[review] Bertanya Kerbau pada Pedati : kumpulan cerpen A. A. Navis

Bertanya Kerbau pada Pedati

Penulis      :  A. A. Navis
Genre        : Fiksi/Slice of life
Penerbit    :  Gramedia Pustaka Utama
Cetakan     : 2011
Halaman    : 151 hlm
ISBN          :  979-686-575-0

Yey, ini review kumcer pertama saya 😀 . Adalah karya A. A. Navis yang berisi 10 cerita pendek dimana banyak menyinggung binatang sebagai metafora atau perlambangan dari kehidupan realitas. Salah satunya kerbau, yang menjadi judul buku ini. Disana digambarkan bahwa kerbau adalah binatang yang diagungkan karena beberapa mitos, namun di sisi lain binatang ini memiliki kiasan bermakna jelek, yaitu dianggap bodoh dan rendah mutunya, hanya berguna untuk membajak dan menarik pedati. Dalam Bertanya Kerbau pada Pedati ini, sang kerbau selalu bertanya-tanya kapan ia akan sampai di tujuan? Setiap hari ia menarik pedati mengantarkan barang-barang yang beratnya kian melebihi batas tanggungannya. Kusir pedati itu pun seorang yang garang, memecuti sang kerbau tanpa belas kasih ketika ia berhenti untuk sekedar mengambil napas. Namun, meski kerbau itu bodohnya minta ampun, akhirnya ia berontak memutuskan kekang dan menjatuhkan pedati yang berisi berjubel-jubel barang hingga berserakan di jalanan.

Saya kira bahwa manusia pun kadang seperti kerbau, bodoh (kiasan dalam berbagai konteks), dalam hal ini akibat tekanan atasan atau keadaan, tak kunjung berubah dan hanya mengukuti nasib, pasrah. Tapi, setelah titik tertentu, ia akan berontak juga menyuarakan haknya bahkan berani melawan. Perumpamaan-perumpamaan seperti inilah yang menjadi ciri khas dari cerpen A. A. Navis. Ada banyak makna lain dibalik berbagai binatang yang digambarkan dalam ceritanya. Reflektif deh. Ada kucing, serigala, kuda, dan ayam. Semua begitu menggambarkan sifat manusia, yang pada akhirnya termakan oleh ucapannya sendiri.

Selain cerita berbagai metafora binatang, ada juga sebuah pemikiran tentang kenegaraan, dalam Angkatan 00. Disana A. A. Navis menggambarkan negara Indonesia dengan sangat fantastis, perumpamaannya dalam juga agak menyindir pemerintahan dewasa ini. Saya cukup terperangah membacanya dan membayangkan bahwa Indonesia seperti yang ada dalam deskripsi cerita, kekacauan besar.

Tapi ada satu cerita yang paling saya suka dari ke sepuluh cerpennya ini. Yaitu cerita pertama, Dokter dan Maut. Menggambarkan perjalanan seseorang yang hendak dicabut nyawa, dengan flashback yang menyentuh juga deskripsi yang memikat. Kehidupan sang dokter kembali diekspos ketika sang maut menjemputnya. Beberapa fakta dan kegelisahan terbuka, refleksi salah satu kematian yang bagus. Cukup membuat imajinasi pembaca melayang membayangkan bagaimana kematiannya kelak dan bekal apa yang sudah dikumpulkan di dunia ini 😀 Ada kata-kata favorit saya :

Orang tidak menjadi kaya karena nasib atau takdir, melainkan karena kepandaian mengambil uang dari dompet-dompet orang miskin. Bukan dari dompet orang kaya, karena orang kaya jumlahnya sedikit sekali. Maka itu, adalah sepantasnya bila harta yang telah diperoleh dari orang miskin itu dikembalikan lagi kepada mereka.

Wuaaaa….pro zakat banget deh ❤ ❤ ❤ Saya jadi ingat kalau dalam dua minggu ini harus membantai bukunya Yusuf Qardhawi untuk menunaikan tugas kuliah—yang selama ini hanya jadi meja penopang kehidupan. Dan ini nasib sang buku selama ini 😆

Pic review kumcer aa navis

Kembali pada review. Sama dengan kumcer monumentalnya, Rubuhnya Surau Kami, saya pun memfavoritkan cerita pertamanya. Deksripsinya jelas dan memikat, dipahami dan mudah dihayati. Meski bahasanya bukan gaya bertutur sastra zaman ini, tapi ada suatu hal yang menggetarkan (cieehh…gayamu nak) yang membuat bahwa saya harus membaca habis buku ini. Tapi kesan terbaik itu tidak dirasakan lagi setelah membuka halaman-halaman berikutnya hingga akhir. Justru ada beberapa cerita yang saya rasa cukup berat, hingga harus dibaca berulang-ulang baru agak paham. But as a whole, kumcer kece ini recommended banget deh! Apalagi bagi pembaca yang menggandrungi bahasa sastra lama. Ada yang mendayu-dayu, dan ada juga yang blak-blakan. :mrgreen:

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s