[opini bareng : April] Menyoal Tentang Hubungan Buku Dengan Pembaca

Yayy…tibalah opini bareng edisi April, yang memuat tema HUBUNGAN DENGAN PEMBACA. Hmm…saya kira tema ini cukup asyik untuk ditindaklanjuti mengingat bahwa membaca merupakan kegiatan yang sangat berkesan. Tentu, ada sebagian dari timbunan buku yang pernah kita baca sedikitnya berpengaruh terhadap kehidupan secara nyata. Atau setidaknya membentuk suatu hubungan dengan diri kita. Tapi, yaahh…saya pun kurang begitu paham dengan tema “hubungan” yang dimaksud, namun boleh saya ambil makna bahwa hubungan ini berupa perasaan se-iya se-kata antara pendapat pribadi dengan buku yagn dibaca. Dan sebagai panduan, berikut petunjuk optional yang diajukan untuk opini bareng kali ini :

Pernahkah merasa terhubung dengan suatu bacaan?

Jawabannya sudah pasti pernah, bahkan sering. Saya baru giat membaca karya fiksi semenjak bergabung dengan BBI, namun sebelum itu saya termasuk golongan pembaca nonfiksi sehingga saya merasa selalu terhubung dengan bacaan saya karena kegiatan baca yang dilakukan berdasarkan keingintahuan bahkan kebutuhan pribadi terhadap sebuah informasi. Berbeda dengan ketika membaca karya fiksi, dimana saya cenderung ribet akan sikap selektif total saya. Biasanya keterhubungan pribadi dengan bacaan hanya sejauh hubungan emosional sesaat saja. Semisal merasa menjadi karakter yang digambarkan di buku. Saya merasa begitu ketika membaca Dangerously Perfect nya Shita Hapsari. Jadi bisa dikatakan bahwa keterhubungan saya dengan buku tergantung pada genre fiksi atau tidaknya sebuah karya. Yahh…meski tidak selalu begitu.

Saya setuju dengan orang yang banyak membaca karya fiksi memiliki beragam kehidupan, beragam perspektif, dan beragam pandangan terhadap segala sesuatu. Namun, apakah lantas dengan keberagaman dalam pikirannya ia benar-benar dapat “hidup” di kehidupannya? Tentu butuh sesuatu yang lain untuk membuatnya “hidup” dan menjalani hidup. Keberagaman perspektif tak lantas membuat saya—khususnya—cepat dalam mengambil keputusan. Adakalanya, kenikmatan membaca karya fiksi membuai saya untuk tetap stay along di dunia yang dibawa oleh penulis. Saya merasa pikiran menjadi lambat dan mengawang-awang. Itu sebabnya mungkin saya lebih tertarik dengan novel bertema berat atau thriller atau super pain (?)

Yahh..apapun buku yang dibaca tak usah lah diributkan. Mulya, Mulya…betapa ribet dirimu 🙄

Adakah buku yang pesan moral atau esensinya bertentangan dengan pendapat pribadi?

url

Sepertinya saya belum menemukan buku yang kontra dengan opini pribadi. Sejauh ini, saya bersikap netral dengan beragam pemikiran yang tercetus di buku yang saya baca. Saya belum menemukan buku yang benar-benar bertentangan dengan opini yang diyakini atau benar-benar membantah buku tersebut. Tapi saya pastinya pernah—begitu pun dengan pembaca lain saya rasa—menemukan beberapa buku atau bacaan yang cukup “ganjil”. Misal, buku itu menggunggah rasa penasaran akan keauntentikan materi dan objektivitas penulis. Latar belakang penulis sudah pasti berpengaruh banyak terhadap opini yang dibentuknya melalui tulisan di bukunya. Kan ada istilah “Jika ingin mengetahui sesuatu maka membaca, tapi jika ingin mempengaruhi orang maka menulislah”. Yep, jadi memang sebagai orang yang senang bercengkerama dengan buku-buku, otak kita sendiri sudah seperti saringan, yang memfilter berbagai opini atau pandangan (penulis yang bukunya kita baca) sehingga terbentuklah persepsi pribadi.

Pernahkah menemukan buku-buku “ganjil” yang menggunggah rasa penasaran sebagaimana diatas? Jawabannya pasti YA. Begitu pun dengan yang lain bukan? :mrgreen: Ada beberapa buku yang membuat saya merasa gemana-getoh membacanya. Misal, Dari Puncak Baghdadnya Tamim Anshary membuat saya illfeel setelah membandingkan ceritanya dengan Tarikh Khulafa-nya Ibn Katsir di bagian kisah fitnatul qubra-nya Usman bin Affan. Ada sebuah sesuatu sepertinya—jangan-jangan konspirasi 😛 . Teman yang saya pinjami bukunya ini mengatakan kalau memang penulis cukup bermasalah, bahkan teman saya yang satunya lagi bilang kalau buku ini jelek. Ya, jelek, dalam kategori yang relatif. Begitupun dengan Teologi Islam-nya Harun Nasution, Madilog-nya Tan Malaka, Hermeneutik-nya Sahiron Syamsuddin, dan masih banyak lagi yang menggemana-getohkan saya.

Dan untuk tataran fiksi, ada satu buku yang baru beberapa hari lalu saya selesaikan : Gerbang Dialog Danur nya Risa Saraswati. Buku ini berhasil mengangkat kegemana-getohan saya ke permukaan. Cerita yang dibawakan penulis terlalu absurd bagi saya yang memiliki keyakinan sendiri dengan eksistensi alam gaib. Jadi, selama menyelesaikan cerita saya terpaksa mengikuti alur deskripsi penulis dan sambil sesekali buka-tutup buku. Yang membuat saya bertahan untuk buku ini adalah cover. Yep, ilustrasinya begitu menggoda.

Lalu, bagaimana menyikapinya?

Hm…just stay cool saja sih. Biasanya, saya langsung diskusi dengan teman saya Nurdana (maniak buku juga) terkait bacaan yang memiliki unsur “ganjil” di dalamnya :mrgreen: Bahkan tak jarang saya dapat rekomendasi buku atau list buku “ganjil” dari dia *udah kayak pemerhati buku aja*. Saya juga kadang memandang sweatdrop (duh, bahasa yang tepat apa ya?) teman maniak buku lain yang mengatakan bahwa ia lebih senang dengan buku-buku konspirasi atau bahkan yang kontroversi sekalian. Lalu, saya cuma mencelos dalam hati : yahh..dia kan semacam gila sejarah.

Menyikapi perbedaan pendapat adalah dengan memahami bahwa selalu terdapat perbedaan. Enough 🙂

Dengan adanya event opini bareng ini, tentu akan banyak pandangan-pandangan lain sesama teman pembaca yang akan menambah perspektif saya. So glad ^^’

[gambar : pinterest.com dan bankoboev.ru]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s