[review] Spora : Sebuah Novel Horor

Spora : Sebuah Novel Horor

Penulis   : Alkadri, Penyunting : Dyah Utami
Genre     :  Fiksi-thriller/horor
Penerbit :  Moka Media
Cetakan  :  Pertama, 2014
Halaman : 238 hlm
ISBN       :  979-795-910-4

Di suatu pagi, Alif menemukan sesosok mayat tergeletak di lapangan sekolahnya. Kepalanya pecah berkeping-keping. Sejak saat itulah mimpi buruk Alif dimulai. Satu per satu orang di sekitar Alif jatuh menjadi korban, mati dalam kondisi mengenaskan tanpa diketahui penyebabnya. Polisi mulai melakukan penyelidikan dan mencurigai keterlibatan Alif. Bersamaan dengan itu, masa lalu Alif yang kelam datang untuk menghantuinya kembali.

Sepintas membaca sinopsisnya saya sudah mulai memahami jalan ceritanya. Karena saya juga sering nonton anime, cerita pembuka yang dimulai dengan kisah Alif yang menemukan mayat di lapangan sekolahnya pagi-pagi sekali membuat saya memvisualisasikan adegannya dalam bentuk karakter anime (ha ha 😛 ) dimana seorang murid SMA ketika ia baru datang ke sekolah kedapatan mematung menemukan sesosok mayat yang tergelatak di depannya dengan penampakan kepala pecah. Sesaat saya juga ikut terhanyut dalam deskripsinya—jempol deh untuk penulisnya. Seperti kebanyakan anime bergenre horor, memulai cerita dengan penggalan adegan berdarah-darah atau setting tempat yang mencekam. Saya paling suka dengan adegan pembuka di anime Mirai Nikki, memperlihatkan adegan membunuh (yahh…sesuai dengan genre cerita saja—ini-malah-ngomongin-interest-lain). Sama seperti novel Spora ini, memperlihatkan ketegangan di awal cerita hingga pembacanya bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi dan penasaranlah dengan kisah selanjutnya. Suspense yang dibangun, bagi saya sukses membuat cerita ini sedikit berbeda dengan cerita genre sejenis yang memulai cerita dengan suspense juga. Karena siapa sangka datang pagi-pagi ke sekolah malah menjadi penemu pertama sebuah sosok korban pembunuhan keji.

Cerita berlanjut dengan introgasi polisi kepada Alif. Sebagai saksi, beberapa orang guru dan polisi yang menanyai Alif seputar kejadian, lalu menyarankannya untuk melakukan konseling akibat syok yang dialaminya. Namun Alif menyangkal dan mengatakan ia tidak apa-apa. Karena memang ia tidak apa-apa, ia hanya merasa kalau pembunuhan itu tidak seperti yang dibayangkan pak polisi tadi. Teman dekatnya, Rina, yang selalu membersamainya pun turut melempar pertanyaan-pertanyaan kepada Alif dan Alif curiga bahwa ia sedang dicurigai. Karena ayah Rina anggota polisi (bagian intel) yang ikut menangani kasus pembunuhan ini, ia khawatir jika Rina sedang memata-matainya sebagai saksi yang cukup mencurigakan. Pasalnya, sejak penemuan pertama, Alif tidak langsung melapor ke pihak polisi (yang memang ada di sekitar sekolah—polisi lalu lintas). Kemudian di hari berikutnya Alif kembali menemukan 2 sosok mayat dengan penampakan kematian yang sama. Hal ini membuat Alif berasumsi kalau beberapa polisi menduga ia terlibat dalam kasus ini.

Alif pun semakin kacau, ia mulai bermimpi aneh dan mengalami vertigo—yang katanya sempat ia alami tapi dulu sekali. Alif meracau dan menemukan sosok lain (sebuah suara) yang berkomunikasi dengannya hingga terngiang kembali pada masa lalunya yang cukup kelam. Di deskripsinya diceritakan bahwa Alif sempat membunuh ayahnya dengan menembakkan sebuah shotgun ke kepalanya.Tapi saya agak bingung disini, alasannya apa dan detailnya bagaimana tidak terlalu dijelaskan. Hingga akhirnya jatuh korban lagi, Rina, teman dekatnya, Fiona, teman sekelas yang ditaksirnya sejak lama, Alif terjebak dengan suasana yang kacau, membingungkan dan mengerikan.

Novel ini juga memuat penggalan kisah fantasi yang berkisah tentang seorang kurcaci yang memiliki kekayaan melimpah hingga akhirnya Raja tertarik dan menyuruh para ksatria mengambilnya. Penggalan kisah ini menjadi pemicu konflik cerita, saya juga tidak terlalu paham. Detail dari kisah fantasi ini dan kenapa Alif mempercayainya, tidak terlalu dijelaskan (atau saya yang kurang memahami cerita saja 😕 ). Tapi dengan dicampurnya kisah fantasi, cerita jadi lebih menarik, apalagi kasus pembunuhan itu terjadi dengan cara yang tidak biasa. Yaitu akibat spesies jamur—yang entahlah apa itu jenisnya saya lupa 😛 –yang dengan langka “menyerang “ manusia hingga menimbulkan cara pembunuhan baru. Kental sci-fi deh. Saya tidak bisa membayangkan kalau kasus ini benar-benar terjadi, pastinya se-Indonesia Raya heboh dibuatnya :mrgreen:

Ada hal lain lagi yang membuat saya berpikir kalau novel yang tak seberapa tebal ini sukses. Yaitu dari sisi cover. Don’t judge the book by the cover? Ah! Ilustrasi besutan Fahmi Fauzi ini benar-benar merepresentasikan isi cerita. Selain itu saya juga sempat salah paham dengan judulnya. Saya kira judul novel ini adalah Alkadri—pertama membaca judul saya tidak membaca “spora” tapi “alkadri”. Setelah tahu kalau Alkadri itu adalah penulisnya, saya terkekeh sendiri. Namanya begitu marketable. Pantas saja ditulis dengan ukuran yang cukup besar dan diberi gaya seperti penulisan judulnya. Yahh…seperti penulisan Tasaro GK dalam karya-karyanya, dengan tipe huruf, gaya dan bulatan khas membuatnya sangat menjual 😀

Saya sih berharap kalau novel ini lebih tebal lagi, lebih kompleks dan mendetail. Karena menurut saya tema yang dibawakan memang jarang ditulis orang. Apalagi yang saya yakini kalau novel-novel di Indonesia itu romance semua, haaahhh…. Tulisan unik semacam ini harus diapresiasi :mrgreen: Dan kembali kepada selera juga sih, saya memang cenderung kepada kisah-kisah menegangkan dan berdarah-darah, atau kisah yang mengangkat topik tertentu, seperti karya besutan Jostein Gaarder (yang mengangkat topik filsafat). Ha ha 🙂

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s