[opini bareng : Maret] Menyoal Alur Cerita

Hyaa…ini dia pertama kalinya saya posting untuk event BBI, Opini Bareng edisi bulan Maret. Hm hm ureshii 😀 Tema opini bulan ini adalah “Alur Cerita”–dam dam! Tapi sebelumnya mari kita lihat lagi pertanyaan pemandu yang menjadi topik bahasan kali ini : Apakah kamu tipe yang ingin alur cerita maju teratur atau melompat-lompat? Buku dengan alur yang paling menyenangkan dan paling menyebalkan yang pernah kamu baca?

Saya termasuk orang yang tak mempedulikan alur cerita ketika membaca. Biasanya saya nrimo-nrimo saja alur sang novel, apalagi penulisnya kondang dan dari penerbit yang saya suka. Jika membaca karya fiksi, yang pertama saya komentari adalah judul dan topik, tentang judul apakah itu nyambung dengan isi cerita dan tentang topik apakah itu mainstream atau tidak. Selebihnya saya hanya mengomentari gaya penuturannya.

Hm…kalau ditanya tentang alur cerita, saya tidak terlalu paham juga sih. Alur kan termasuk unsur intrinsik karya fiksi, biasanya jika ditanya tentang alur apa yang digunakan cerita yang saya baca, saya hanya menjawabnya dengan kata maju atau mundur atau campuran, titik. Yang paling seru dari menjawab unsur intrinsik adalah bagian penokohan dan amanat. Saya cukup berani untuk menyatakan bahwa saya handal dalam menggali karakter tokoh atau menggali pesan yang terselip dalam suatu cerita. (Ha ha PD amat). Tapi soal alur sendiri, saya hanya bisa mengernyit. Selain belum paham definisi alur dan apa bedanya sama plot (apakah sama?) atau apakah perbedaannya dengan jalan cerita, saya pun kurang perhatian terhadap alur. Yang penting karya fiksi yang saya baca bukan pure romance atau chicklit. Yahh maklum pecinta fiksi newbie masih pilih-pilih. Tapi hobi “pilih-pilih” juga menurut saya penting karena tidak mau juga kan kita membaca karya sampah 😛

OK, kembali kepada alur cerita. Karena penasaran, saya pun mencari beberapa penjelasan terkait dengan unsur instrinsik yang satu ini. Kebetulan kemarin siang saya menemukan buku panduan menulis cerpen yang didalamnya diulas tentang alur cerita. Dan…. untuk pengetahuan bersama saja sih, saya coba review lagi beberapa sumber yang saya baca terkait penjelasan tentang alur cerita fiksi. Begini katanya :

Alur cerita disebut juga plot. Plot tersembunyi di balik jalan cerita. Dalam mengikuti jalan cerita itu akhirnya dapat ditemukan plot. Tapi jalan cerita itu sendiri bukan plot. Sebuah plot bisa menelurkan beberapa jalan cerita. Jalan cerita hanyalah manifestasi, bentuk jasmaniah dari plot.

Contohnya : ada seorang raja yang sangat mencintai istrinya. Si istri tiba-tiba wafat. Tak lama kemudian raja itu sendiri kemudian wafat pula. Ini jalan cerita. Jalan cerita menjadi plot kalau ada keterangan tambahan. Misalnya : raja sangat menyayangi istrinya. Mereka bahagia. Suatu hari sang istri mendapat kecelakaan dan wafat. Jiwa raja tergoncang dan kebahagiaannya hilang. Sebulan kemudian raja menunjukkan gejala sakit lantaran tak mau makan karena sedihnya. Raja tak bisa dihibur oleh siapapun, juga oleh para arif bijaksana. Akhirnya raja merana tak dapat mengatasi kesedihannya, dan ikut wafat pula…

Jalan cerita kedua lebih lengkap dan mudah dimengerti. Raja wafat karena merana ditingalkan istri yang sangat dicintainya. Lalu, mana plotnya? Merana yang menyebabkan kematiannya itulah sukma cerita, itulah plot. Orang sering mengacaukan kedua pengertian tersebut. Jalan cerita hanya memuat kejadian. Tetapi sebuah kejadian tentu ada penyebabnya, ada penggeraknya, ada alasannya. Ia tak terlihat tetapi mendasari adanya kejadian. Inilah sebabnya plot sering disebut sebagai segi rohaniah sebuah cerita.

Suatu kejadian merupakan cerita kalau di dalamnya ada perkembangan kejadian. Dan suatu kejadian akan berkembang kalau ada yang menyebabkan terjadinya perkembangan tersebut. Dan penyebab itu adalah konflik. Intisari plot adalah konflik. Tak ada cerita kalau tak ada konflik.

Nah…sudah cukup mencerahkan. Plot atau alur cerita adalah berisi konflik yang membentuk jalan cerita menjadi menarik. Kira-kira begitu. Dan soal plot atau alur cerita seperti apa yang saya sukai, saya sih suka semuanya. Mau berkembang maju, mau mundur atau gado-gado, kesan saya terhadap karya fiksi tetap pada gaya penyampaiannya. Tapi memang agak membingungkan juga membaca novel yang beralur mundur atau bahkan campuran. Apalagi kalau novel itu novel berseri, yang alurnya dicampur aduk. Seperti The Chronicles of Ghazi. Novel ini cukup membingungkan jika hanya dibaca sekilas lalu tanpa menghayati jalan ceritanya. Kadang juga novel yang beralur campuran atau flashback, deskripsinya memberi kesan yang berbeda dengan alur sebelum alur mundur digambarkan. Jika penyampaian dan gambarannya kurang kuat, saya biasanya merasa seperti membaca kronologi suatu peristiwa saja, tak ada feel. (Jiah, sok mengkritik :P)

Tapi sejauh saya membaca karya fiksi, saya tidak pernah merasa bermasalah dengan alur cerita atau plot. Cukup ikuti saja alirannya, jika memang saya suka dengan penuturannya, plot apapun akan terasa menyenangkan. Soal karya fiksi, saya memang hanya sensitif dengan tema dan karakter saja. Tapi yang paling utama, yang membuat saya jatuh hati dengan novel adalah gaya penyampaiannya (termasuk penggunaan gaya bahasa atau diksinya). Bukan berarti semakin tinggi gaya bahasa maka saya semakin suka novel itu juga sih. Buku Anak Bajang Menggiring Angin-nya Shindunata atau Lupa Endonesa-nya Sujiwo Tejo yang gaya bahasanya melangit malah membuat saya lamban dalam mencerna. Ha ha selain selera, kemampuan membaca tiap orang memang berbeda-beda :mrgreen: Tepuk tangan lah untuk diri kita masing-masing . . .

Iklan

2 thoughts on “[opini bareng : Maret] Menyoal Alur Cerita

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s