[review] Memang Jodoh

Memang Jodoh

Penulis   : Marah Rusli, Penyunting : Melvy Yendra
Genre      : Fiksi/ Autobiografi
Penerbit  : Penerbit Qanita
Cetakan   : I, Mei 2013
Halaman  : 536 hlm
ISBN        :  978-602-9225-84-6

Adalah novel terakhir Marah Rusli yang ditulis berdasarkan kisah hidupnya sendiri tentang permasalahan perkawinan berbeda adat dan desakan poligami dari kaum keluarga Padang. Buku autobiografi ini berisi perjalanan perkawinan Hamli dengan Din Wati—seorang wanita Sunda, dimana adat Padang yang mengharuskan perkawinan endogami ditentang Hamli dan membuatnya terbuang dari keluarga besar Padang. Rully Rusdi, dalam pengantarnya mengatakan bahwa kisah Hamli dan Din Wati merupakan refleksi kisah kakeknya sendiri, Marah Rusli, yang ketika itu sedang bersekolah di Bogor, jatuh hati pada seorang perempuan Sunda kemudian di akhir masa kuliahnya ia meminta izin kepadanya ayahnya untuk menikah dengan gadis pujaannya itu. Namun keluarganya menolak mentah-mentah keinginan itu karena bertentangan dengan adat Padang, terlebih bahwa ia sudah dijodohkan dengan putri bangsawan setempat. Akibat pendiriannya yang kuat akhirnya pernikahan terjadi tanpa restu orang tua dan sebagai gantinya ia dikucilkan secara adat dan terbuang dari tanah kelahirannya, Padang.

Photo0572

Kece. Novel yang mengambil tema adat Minang ini cukup membuat saya paham akan berbagai isu sosial, khususnya yang terjadi di masa lampau. Penuturan khas sastra klasik, hiperbolis dan mendayu-dayu membuat kisah romansa Hamli dengan Din Wati makin kental. Beberapa kebiasaan seperti praktik baca nasib, firasat, dan hal-hal gaib yang masih populer ketika itu menjadi warna tersendiri dalam novel ini. Takdir juga turut berperan besar dalam plot. Disana diceritakan bahwa Din Wati akan berjodoh dengan seorang lelaki yang jauh dari tanah Jawa berdasarkan penerawangan seorang pembaca nasib juga guru ayahnya. Sementara Hamli yakin akan perasaannya bahwa ia akan menemukan pujaan hatinya di tanah Jawa, terlebih mendapat istri seorang perempuan Sunda. Pertemuan pertama mereka cukup mainstream (membaca bagian ini saya bercie-cie dalam hati :mrgreen: ) hingga terjadi perkenalan dan akhirnya keduanya menjadi dekat. Tak lama keputusan menikah dibuat dan dari sanalah “kisah” dalam novel ini dimulai.

Berbagai rintangan perkawinan diceritakan dengan cukup dramatis. Saya tidak menyangka bahwa perbuatan pelanggaran adat Hamli—adat Minang—akan berdampak runtut hingga menghabiskan 500 halaman cerita 😀 . Berbagai desakan dan usaha-usaha memisahkan Hamli dengan Din Wati datang bertubi-tubi. Kesimpulan saya adalah bahwa adat perkawinan Padang sangat keras. Keras karena tidak boleh ditolak, dan jika dilanggar akan menyebabkan putusnya hubungan keluarga orang yang bersangkutan. Tidak hanya keluarga, namun juga kaum kerabat pun turut mengucilkan bahkan diusir dari tanah Minang. Akumulasi konflik seperti inilah yang menjadi tema kisah romansa Hamli dan Din Wati. Rimit—lebih pelik dari rumit—hingga tak selesai tuntas bahkan ketika kematian menjemput. Begitu kukuhnya adat orang Padang yang dijunjung tinggi dari generasi ke generasi ketika itu. Kalau sekarang sih, mungkin adat perkawinan endogami seperti itu sudah tak sekeras dulu. Hanya beberapa bagian daerah saja yang masih mempertahankan adat seperti itu. Masalah perkawinan yang menarik sebenarnya. Dan banyak juga sih literatur yang membahas tentang adat-budaya orang Minang, terlebih setelah belajar Hukum Adat dan tentunya setelah membaca novel ini, membuat saya tertarik untuk mencari sumber-sumber bacaan lain tentang hal terkait. Inilah kelindan membaca, salah satu sisi kece dari aktivitas kutu buku, sehingga setelah A terbentuk maka akan diikuti oleh B,C, bahkan D. Saya sih biasa bilang reading-circle syndrome[gambar : goodreads.com]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s