Reading Circle Syndrome Effect

Reading Circle Syndrome atau singkat saja RCS adalah istilah saya untuk menggambarkan satu keadaan dimana seorang pembaca—yang entah terserang oleh infeksi virus apa :mrgreen: —memperluas jaringan bacanya, dari beberapa buku menjadi banyak buku, dan itu cukup sulit untuk dihentikan. Sekilas sih tak ada yang salah dengan kegemaran membaca yang makin bertambah, tapi ada sisi lain dari seorang pecinta buku yang harus diwaspadai. Adalah sebuah penyakit yang menyerang kesehatan pundi-pundi finansial, yaitu lebih bahagia membeli buku ketimbang pinjam di perpustakaan. Hal ini yang membuat pecinta buku bergelar rangkap menjadi seorang penimbun buku. Masalah dibaca langsung atau tidak, urusan belakangan. Yang penting sang buku sudah terpajang di rak pribadi, dan suatu ketika membutuhkan tidak usah repot-repot mencari kesana-kemari. Itu salah satu prinsip yang dipegangnya. Saya pun tergolong dalam kelompok yang beginian.

Tapi, tak selamanya juga RCS yang bagai penyakit kanker ini berdampak negatif (sejauh ini sih hanya menimbulkan masalah defisit anggaran :mrgreen: ), buktinya saya jadi me-like sebuah buku yang sebelumnya saya tatap dengan tatapan memicing disertai ungkapan : “Al-Kalimat? Menarik. Tapi, ck, ah! Siapa juga Badiuzzaman Said Nursi? Gak kenal” sambil ngeloyor pergi menaruh kembali sang buku. Benar bahwa sebelum saya membaca sebuah buku yang menceritakan sebagian kisah Said Nursi, seorang ulama kenamaan Turki yang menulis Kitab Risalah Nur, di Api Tauhid-nya Habiburrahman El Shirazy, saya hanya melirik sekilas buku berjudul Al-Kalimat tersebut ketika kebetulan menemukannya di rak perpustakaan kampus. Tapi, pada hari ini ada sesuatu yang berbeda. Senyum cerah menghiasi wajah saya (yang gak kece-kece amat 😛 ), sebuah desiran (sebagaimana yang diungkapkan Pak Hernowo ketika seseorang memaknai sesuatu) terasa kencang di ulu hati—lebay—dan adrenalin saya melonjak “Wah! Inikan buku yang dulu sempat gue tolak”. Akhirnya setelah nyengir kuda di depan sang buku sambil menyadari bahwa ketidaktahuan mengantarkan pada sebuah ketidaktahuan yang lain, saya pun membawa buku terjemahan itu ke konter peminjaman 😀

Dari kisah itu, saya memahami bahwa RCS saya baru saja memberi efek positif, yaitu dengan cara setelah membaca sebuah buku yang menyebutkan tokoh X, saya pun jadi tertarik dengan buku lain yang menyematkan nama tokoh X tersebut atau bahkan buku karangan tokoh X atau syarah dari karya tokoh X. Setelah terkagum-kagum akan penggalan kisah perjuangan Said Nursi di novel bantal Api Tauhid, tentu saja saya akan tertarik dengan buku berjudul Al-Kalimat ini, yang ada embel-embel Dari Koleksi Risalah Nur kemudian di tulisan paling bawah ada nama Badiuzzaman Said Nursi. SIP. “Berarti gue harus baca. Memang bukan Risalah Nur-nya yang asli, tapi setidaknya Al-Kalimat ini merujuk padanya. Kek Al-Hikam mungkin ya? Atau kek Al-Rashafat?”

Entah apa hubungan Api Tauhid dan Al-Kalimat, yang sama-sama menyinggung Said Nursi; yang satu kisah hidupnya, yang satu lagi tentang karyanya, yang membuat saya heran adalah warna covernya yang mirip. Apa mentang-mentang bahas tokoh yang sama saja nih. Cek deh, bukunya berikut :

nursi 2

 

Ha ha…mirip kan? Nah, biar lebih mantap, saya preview deh dengan mengutip sinopsisnya yang ada di balik buku :

Dari Koleksi Risalah Nur, Al-Kalimat Jilid I Seputar Tujuan Manusia, Aqidah, Ibadah, dan Kemukjizatan Alqur’an) terj. Fauzi Faisal Bahreisy, merupakan buku yang disandarkan pada Badiuzzaman Said Nursi. Buku ini berisi kumpulan kalimat atau untaian kata yang yang menjelaskan berbagai hal fundamental dari keyakinan seperti keberadaan Tuhan dan keesaan-Nya, manifestasi dari asmaul husna dan atribut dalam penciptaan, kebangkitan manusia dan kehidupan akhirat, kenabian, kemukjizatan Alqur’an, para malaikat, dan kebutuhan manusia untuk beribadah kepada Allah SWT. Tiap pembahasan disajikan dengan argumen dan bukti-bukti yang logis serta aspek yang paling mendalam mengenai hakikat iman dijelaskan sedemikian rupa sehingga semua orang dapat mengerti tanpa kesulitan. Karya ini menjawab dengan cemerlang serangan ilmu pengetahuan dan filsafat terhadap Alqur’an, dan menunjukkan rasionalitas iman. Said Nursi mengetengahkan dengan apik bahwa kebahagiaan dan keselamatan manusia di dunia dan akhirat hanya terletak pada iman dan makrifatullah.

Tibalah saatnya untuk membantai sang buku ^^ ❤ ❤

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s