[review] Dengerously Perfect : ketika menjadi sempurna adalah satu-satunya cara untuk bahagia

Dengerously Perfect

Penulis  : Shita Hapsari, editor : Yooko & Yuke Ratna P.
Genre     : Fiksi-Slice of Life
Penerbit : Gagasmedia
Cetakan  : Pertama, 2013
Halaman : 278 hlm
ISBN       : 979-780-743-6

Sasa adalah seorang wanita karir yang senang mengejar ambisinya, ia juga sosok istri yang berusaha untuk menjadi sempurna. Sedangkan Luluk (Luki), suaminya, adalah seorang yang pengertian dan lebih berjiwa besar ketimbang istrinya, berkepala dingin namun tegas. Beberapa bulan terakhir rumah tangga mereka sedang berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan. Menghadapi suatu konflik, keduanya bersikap dengan karakternya masing-masing namun tetap menjaga image keluarga. Mereka berdua berusaha saling mengerti dan memahami kondisi masing-masing. Memahami alasan pekerjaan, kesibukan, pencapaian, dan karakter. Namun itu semua hanya membuahkan hari-hari yang menjemukan karena keduanya sama-sama enggan terbuka lebih dulu. Sasa yang memang memiliki sikap angkuh dan tak suka kalah merasa dirinya tak patut disalahkan meski ia juga tak sepenuhnya menyalahkan Luluk. Sementara Luluk, merespon sikap diam Sasa dengan ikut bersikap diam. Ia merasa harus menghargai Sasa dan membiarkannya tenang lebih dulu sebelum mulai berargumen lagi.

Di kantor, Sasa menjadi leader dalam sebuah kelompok training anak-anak baru yang diterima di perusahaan tempat ia bekerja. Niko, salah satu anak baru yang paling menonjol dari 3 lainnya sempat membuat Sasa khawatir bahwa ia akan menggesek kewibawaannya. Setelah dipromosikan dan naik jabatan Sasa menjadi lebih ambisius dengan karirnya dan berusaha sempurna dalam pekerjannya hingga mencapai kepuasan tersendiri karena itulah titik terbahagia menurut Sasa. Disegani dan dihormati. Perfect!

Hingga akhirnya suatu insiden yang membuat presentasi-nya gagal mengubah pandangan Sasa terhadap segala hal di kantor. Ia mencurigai ada sosok yang ingin menjatuhkannya dari belakang, termasuk mencurigai anak-anak didiknya itu. Sasa mencurigai Riska karena ia sempat menentang argumen Sasa. Namun karena berjalan tanpa bukti Sasa hanya memendamnya dan menyelidikinya setengah-setengah. Masalah tak berhenti sampai disitu. Sasa mulai mencurigai Luluk dekat dengan seorang teman kantornya, Kristi. Namun Sasa berusaha menepis pikiran bahwa suaminya selingkuh. Karena Luluk, dengan sifatnya selama ini yang selalu mengalah dan pengertian dengannya, tidak mungkin melakukan hal itu. Begitu pun ia melihat Kristi bukan tipe penggoda suami orang. Sasa kembali bimbang dengan perasaannya. Sikap diamnya belum berubah dan gengsinya untuk merasa cemburu atau bertanya semakin menjadi. Ia lebih memilih Luluk yang megalah dan mendekatinya. Namun nyatanya Luluk pun tak mau jika Sasa bersikap egois sendiri, akhirnya ia pun memilih curhat dengan teman lamanya, Dono, yang seorang konselor (pernikahan mungkin—disana tak dijelaskan dengan detail—atau saya yang memang tidak membacanya 😛 ) dan berencana melakukan konseling pernikahan. Namun sejauh ini masih dipendamnya mengingat sifat Sasa yang tak suka disalahkan atau mungkin akan dianggap sebagai istri yang gagal menyenangkan suami.

Hingga konflik memuncak, akhirnya Mama Sasa campur tangan terhadap masalah yang dialami keluarga Sasa dan Luluk. Menyarankan untuk bersikap terbuka dan lebih pengertian, Sasa justru ngambek dengan saran mamanya itu. Ia yang tak mau kelihatan dalam masalah rumah tangga dan lebih senang berkata “baik-baik saja” pun tak dapat terhindari dari “penciuman” seorang ibu akan seluk beluk karakter anaknya. Setelah memaksa Sasa untuk cerita tak membuahkan hasil, Mama pun akhirnya membujuk Luluk untuk jujur pada mertuanya itu. Akhirnya, Luluk menceritakan kondisinya (namun tidak semuanya) dan disarankan untuk lebih lunak pada Sasa, terlebih hari itu adalah hari ulang tahunnya. Ide memberikan kejutan terbersit di pikiran Luluk. Akhirnya ia pun merencanakan sesuatu. Tapi setelah rencana itu agak melenceng dari harapan, akhirnya Sasa melunak dan Luluk pun senang kembali (karena Sasa mengungkapkan sedikit perasaannya—ya, dia bilang cemburu dan lainnya—juga karena Luluk tak perlu melakukan konseling secara resmi—yang kemungkinan besar ditolak Sasa) :mrgreen: Kemudian, konflik kantor, kecurigaan dan kekhawatirannya pada anak-anak baru itu (Alfa, Monik, Riska, dan terlebih Niko) sedikit terselesaikan setelah masa percobaan selesai dan mereka mendapatkan posisi masing-masing di kantor. Namun, Sasa tetaplah Sasa. Ia akan mempertahankan ambisi dan kewibawaannya entah itu di kantor, di rumah dan dimanapun. Ia tidak suka sayapnya dipotong, begitulah yang ia katakan.

Fyuhh…membaca novel ini seperti membaca diri sendiri. Memang sengaja sih lagi cari novel yang benar-benar cocok dengan kondisi pribadi ha ha 😀 Sebuah cerita, biasanya, dengan deskripsinya yang detail dan ampuh akan mengantarkan pembacanya pada visualisasi yang paling kuat, namun novel ini, dengan segala unsur intrinsik dan ekstrinsiknya, termasuk kelebihan dan kekurangannya, membuat saya tak perlu melakukan visualisasi. Karena memang karakter tokoh dan tema yang diambil serasi dengan karakter saya sendiri he he—more and less lah—sehingga saya hanya perlu membacanya saja dan langsung kerasa di hati (#eaaaa). Saya jadi membayangkan mbak penulisnya juga memiliki sifat dan karakter seperti Sasa 😛 [gambar : goodreads.com]

Kasih pacco :

Iklan

2 thoughts on “[review] Dengerously Perfect : ketika menjadi sempurna adalah satu-satunya cara untuk bahagia

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s