[review] Gerbang Dialog Danur

Gerbang Dialog Danur

Penulis    :  Risa Saraswati, editor : Syafial Rustama
Genre      :  Fiksi/ thriller-horor
Penerbit  : Bukune
Cetakan   :  Pertama Maret 2015
Halaman  : 216 hlm
ISBN        :  602-220150-0

Menceritakan seorang Risa, remaja 14 tahunan yang dapat melihat makhluk halus. Setiap hari ia selalu menemui sosok-sosok yang kadang datang dengan wujud mengerikan, namun ada juga sosok-sosok yang begitu disukainya, meski awal pertemuan mereka cukup menyebalkan. Risa selalu menyesalkan kenapa ia dilahirkan dengan “kemampuan” seperti itu sehingga kehidupannya hambar dan merasa selalu kesepian. Namun sejak pertemuan dan pertemanannya dengan 5 hantu Belanda di rumahnya, Risa mulai menyukai perbincangannya dengan makhluk halus. Ia seolah seperti teman selayaknya teman manusia yang bisa diajak ngobrol panjang lebar, bercanda dan bersenang-senang.

Adalah Peter, Hans dan Hendrick, Willian dan Jhansen, yang selalu mengisi hari-hari Risa dalam berbagai situasi. Lima teman hantu yang ia sayangi itu adalah penunggu rumah antik yang dihuninya. Mereka tinggal bersama dan bercengkrama seolah sebuah keluarga, namun yang bisa melihat mereka hanyalah Risa. Yang tak diragukan lagi jika ia ceritakan itu pada orang tuanya, mereka hanya menjawab bahwa itu bagian dari imajinasi anak-anak.

Novel ini seperti anime Natsume Yuujinchou 😛 Menceritakan seorang tokoh yang dapat melihat makhluk halus kemudian ia selalu diminta ini-itu oleh makhluk-makhluk yang datang bermunculan padanya itu hingga akhirnya muak dan ingin agar kemampuan melihat mereka dihilangkan. Namun seiring dengan berbagai pertemuan dan kisah-kisah “mereka” yang menyentuh, ditambah terjalinnya hubungan pertemanan, maka sang tokoh sadar bahwa kemampuan berkomunikasinya dengan makhluk halus bukan lah sesuatu yang buruk. Bahkan, banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah makhluk-makhluk itu ketika masih hidup. Akhirnya, tokoh menerima “kelebihannya” itu dan bersenang hati dengan makhluk-makhluk kasat mata yang datang padanya.

Meski genre novel ini adalah salah satu yang saya sukai, jujur saja saya—ehem!!—tidak suka dengan ceritanya. Saya tahu kalau standar novel horor (yang membawa tema perhantuan) memanglah begitu-begitu, tapi cerita yang dibawakan oleh penulis tidak klop dengan keyakinan saya tentang makhluk halus *OK lah tidak usah dibahas :mrgreen: * But, the story is not bad. Saya cukup menikmati cara penulis membawakan cerita dengan sudut pandang “aku” yang beragam. Yap, beragam, karena novel ini tidak hanya “aku”—Risa yang bercerita, tapi “aku”-“aku” yang lain. Beberapa diantaranya adalah makhluk-makhluk yang menceritakan kisah hidup tragisnya hingga mati gentayangan seperti itu. Memang agak menyebalkan karena bingung siapa “aku” yang sedang berkisah itu.

Tapi, ada satu hal yang saya sangat suka dari novel ini. Adalah cover. Gambar yang menampilkan hantu-hantu anak kecil bergaya Belanda dan satu hantu perempuan pribumi begitu eye-chatcy dan tentunya merepresentasi cerita yang akan dibawakan dalam novel. Ilustrator benar-benar sukses membuat pembacanya puas—dalam hal ini saya ❤ Tapi, tidak sampai disitu. Ternyata ada banyak ilustrasi di dalam novel sendiri sehingga lembarannya menjadi menarik !!

Photo0609

Photo0605

Tapi saya agaknya tidak menemukan korelasi antara judul dengan cerita. Sebelumnya, saya kira Danur adalah nama orang yang menjadi tokoh utama novel ini. Ternyata setelah dicari, inilah apa artinya danur :

fae

Di halaman 195 pun Risa memberi tahu apa arti kata danur. Tapi terlalu akhir untuk mengetahui apa itu danur, lagipula “danur” bukanlah masalah yang dibesar-besarkan dalam ceritanya. Memang sesekali Risa mengeluhkan bau menyengat yang mengganggu penciumannya ketika makhluk-makhluk halus berada di dekatnya. Tapi masalah danur hanya disitu saja. Judul berupa kiasan ini memang ada hubungannya dengan cerita, tidak berpengaruh dalam plot. Mungkin judulnya lebih cocok dengan Gerbang Dialog Risa ? 😛 Beberapa sub judul juga saya temui kurang menggambarkan isi kisah. Dan saya sebagai orang Sunda—bolehlah mengomentari beberapa sematan pernyataan berbahasa Sunda yang digunakan dalam novel ini—saya agak gemana getoh membaca teks berbahasa daerah itu. Dalam sub judul Danur Kasih, dimana ketika Emak sedang berbicara dengan anaknya, Asih dalam bahasa Sunda, saya cukup mengerutkan bibir melihat dialognya. Karena pembicaraan antara mereka menggunakan tingkatan bahasa yang cukup kasar (bahasa sehari-hari anak muda), tidak cocok digunakan dalam pembicaraan orang tua dengan anak, apalagi yang bicara adalah perempuan, Emak atau seorang ibu. Saya jadi ingat gaya bertutur Remy Sylado dalam Ca Bau Kan-nya yang begitu vulgar. Gehh… Bagi saya kata “maneh” yang artinya kamu biasa digunakan untuk percakapan antara orang sebaya semisal antar sesama anak muda (seperti bahasa lo-gue) yang tak cocok ketika digunakan oleh orang tua-anak terlebih anak-orang tua.

OK, saya cukup banyak bicara dalam review ini. But, as a whole, novel Gerbang Dialog Danur pastilah menambah perspektif saya tentang dunia fiksi maupun dunia yang dibawakan oleh penulisnya (oh God, hantu hanyalah presepsi manusia).

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s