[review baca bareng maret : adaptasi] Gading-Gading Ganesha : Bahwa Cinta Itu Ada

Gading-Gading Ganesha : Bahwa Cinta Itu Ada

Penulis      :  Dermawan Wibisono
Genre        :  Fiksi/Slice of life
Penerbit   : kerjasama Ganesha Creative Industry dan Mizan
Cetakan    : III, Februari 2010
Halaman  : 396 hlm
ISBN         :  978-979-19908-1-3

Novel ini berkisah tentang perjalanan 6 orang sahabat dalam menamatkan studi di kampus Jalan Ganesha, ITB, dengan berbagai suka-duka, lelucon dan kekonyolan ala mahasiswa tahun 80-an.  Slamet dari Trenggalek, Poltak dari Pematang Siantar, Benny dari Jakarta, Gun Gun dari Ciamis, Fuad dari Surabaya, dan Ria—satu-satunya perempuan dalam kelompok ini, dari Padang, bersama-sama melangkahkan kaki di bumi Bandung dan berangkat dengan idealismenya masing-masing untuk menempuh 5 tahun di kampus yang menjadi kebanggaan negeri, Institut Teknologi Bandung. Kampus bergengsi yang mencetak lulusan sukses, berkarakter dan membangun negeri. Dan karena itu ke-6 sahabat tersebut memiliki gengsi yang tinggi pula.

Tahun demi tahun mereka lewati dengan berbagai kisah yang penuh warna. Dimulai dari hal remeh temeh seperti perbedaan latar budaya dan sosial, masalah cinta, hingga hal yang lebih serius lagi, menentang rezim politik pada waktu itu. Semua masalah dan keberuntungan semakin mempererat ikatan persahabatan mereka. Hingga akhirnya satu- persatu mereka lulus, menyisakan beberapa anggota 6 sahabat yang sibuk mengejar tugas akhir dan kuliah yang tercecer. Berbagai kenyataan hidup siap menghadang mereka. Segala idealisme, teori-teori perkuliahan dan semangat sebagaimana ketika masih menjadi mahasiswa tak sejalan dengan apa yang mereka hadapi. Universitas yang sesungguhnya ada di kehidupan nyata. Mereka kembali mempertanyakan cita-cita dan kembali pada tekadnya. Tekad untuk menjadi pemuda—lulusan ITB—yang berbakti untuk negeri,sebagaimana alumni yang telah sukses di jalannya masing-masing. Kesadaran mereka mewakili daerahnya masng-masing, tekad membara untuk menjadi agen perubahan tersulut, mereka pun akhirnya bergiat bahu membahu untuk membangun Indonesia lebih baik lagi.

Ini adalah novel terlucu yang pernah saya baca. Saya tidak menyangka kalau bahasa yang digunakan dalam penuturan deskripsinya begitu mahasiswa banget. Namun, bukan sekadar membuat saya tergelak, beberapa bagian paragraf juga membuat saya termangu, merenungi makna di balik untaian paragraf itu. Dan karena kebanyakan tokoh dalam cerita adalah laki-laki, notabene mewakili candaan kaum mahasiswa, membuat saya agak gemana-getoh di beberapa bagian kisah mereka. Misalnya, Fuad, yang sering disebut ramses atau raja mesum oleh teman-temannya, dalam penggalan kisah sedang memasuki mata kuliah Bu Myra, ia malah menggambar potret dosennya itu dengan gaya sensual dan tulisan mesum ala mahasiswa. Selain itu, persaingan cinta antara Slamet, Poltak, Benny, Gun Gun, dan Fuad dalam memperebutkan Ria membuat saya berpikir kalau cerita ini hanya kisah cinta mahasiswa yang dangkal. Tapi, sesaat kemudian saya merevisi lagi pikiran saya. Dengan gaya penyampaiannya yang menarik dan mengundang tawa, dan kadang dialog tokoh sendiri yang sok filosofis, melankolis, intelek cap kambing Gun Gun ( :mrgreen: memang sih orang Ciamis itu banyak yang miara kambing, termasuk ortu saya he he—malah cuhat), kisah persaingan cinta diantara mereka justru membuat suasana menjadi segar. Meski terkesan adanya saling meledek, melecehkan daerah masing-masing, namun kembali pada slogan mereka : all for one dan one for all, semuanya kembali tertawa bersama-sama menikmati candaan mereka yang hanya berputar pada masalah Ria, Ria, dan Ria. Gombalan mereka dalam kisah ini benar-benar mewakili kaum cowok di dunia ini 😛

Saya ingin spoiler sedikit, tentang keunikan dialog mereka yang membuat saya berpikir kisah cinta dalam novel 3G ini tidak biasa dan patut diacungi jempol, berikut penggalan kisah favorit saya : ketika Benny mengungkapkan perasaannya pada Ria di suatu hari.

“Aku pikir-pikir dulu”, jawab Ria.

“Berapa lama?” kejar Benny.

“Nanti aku kabari.”

“Oke, ancer-ancernya?”

“Heh! Kamu ini! Emangnya proses tender yang sudah ada jadwal pastinya!” jawab Ria.

“Oke, 1000 tahun pun aku akan menunggumu,”

Kemudian Ria menyuruh Benny membuat sajak sendiri karena ia dianggap tidak kreatif menirukan Chairil Anwar dengan ungkapan 100 tahunnya barusan. Benny pun PD mengiyakan, tapi beberapa saat hening. Ia mentok. Tak menghasilkan satu bait pun. Kemudian Ria menjawab, “Ya sudahlah, aku terima”. Benny bengong tak tertahankan karena mendengar jawaban Ria yang begitu cepat.

“Lho, anak ITB, kok, mikir gitu aja lama! Kan tinggal bilang ya atau tidak. Lha…kan kita biasa ngerjain soal essay, apa susahnya menjawab satu pertanyaa. Multiple choice lagi!”

“Kok geleng-geleng? Nggak mau? Nggak jadi nih!”

“Jadi, jadi! Oke, oke! Besok kita menikah!”

“Besok? Nikah?” Cepat amat?”

“Kan tinggal ke penghulu! Anak ITB, kok, nikah aja pakai lama”

Sampai dialog begini pun mereka tetap membawa-bawa nama ITB. Memang kampus yang mereka banggakan itu dan hingga sekarang pun, sebuah gengsi tersendiri menjadi lulusan ITB—kali ya? Tapi yang jelas, novel ini tidak hanya berisi kisah cinta unik nyentrik ala mahasiswa tahun 80-an, namun juga memberi pelajaran kehidupan melalui kisah-kisah perjuangan berbagai tokoh dalam mengejar idealismenya. Kece deh ❤  [gambar : rahard.wordpress.com]

Iklan

2 thoughts on “[review baca bareng maret : adaptasi] Gading-Gading Ganesha : Bahwa Cinta Itu Ada

  1. Rico berkata:

    Entah kenapa, kombinasi antara tokoh Ria ditengah kumpulan sahabat laki-laki, para tokoh utama pria yang berasal dari daerah yang berbeda namun memperebutkan hati yang sama, dan berlatar di dalam satu lingkup kampus yang sama, langsung mengingatkan saya dengan novel Negeri van Oranje. Somehow mirip banget ramuan ceritanya ._.

    Suka

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s