[artikel] Tragedi Malam bulan Maret

Hanya ada satu kata untuk menggambarkan suasana pada malam itu : shimattaaaaa . . .!! Saya membeli buku dengan secara kalap dan pada akhirnya saya tidak jadi beli sepatu 😛 karena jatah untuk itu tiba-tiba tergelontorkan ke kasir toko buku. Malam itu saya hanya berniat jalan-jalan saja ke Social Agency, sekalian cari novel-novel ringan teen romance gitu (dalam rangka gerakan cinta novel). Tapi bukan pecinta buku namanya jika ke toko buku hanya untuk cuci mata saja, akhirnya rak yang seharusnya saya hindari justru saya dekati pertama kali memasuki sang toko buku. Yaitu rak buku-buku Islam. Padahal sebelumnya saya sudah merancang skenario untuk langsung menuju lantai atas ke rak novel, but unfortunately, kaki saya penasaran melangkah ke tempat berkumpulnya kitab-kitab, buku-buku klasik dan referensi Islam. Dan, aarrrrghhh!! Ketemu dengan buku Tajul ‘Arus. Kemudian, secara slow motion saya melirik ke bagian rak atasnya, dan Jreng!! Mata saya bertemu dengan Kitab Al Hikam yang sudah menjadi great wishlist saya sejak berbulan-bulan lalu. Dengan gaya menunduk sambil bertumpu pada rak buku (tak lupa garis-garis hitam di belakang sebagai latar), saya pun berpikir untuk melupakan sejenak program “kece-isasi” dengan membeli sepatu baru yang terlihat lebih formal namun tetap trendi ketika digunakan. Lupakan. Buku di depan mata dan saya tak kuasa untuk menahan tidak membawanya pulang ke rumah. Dan pada akhirnya, kalap buku saya kambuh.

Bulan Maret adalah bulan yang saya targetkan untuk tidak membeli buku karena sejak awal Januari hingga sekarang saya sudah memboyong 13 buku dari rak toko buku 😛 Tapi apa daya tangan tak sampai (dan juga bukan salah bunda mengandung), saya malah membeli buku dan melanggar komitmen bulan ini untuk diet buku. Padahal telah jelas tertulis di kalender bahwa beli buku jatuh pada bulan April, bukan Maret. Benar-benar kalender tidak berguna 😆 Kemudian, untuk menghindari stress berkepanjangan, saya pun berpose dengan buku baru-accidental itu. Ha! Hazukashii….

Photo0541

Bukunya tidak kelihatan jelas dan angle-nya juga jelek :-/ .  Yahh…maklumlah saya memang tidak ahli dalam berselfie dan juga tidak suka dipoto, tapi untuk kali ini tak apa lah ^^’ Dan berikut saya poto bukunya agar lebih jelas, sekalian bon-nya :

Photo0525

Begini, saya coba deskripsikan sedikit tentang buku kece yang sudah saya nanti kehadirannya di rak buku saya ini :

Pertama, Al Hikam, karangan Ibnu Atha’illah al Iskandari. Ia merupakan ulama kelahiran Mesir , ia juga merupakan sufi besar abad ke-7 yang juga dikenal sebagai kiai tarekat, ahli hadis dan fikih mazhab Maliki. Dan Al Hikam, salah satu karyanya ini adalah yang paling populer di bidang tasawuf. Perlu diingat bahwa saya maniak tasawuf :mrgreen: “HIKAM” dalam bahasa Arab adalah bentuk jamak dari “hikmah”, dan dari itu buku ini berisi kumpulan kata mutiara. Di pengantarnya dijelaskan bahwa kata “hikmah” bernuansa tasawuf, dan inti ajaran tasawuf adalah bagaimana orang bisa merasa dekat—sedekat-dekatnya—dengan Tuhan. Pada era itu, banyak mutasawwif (penempuh jalan sufi), tapi yang sudah bisa disebut sufi sangatlah sedikit. Selain Imam Al Ghazali, jarang sekali ulama sufi yang menulis buku. biasanya, kata-kata hikmah seorang sufi dikutip orang kemudian diberi syarah atau komentar/ulasan/kajian oleh orang lain, lalu di-syarah lagi sehingga menjadi banyak buku. Nah…buku Al Hikam cover hijau lumut ini memang bukan karangan Ibnu Atha’illah asli, tetapi syarah yang ditulis oleh Syekh Abdullah asy-Syarqawi terhadap buku Al Hikamnya Ibnu Atha’illah. Kece kan? Sebelumnya saya sudah membaca sebagian Al Hikam dari meminjam di perpustakaan. Ada juga buku-buku lain yang disandarkan pada Ibnu Atha’illah. Kitab Al Hikam pun ada beberapa buku. Tapi buku yang inilah yang paling saya suka. Selain tebal—karena syarahnya lengkap juga edisi yang paling kece 😀

Lalu, buku yang kedua Mengaji Tajul ‘Arus : Rujukan Utama Mendidik Jiwa. Buku ini juga disandarkan kepada Abnu Atha’illah. Isinya sudah pasti tentang tasawuf. Saya lihat daftar isinya juga sangat beragam. Ada pembahasan tentang Dosa, Maksiat dan Tobat, tentang hati, nafsu, rahasia shalat (ini seperti bukunya Al Ghazali—wah, saya punyanya yang rahasia amar ma’ruf nahi mungkar he he), tentang ujian, ilmu dan masih banyak pembahasan random lain. Isinya seperti buku Tazkiyatun Nafs-nya penerbit Zaman—Tajul ‘Arus ini juga dari Zaman. Jempol deh untuk kitab-kitab terbitan Zaman ❤

Nah…bagaimana? Saya harap teman-teman pada ngiler dan bersegera melangkah ke toko buku he :mrgreen:

Lalu, bagaimana nasib sang novel? Setelah sekian rumit pergulatan pikiran apakah buku-buku kece ini akan saya beli atau tidak, novel yang memang saya skenario-kan dari awal jalan-jalan, telah saya dapatkan? Jawabannya, teman-teman pasti tahu sendiri kan? Apakah niat membeli buku X berbanding lurus dengan kemana kaki melangkah? Tentu pengalaman ini merupakan kondisi yang biasa dialami teman pecinta buku kan? Kan?

Begitulah, malam bulan Maret yang begitu disesalkan—tapi sesal itu hanya bertahan 5 detik karena perihal membeli buku tidak ada kata menyesal, apalagi buku tasawuf. Salah sendiri juga sih kenapa ketika boring di kamar malah jalan-jalan ke toko buku. Niat pakai tas segala. Geh! Itu mah niat beli buku. Coba saya sengaja tidak bawa dompet . . .

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s