[review] Kafilah Al-Fatihah : Kisah Para Penjelajah Induk Alqur’an

Kafilah Al-Fatihah

Penulis    : Je Abdullah, Penyunting : Dedi Slamet Riyadi
Genre        : Populer/ Panduan-Islam
Penerbit    : Penerbit Noura Books
Cetakan     : Pertama, Januari 2014
Halaman   : 341 hlm
ISBN          : 978-602-1606-23-0

Yuli dibuat bingung oleh datangnya sebuah surat misterius yang dikirim tak lama setelah shalat isya. Iya, misterius. Karena surat itu tak jelas siapa pengirimnya, hanya dengan secara tegas ditujukan kepada Yuli. Setelah membaca isinya yang membuatnya gelisah sehingga tak dapat memejamkan mata, ia pun menemui Mamiq Saeni, penghulu kampung Tinggar, malam-malam larut sekitar pukul 22.30, untuk meminta saran atas surat tak bernama itu. Namun, alih-alih menenangkan Yuli, Mamiq Saeni justru merasa surat itu ditujukan untuknya. Ia pun diliputi rasa gelisah yang sama dengan Yuli. Surat yang mengentakkan jiwa itu seolah menyadarkan Yuli maupun Mamiq Saeni akan kepasrahan hidupnya selama ini. Ada yang keliru. Ada harus diperbaiki…

Demi menenangkan diri, begitu pun menjawab rasa penasaran Yuli akan siapa gerangan yang telah mengiriminya surat aneh tersebut, Mamiq Saeni berencana membuat sebuah pertemuan khusus untuk membahas surat menggetarkan itu bersama teman-teman perkumpulan mesjid jami At Taubah. Bukan, bukan untuk menyelidiki siapa kira-kira pengirimnya, namun membahas apa yang menjadi isi surat itu. Argumen demi argumen beradu bersama acara pertemuan itu. Lagi-lagi, setelah dibacakan secara umum di depan jama’ah pertemuan yang hadir, surat itu membuat jiwa-jiwa yang mendengarnya bergetar. Mantap akan pentingnya membahas surat yang menyadarkan mereka akan kekeliruan pemahaman Alqur’an selama ini, akhirnya semua jama’ah sepakat untuk menjadikan pembahasan surat itu sebagai diskusi rutin melalui acara tadarusan, dimana Mamiq Saeni yang memimpin. Bagai memperoleh harapan dan suasana positif baru, setiap pertemuan dalam acara tadarusan tersebut menumbuhkan kebaikan yang tak berkesudahan. Akhirnya, sepucuk surat itu mengantarkan mereka pada penjelajahan Alqur’an yang seru untuk menemukan pintu yang akan mewujudkan tujuan kehidupan, dan merekalah “Para Pemegang Kunci”. ❤ ❤ ❤

Jujur, saya kagum sekaligus bingung dengan buku ini. Kagum akan penuturannya yang mendalam dan menggelitik kehidupan dan kagum akan keunikan model cerita yang dibawakan. Unik memang. Buku yang sejak awal membahas tentang Alqur’an dan tasfir surat Al-Fatihah ini disajikan dalam bentuk cerita novel oleh para tokohnya sendiri.

“Amang, ente memang bisu, tapi ente punya kemampuan menulis yang baik. Saya berharap ente bisa menceritakan apa yang kita alami pagi ini dan seterusnya…” [Mamiq Saeni, hlm 43-44] “…terserah ente saja. Tapi saya lebih suka gaya cerita. Mungkin cerpen atau novel akan lebih baik dan enak dibaca…”

Jadilah acara tadarusan tersebut diceritakan kembali oleh Amang, salah satu jama’ah tunawicara yang rajin mengikuti berbagai halaqah kampung Tinggar. Disini, Amang seolah sang penulis buku ini sendiri, yang kemudian menceritakan kisah atau berposisi menjadi narator. Kemudian, di akhir pembahasan, Amang memberikan kesan pribadinya berupa lembar berjudul “Catatan Bisu”. Nah, bingungnya saya adalah menempatkan buku ini di genre apa. Yang terjadi di perpustakaan—saya memang meminjam buku ini dari sana, Kafilah Al-Fatihah ini ditaruh di rak 2 X 1.6 kategori Alqur’an dan Ilmu yang Berkaitan dengan sub kategori Kandungan Alqur’an. Sejajar lah dengan buku-buku semacam Tafsir Al-Misbah, Ibnu Katsir, Al-Maraghi dll. Tapi, dilhat dari bentuk penuturannya, buku ini juga dapat digolongkan sebagai…katakanlah novel. Ada tokoh dan plot. Jadi, dikatakan fiksi tidak sepenuhnya, dikatakan nonfiksi juga tidak sepenuhnya. Bingung kan? Amannya, samakan saja dengan kategori yang dtulis di belakang buku, yaitu Islam Populer :mrgreen:

Oiya, mengenai cover, saya agak bingung pertama kali melihatnya. Mungkin Pak Windu Budi mungkin sengaja membuatnya agar tersirat. Agar pembaca penasaran, dan bersegera membuka lembar demi lembar buku berwarna toska ini. Dan setelah menamatkan ceritanya, baru saya paham kenapa ilustratornya menggambarkan sebuah ujung batu yang mencuat dari atas diberi tangga berutar seperti mur kemudian diberi pintu, dan setelah dihitung jumlahnya, kebetulan juga ada 7 buah. Ini berarti ke-7 batu itu menggambarkan pintu-pintu surat Al-Fatihah, yang jumlah ayatnya ada 7 buah. Tujuh hal yang ketika diturunkan langit bergetar, semesta tergugah. Al-Fatihah—bersama tiga ayat terakhir surat Al-Baqarah—keluar dari pintu satu-satunya pintu yang tak pernah terbuka sebelumnya. Al-Fatihah benar-benar disiapkan menjadi pembuka pintu rahasia untuk menaklukan semesta. [gambar : temanbuku.com]

Apa saja pintu-pintu itu? Bacalah buku Kafilah Al-Fatihah ini ^^’

Iklan

2 thoughts on “[review] Kafilah Al-Fatihah : Kisah Para Penjelajah Induk Alqur’an

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s