[review] Api Tauhid : Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid

Api Tauhid : Cahaya Keagungan Cinta Sang Mujaddid

Penulis         :  Habiburrahman El Shirazy
Genre            :  Fiksi/Sejarah-Islam
Penerbit       : Republika Penerbit
Cetakan        : III Desember 2014
Halaman      : 574 hlm
ISBN              : 978-602-8997-95-9

Buku bantal ini ternyata saya selesaikan dalam waktu 4 hari lho  :mrgreen: . Mengesankan. Eragon saja butuh hampir dua minggu, padahal jumlah halamannya lebih sedikit. Setelah tukar pinjam dari teman dengan buku Ghazi 2, tak butuh waktu lama, pembantaian Api Tauhid pun dimulai.

Hyaa….saya agak kaget bisa membaca novel semacam ini mengingat saya dulu hanyalah penimbun buku-buku populer, how to dan buku Islam. Novel besutan Habiburrahman—[teman kos sudah booking tapi saya kasih Dunia Sophie ha ha. Apa kabarnya ya?] ini memang menyita banyak perhatian publik khususnya para pecinta novel religi. Mulai dari diadakannya bedah buku hingga diskon gede-gedean di akhir pameran—[sayang banget saya beli ini novel lama sebelum bookfair]. Saya lihat juga banyak testimoni yang diberikan untuk buku ini. Memang, kemunculan novel ini fenomenal banget 🙂

Membaca Api Tauhid sama seperti menyelami kisah ulama besar Badiuzzaman Said Nursi. Overlapping dengan kisah pergulatan cinta Fahmi, yang disajikan secara apik dengan deskripsi tempat yang detail hingga seolah pembaca menapakkan kakinya sendiri di tempat itu. Kece. Penuh inspirasi. Kisah cinta masa kini yang tetap merujuk pada keteladanan Said Nursi, begitu intinya.  Membuat perpaduan yang cocok. Saya baru pertama kali mendengar Said Nursi, jadi bagi saya novel ini sangat membantu pemahaman sejarah saya he he :mrgreen:

Cerita dibuka dengan itikaf ‘berlebihan’ Fahmi yang menyebabkannya masuk rumah sakit. Ketiga sahabatnya, Ali, Subki dan Hamza menduga-duga bahwa ada sesuatu dibalik itikaf Fahmi. Dan bingo! Ternyata ia galau soal ‘perjodohannya’ dengan Nuzula. Setelah mendapat kabar mengejutkan dari kampung halaman mertuanya, Fahmi, yang sedang bersekolah di Madinah, menjadi pemuda yang ‘galau’an. Sejak itu pun Hamza mengajaknya pulang ke tempatnya berasal, Turki, untuk mengusir kecamuk hati dan pikiran Fahmi. Dan Fahmi pun menyetujui kemudian ‘berkelana’lah mereka ke Turki menapaki berbagai situs bersejarah sekaligus menyelami kisah perjuangan Badiuzzaman Said Nursi. Berikut kutipan favorit saya dalam salah satu khutbah Said Nursi :

Aku telah mempelajari sejumlah pelajaran di sekolah kehidupan sosial. Aku mendapati, bahwa saat ini dan di tempat ini ada 6 penyakit yang membuat kita terjebak di abad pertengahan, di saat orang-orang asing, khususnya  Eropa, terbang menuju masa depan. Penyakit tersebut adalah :

Pertama mewabahnya keputusasaan, yang faktor pemicunya adalah diri kita sendiri. Kedua, matinya kejujuran dalam kehidupan sosial dalam politik. Ketiga, suka pada permusuhan. Empat, mengabaikan tali cahaya yang menyatukan sesama umat mukmin. Kelima, penindasan yang menyebar seumpama penyakit menular. Keenam, perhatian yang hanya tertujua pada kepentingan pribadi”.

… Said Nursi pun menyampaikan pentingnya cinta kasih sebagai terapi penyakit suka bermusuhan yang melahirkan kesengsaraan berkepanjangan :

Diantara yang penting yang telah aku pelajari dan aku dapatkan di kehidupan sosial manusia sepanjang hidup adalah bahwa yang paling layak dicintai adalah cinta itu sendiri, dan yang paling layak dimusuhi adalah permusuhan itu sendiri. Dengan kata lain, tabiat cinta yang menjadi jaminan tenteramnya kehidupan sosial manusia, dan menjad faktor penting terwujudnya kebahagiaan, itu lebih layak dicintai. Sebaliknya, tabiat permusuhan dan kebencian, yang menjadi faktor perusak tatanan sosial merupakan sifat paling buruk dan paling berbahaya. Ia paling layak untuk dihindari dan dijauhi…

Faktor-faktor yang melahirkan cinta adalah keimanan, keislaman, dan kemanusiaan serta berbagai mata rantai nurani yang kokoh dan benteng maknawi yang tangguh…

Namun, si sela perjalanan ‘wisata’ Fahmi dkk, tanpa diduga seorang gadis Turki, Aysel, menimbulkan masalah hingga Fahmi harus berjuang dengan nyawanya. Dengan mengingat kembali semua kisah perjuangan Said Nursi yang diceritakan Hamza pada berbagai kunjungannya di situs-situs sejarah, Fahmi pun menganggap cobaan yang ia rasakan tidaklah sebanding dengan gejolak yang dirasakan Said Nursi, bahkan bukan apa-apa. Hanya dzikir dan keyakinan pada Sang Pencipta, hingga akhirnya, Fahmi dapat keluar dari kesulitan yang mengancam nyawanya dan ‘kegalauan’ hatinya tentang ‘cinta’ pun terobati. [gambar : goodreads.com]

Yay! 3 pacco

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s