; besutan penulis Laa Tahzan, Dr. Aidh al-Qarni—dimana istilah ini sempat booming sehingga muncul buku-buku lain yang ber-laa-tahzan, termasuk program di PKPU Jogja *lho? :mrgreen: *, merupakan pedoman praktis dalam mengelola marah. Bahasa khas penulis yang ringan dan mudah dicerna tak berlebihan jika dikatakan mampu memberikan wawasan atau perspektif lanjutan tentang manajemen marah. Di dalam buku ini juga diselingi oleh berbagai kisah yang mengajak pembaca merenung sejenak kemudian meneguk hikmah dibaliknya.

Ada satu kisah yang sangat menarik perhatian saya. Dari beberapa kisah yang dicontohkan oleh penulis, kisah ini begitu menggambarkan bagaimana dampak marah dan mengandung makna yang dalam. Adalah tentang seorang anak yang agak rewel. Sang ayah memberinya sekuntung paku seraya berkata, “Palu paku ini ke tembok setiap kali kau emosi dan amat marah”. Pada hari pertama si anak memaku 37 paku, pada pekan berikutnya si anak belajar cara mengontrol diri sehingga akhirnya jumlah paku yang di pukul ke tembok saat ia marah mulai berkurang dan akhirnya tidak memalu sama sekali. Di saat itu ayahnya berkata, “Copot satu paku pada setiap hari yang kau lewati tanpa marah”. Beberap hari berlalu dan akhirnya si anak memberi tahu ayahnya bahwa ia telah berhasil mencopot semua paku yang di palu ke tembok. Kemudian si ayah membawa anaknya ke tembok tadi. Ia berkata, “Wahai anakku, engkau telah melakukannya dengan baik. Akan tetapi, lihatlah lubang-lubang yang kau tinggalkan di tembok. Ia tidak kembali seperti semula meski kau telah copot semua paku-paku itu. Ketika terjadi konflik antara dirimu dengan orang lain lalu engkau mengeluarkan kata-kata buruk di saat marah, sebenarnya engkau telah meninggalkan luka di hati mereka sama seperti lubang yang kau lihat”.

Yep. Seperti perilaku dosa, menyakiti perasaan orang lain ketika marah—kecenderungan untuk menyakiti dan melampiaskan marah bahkan bukan pada orang yang bersangkutan—diilustrasikan dengan berlubang-lubangnya hati orang yang disakiti. Sebagaimana ketika kita menjadi sasaran marah hingga membuat hati tersinggung, maka hati yang terlanjur berlubang itu akan tetap ada meski para pihak telah saling meminta maaf. Hal ini, mudah bagi setan untuk menyulut kembali api permusuhan sehingga perselisihan kembali mencuat ke permukaan. Maka dari itu, penting untuk menjaga sikap ketika marah. Mengendalikan perasaan yang bertentangan dengan hawa nafsu memang sangalah sulit, namun melalui pemahaman akan hakikat dan hikmah di balik larangan marah—sebagaimana yang dijelaskan dalam buku Laa Taghdhab ini—sesungguhnya hati dilatih untuk patuh dan senantiasa meningkatkan diri menuju kesempurnaan iman.

So :

Jangan suka marah. Sebab, hal itu akan mengantarkanmu kepada hinanya meminta maaf

Laa Taghdhab

Iklan

One thought on “[review] Pesan Kepada yang Sedang Marah…

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s