[review] Kisah Seekor Anjing : Autobiografi Anjing Terlantar

Kisah Seekor Anjing

Penulis     :  Ann M. Martin, Penerjemah : Tanti Lesmana
Genre        : Fiksi/ Childlit
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan     :  Agustus 2006
Halaman    : 216 hlm
ISBN          :  972-22-2305-3

Menceritakan seekor anjing bernama Squirel yang berkeliaran di jalanan mencari tempat yang nyaman untuk ditinggali. Ia adalah anjing liar yang tinggal di sebuah gudang di pekarangan rumah keluarga Merrion. Ibu baru saja melahirkan dan hanya tersisa dua anak anjing, Squirel dan kakaknya, Bone. Di usia cukup, Ibu tiba-tiba tak pulang, dan di kemudian hari Bone juga pergi, disusul oleh Squirel. Lalu, mereka melakukan perjalanan dan tak pernah kembali ke gudang tempat mereka dilahirkan. Untung saja, Ibu sudah mengajari mereka beberapa pelajaran seperti berburu dan untuk tidak percaya pada manusia. Mereka harus menghindari masalah dan belajar beberapa emosi.

Menjadi anjing terlantar di jalanan sangat membuat Squirel kesepian. Ia tak tahu Ibunya kemana dan apakah akan kembali atau tidak. Ia hanya memiliki Bone, dna harus tetap bersama karena ia satu-satunya keluarganya. Kemudian hari-hari dilalui dengan berbagai rintangan. Musim dingin yang menyebabkan hewan buruan susah didapat, tong-tong sampah yang dikuasai oleh anjing-anjing yang lebih besar, bahkan manusia yang berlalu lalang termasuk jalan raya yang paling mereka hindari, membuat mereka kadang kelaparan karena berhari-hari tidak makan.

Ada juga beberapa manusia yang mereka temui kebetulan seorang yang baik, yang memberi mereka makan secara cuma-cuma. Namun mereka tetap waspada. Tapi ada juga manusia yang jahat dan berbuat kasar hingga menggulingkannya di jalan raya. Bahkan ada juga manusia yang membawa Bone tanpa Squirel. Akhirnya, Squirel menjadi anjing gelandangan yang sangat kesepian. Ia kembali teringat pada Ibu dan gudang di pekarangan keluarga Merrion. Ia juga ingat pada Bone. Ia merindukan masa-masa bersama dulu.

Beberapa masa pergantian musim Squirel lalui di jalanan sendiri hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang manusia bernama Susan, yang mengijinkannya masuk ke rumah untuk menghangatkan diri karena waktu itu ia hampir mati kedinginan. Akhirnya, setelah pertemuan yang tak disengaja itu, Susan mengadopsi Squirel tua dan mereka pun tinggal bersama. Betapa kerinduannya terhadap kehangatan Ibu dan Bone, kini semua kenangan itu bercapur dalam ingatannya hingga tak ada lagi yang perlu dicemaskan. Hanya menjalani sisa hidup bersama Susan, manusia yang masih memiliki tempat di hatinya untuk Squirel.

❤ Cerita ini cukup menyentuh, saya merasa menjadi seekor anjing, menjadi Squirel, ketika membacanya. Saya juga ingat cerita anjing pertama saya di majalah Ina dulu sewaktu kecil. Jilly. Dan sebagai pembaca yang termasuk ke dalam jenis penyuka binatang, saya sudah melelehkan air mata bahkan sejak halaman pertama. Apalagi ilustrasi depan buku ini gambar anjing, saya makin merasai ceritanya. Tapi kisah Hachiko lah yang paling parah sampai membuat mata saya bintitan 😛 Jempol deh, untuk buku ini. Squirel (penulis memosisikan dirinya sebagai Squirel, sang pencerita) sudah berhasil memancing emosi saya untuk mengikuti kisahnya dan “mengaduk-aduk perasaan pembaca” secara umum—istilah teman untuk buku yang ia suka.

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s