[review] Max Havelaar

Max Havelaar

Penulis    :  Maltatuli, penerjemah Ingrid Dwijani Nimpoeno
Genre      :  Fiksi-Historical
Penerbit  : Qanita
Cetakan   : V, Januari 2015
Halaman  : 480 hlm
ISBN        : 978-602-1637-45-6

Begini, saya akan coba mereviw novel sejarah yang selalu membuat saya kesusahan akibat kelemotan saya dalam mencerna ceritanya : Max Havelaar, ditulis oleh Maltatuli alias nama pena Eduard Douwes Dekker pada abad ke-19. Novel yang mengisahkan perjuangan seorang Max Havelaar dalam membela masyarakat pribumi akibat diperas oleh pihak Belanda melalui sistem tanam paksa ini merupakan kisanya sendiri. Dimana ketika itu ia dilantik menjadi Asisten Residen Lebak, Banten. Mengawali tugasnya, iapun dikenalkan kepada Bupati dan Pengawas, Verbrugge. Kemudian menginspeksi wilayah dan berpidato pada masyarakat bahwa kedatangannya untuk memakmurkan para pribumi dan melindunginya dari tindakan penindasan dan kekerasan—yang mungkin terjadi secara terselubung.

Novel ini unik, diceritakan oleh 3 orang yang masing-masing berperan sebagai “aku”. Novel yang mengisahkan cerita dalam cerita ini agak rumit namun menarik, deskripsinya nyata seolah-olah menggunakan bahasa diary. Yep. Novel ini memang cukup aneh, ditulis oleh 3 orang, yang penulisannya sendiri bersumber dari manuskrip-manuskrip kiriman sang tokoh/penulisnya sendiri.

Dibuka oleh Droogstoppel, seorang makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht No.37 Amsterdam dengan nama firmanya Last & Co., yang memiliki pegawai tiga belas orang—di awal cerita kalian akan sering menemukan ungkapan ini, jangan heran—yang sangat setia pada ambisi bisnisnya. Ia yang merupakan sosok yang hanya peduli pada pekerjaannya—kopi—dan selalu realistis memandang sesuatu karena ia seorang pebisnis. Suatu ketika ia bertemu kembali dengan teman lamanya di sebuah toko yang sedang menyortir beberapa kopi. Ia adalah Max Havelaar, yang mengenakan syal kotak-kotak sehingga Droogstoppel menyebutnya Sjalmaan dan karena penampilannya aneh yang menurutnya tak menunjukkan seorang lelaki pebisnis sehingga ia hendak mengindari pembicaraan bersamanya. Esoknya Droogstoppel menerima surat dan paket besar dari Sjalmaan yang isinya meminta agar Droogstoppel meminjaminya uang dan menerbitkan buku karangan Sjalmaan. Namun, karena Droogstoppel adalah makelar kopi, pebisnis, dengan firma Last & Co. yang dibanggakannya ia merasa dipermainkan. Bahkan dengan keyakinan Sjalmaan akan kemampuan syairnya—bahkan Droogstoppel membenci hal berbau syair—Droogstoppel tetap tidak percaya bahwa ia harus menulis novel. Karena Droogstoppel menganggap novel atau syair itu penuh kebohongan, sedangkan ia sendiri seorang pebisnis yang realistis. Yang, ungkapnya mencintai kebenaran.

“Aku sama sekali tidak keberatan dengan puisi. Jika kau ingin merangkai kata-kata baiklah; tapi jangan mengucapkan sesuatu pun selain kebenaran. Jadi— “Jam berdentang empat kali. Dan sudah tidak hujan lagi”. Aku tidak akan mengucapkan sesuatu pun untuk menentang kata itu. Seandainya saat itu memang pukul empat dan hujan memang sudah berhenti. Namun, seandainya saat itu pukul tiga kurang seperempat, aku—yang tidak merangkai kata-kata dalam bentuk puisi—bisa mengatakan, “Pukul tiga kurang seperempat, dan hujan sudah berhenti”. Namun si pembuat rima, karena sudah tidak hujan “lagi”, terpaksa mengatakan “empat kali”. Entah waktu atau cuacanya yang harus diubah dan hasilnya adalah kebohongan”

Hyaa…saya agak gemana-getoh membaca bagian ini. Terutama ketika Droogstoppel mengharap bahwa paket Sjalmaan yang berisi berlembar-lembar kertas itu ada yang berisi tentang kopi, maka ia akan antusias, namun kebanyakan diantaranya berisi puisi dan beberapa tulisan dengan topik beragam sehingga kelamaan Droogstoppel makin tertarik—meski ia sedikit sekali mengakuinya. Kemudian ia menemukan judul “Mengenai Harga Kopi Jawa” dan ia sisihkan, aiihh… :mrgreen:

Kedua, disusun oleh Stern. Setelah diberi tahu akan paket aneh dari Sjalmaan, Droogstoppel pun meminta bantuan Stern untuk ikut menyusunnya. Dan bagian cerita pun bergulir menjadi “aku” versi Stern. Menceritakan keseharian Max Havelaar sebagai Asisten Residen Lebak, kehidupan keluarganya dan berbagai percakapannya dengan Verbrugge. Jujur, saya sendiri agak bingung membaca bagian ini. Namun, kemudian “komposisi Stern” ini mengarah pada ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat Lebak. Para penguasa pribumi menyalahgunakan jabatannya dengan memaksa penduduk untuk bekerja tanpa upah. Max Havelaar, dengan sumpah dan tanggung jawabnya sebagai Asisten Residen, yang berjanji akan menjaga perbuatan kesewenang-wenangan kepada masyarakat pun ikut memperjuangkannya dan meminta agar diadakan pertemuan dengan petinggi Residen. Namun ketika membicarakan keresahan rakyat dan beberapa aduan mengenai tindakan tidak adil dengan hati-hati, Max Havelaar tidak mendapat jawaban yang memuaskan, seolah ada yang ditutupi darinya. Lalu ia pun menyelidiki masalah ini tanpa menimbulkan “masalah” namun akhirnya ia sendiri menderita karena tidak memiliki dukungan bahkan Gubernur Jenderal memindah-tugas Max Havelaar ke wilayah lain.

Terakhir, tokoh “aku” diperankan oleh Maltatuli sendiri, “yang telah banyak menderita”. Ia menegaskan bahwa novel yang ia buat ingin dibaca oleh banyak orang, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, tujuannya hanya untuk didengar. Salah satu ungkapannya :

“Buku ini campur aduk; tidak beraturan, hanya ingin mengejar sensasi. Gayanya buruk; penulisnya tidak berpengalaman; tidak berbakat, tidak punya metode”

“Bagus! Bagus! … Semuanya itu benar! … tapi orang Jawa diperlakukan dengan buruk! Justru inilah kehebatan bukuku : gagasan-gagasan utamanya mustahil untuk dibantah. Dan, semakin besar ketidaksukaan orang terhadap bukuku, semakin aku merasa senang, karena kesempatan untuk didengarkan akan jauh lebih besar lagi. Dan, inilah yang kuinginkan”

Cukup berat menuntaskan novel klasik ini. Selain memang saya agak lemot dalam hal sejarah juga banyaknya kutipan berbahasa Belanda dan beberapa catatan kaki yang membuat saya harus melirik baris paling bawah di lembar halaman kemudian menghubungkannya kembali dengan bagian cerita yang sedang dibaca. But, as a awhole novel ini kece dan memiliki makna mendalam untuk dibaca. Selain itu cerita yang disuguhkan dengan gaya Max Havelaar yang blak-blakan di akhirnya sungguh menggugah perasaan siapa saja akan penindasan yang terjadi pada masa kolonial dulu.

Hyaa…review yang panjang. Kasih wink, yey! [gambar : goodreads.com]

Iklan

One thought on “[review] Max Havelaar

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s