[review] Satin Merah : aku cuma ingin jadi signifikan

Review Satin Merah : aku cuma ingin jadi signifikan

Penulis     : Brahmanto Anindito dan Rie Yanti
Genre        : Fiksi -thriller
Penerbit   : Gagas Media
Cetakan    :  2010
Halaman  : 314 hlm
ISBN           : 978-979-780-443-5

Penutur Sunda ada sekitar 10% dari penduduk Indonesia. Jadi, gampang-gampangnya, buku Sunda yang beredar di pasar jumlahnya juga mestinya 10% atau minimal mendekati. Saya rasa kita perlu aware dulu. Akan ada kehilangan besar jika kita tidak aware.

Sebagai orang Sunda, saya senang bukan main nemu novel yang mengangkat tema Bahasa Sunda seperti dalam Satin Merah ini. Karena memang jarang banget fiksi-fiksi yang membicarakan tema ini apalagi beredar karya sastra berbahasa Sunda, sehingga pas surfing di alam maya raya mencari novel genre thriller untuk dibaca saya nemu si Satin Merah ini dan  jreng-jreng!! Si Pe-review berkata kalau tema dari novel ini adalah tentang sastra Sunda.“Haa? Basa Sunda? Oh My God! Gue harus beli!!” Untung saja teriakan saya gak membangunkan ibu kos dari alam mimpinya 😀

SKIP. Sampailah novel berlustrasi darah ini di tangan saya. Cukup menawan, untuk saya yang lumayan pecinta cerita thriller. Dan asiknya cover ini, terdapat beberapa huruf Sunda yang tersebar di balik bercak darah yang menutupi hampir seluruh cover. Saya kembali takjub. Pasalnya ketika lihat tampilan covernya via online, si huruf-huruf Sunda itu tidak kelihatan. Makanya saya takjub ketika melihat sang cover via fisik :mrgreeb: Karena itu, novel ini beneran Sunda banget. Poin plus deh untuk rating bagus sebelum membaca.

Cerita dibawa oleh sang tokoh yang masih duduk di bangku SMA, Nadya. Untuk membuktikan bahwa ia pantas untuk dikagumi, untuk menjadi signifikan, Nadya pun berambisi menang di kompetisi siswa teladan Se-Bandung, ia harus menyusun sebuah makalah. Dan apa tema yang diambilnya? Yaitu tentang Sastra Sunda. Mengapa sastra Sunda kini kian memudar dan tergantikan? Itulah pertanyaan besar Nadya yang awalnya hanya ingin mencari tema tak biasa hingga membawanya masuk ke dalam berbagai insiden. Bermula ketika ia mencari tokoh pakar sastra Sunda untuk diwawancarai hingga memintanya menjadi mentor. Kemudian siapa sangka, ambisinya melestarikan sastra Sunda yang tersemat dalam opini makalahnya kian kuat dalam dirinya dan makin menyeretnya dalam berbagai kecamuk.

Yep. Benar. Sesuai ekspektasi kok. Bahwa novel bergenre thriller ini memiliki adegan berdarah-darah. Meski saya sempat gemana-getoh dengan sang tokoh yang ternyata masih SMA dan perempuan pula, ternyata tak mengurangi ketegangan cerita yang dibawanya. Seru. Membaca sajak yang ada di dalam novel ini mengingatkan masa SMA saya ketika Bu Emi meminjamkan buku sajak karangan Eti R.S nya untuk saya review. Bahasa yang mendayu-dayu penuh makna. Bedanya, di novel ini baunya  agak-agak misteri gitu. Ha ha…namanya juga thriller 😀

Bisa deh saya bilang : Alangkah signifikan novel ini! [gambar: id.wikipedia.org]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s