[review] Dunia Anna : Sebuah Novel Filsafat Semesta

Review Dunia Anna : Sebuah Novel Filsafat Semesta

Penulis : Jostein Gaarder
Genre : Fiksi-thriller/eco thriller
Penerbit : Mizan
Cetakan : II November 2014
Halaman : 224 hlm
ISBN : 978-979-433-842-1

Nova sayang, aku tak tahu bagaimana rupa dunia saat kau membaca surat ini…

Nova mendapatkan sebuah surat dari nenek buyutnya, Anna, yang ditulis 70 tahun yang lalu. Betapa terkejutnya mendapati surat itu menyapa namanya. Bagaimana mungkin nenek buyutnya tahu kelak cicitnya akan bernama Nova? Keresahannya tentang berbagai kerusakan alam dan musnahnya setengah dari spesies yang ada? Dan benarkah nenek buyutnya, Anna, dapat mengembalikan keseimbangan bumi melalui cicin Aladdin yang melingkar di jari tangannya?

“Tapi sayangnya kita tidak punya terapi untuk pasien yang punya ketakutan pada pemanasan global. Lagipula mungkin memang kita tidak perlu berharap ada semacam resep untuk mengurangi kekhawatiran akan pemanasan global. Karena, toh, kita tidak seharusnya membiarkan diri terhadap ancaman tersebut. Sebaliknya, kita harus mengatasinya”

Anna, seorang gadis yang akan berulang tahun ke-16 ini memiliki fantasi yang luar biasa terhadap dunia. Karena itu ia selalu mengajukan berbagai pertanyaan terkait isu-isu lingkungan hidup. Bagaimana bumi ini di tahun yang akan mendatang? Bagaimana menghentikan pemanasan global? Bagaimana menyelamatkan spesies yang terancam punah? Melalui mimpi-mimpinya Anna seolah dibimbing untuk melakukan penyelamatan bumi sedini mungkin. Sebelum bumi yang indah ini kelewat rusak saat generasi selanjutnya datang, saat cicitnya, Nova, lahir.

Pak Gaarder ini memang hobi membolak-balik alur. Tapi karena gayanya itulah saya suka semua buku-bukunya. Keren! Dan ada satu hal yang secara pribadi menggelitik dari novel ini, yaitu tentang sebuah kebun binatang virtual di masa depan. Duh! Karena saya pecinta binatang, dulu sekali saya juga sempat memikirkan hal ini. Bagaimana jadinya jika kebun binatang yang sekarang ada diganti saja dengan kebun binatang berbentuk hologram? Toh, pengelolaan para binatang di Indonesia ini tak terlalu bagus. Sarana yang kurang memadai dan relevan dengan habitat mereka juga annimo masyarakat terhadap pembelajaran tentang dunia fauna semakin menurun. Jikalau para binatang itu dikelola namun ternyata malah akhirnya (agak?) terbelangkalai kenapa mereka tidak dikembang-biakkan di alam liar saja? Sungguh menyayat hati mendengar beberapa kasus hewan kebun binatang  mati hanya karena kekurangan makanan. Plis deh!

Kembali ke sang novel, bedanya dalam  cerita ini kebun binatang virtual dibuat karena banyak binatang yang sudah punah. Bayangkan kita tak dapat lagi melihat harimau, rusa, beruang kutub, orang utan, dll. Oh My God! Saya jadi membayangkan bagaimana rupa bumi 100 tahun mendatang. Seiring berkembangnya teknologi yang makin memudahkan manusia, berbanding luruskan dengan daur karbon di bumi ini? Apa itu daur karbon? Ayoo yang ngaku anak exact angkat tangan. Yahh… saya tidak akan membahas hal itu disini, jadi coba searching saja he :mrgreen: (Mulya Saadi! Kau telah memprovokasi orang untuk belajar tentang daur karbon, tentang dunia ini!)

Berbicara tentang cover, maka kita akan diingatkan kembali kepada karya Pak Gaarder sebelumnya. Yep. Dunia Sophie. Yep. Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken. Selain dibawah penerbit yang sama, dominan warna hitam dan jenis tulisannya pun sama. Meski kadar kecerahannya berbeda. Dan kece-nya ilustrasi Anna menggunakan kemeja merah dengan rambut blondenya yang sedang menatap ke “masa depan” kerusakan bumi begitu eye-chatcy. Dan omong-omong saya paling suka dengan cover buku yang ilustrasinya seseorang sedang menatap ke kejauhan (membelakangi kita yang membaca) atau ke depan (ke arah kita yang membaca). Tak lupa latar bernuansa fantasi khususnya yang mendeskripsikan “kegelapan” menaruh perhatian tersendiri di selera mata saya. Yahh…sebut saja Girl of Nightmares nya Kendare Blake. Menampilkan gambar seorang perempuan yang mengulurkan tangan seolah mengajak pembaca kedalam lorong gelap. “Uoooohh…ini cover gue banget!” Mengingat saya memang suka bacaan yang dark-dark. Yahh…bukan berarti hidup saya dark juga.

Ada sedikit kekecewaan di hati saya terhadap buku ini. Yep. Terlalu tipis. Saya sih berharap kalau ceritanya lebih kompleks dan mengelaborasi lagi berbagai kerusakan lingkungan. But totaly, novel ini sangat kece. TOP! Kalau orang Jepang bilang Sugoooooi, kalau orang Sunda bilang Euleuh sae pisan euy—tapi kalau saya dkk sih biasa bilang geloooooo! Yahh…cerita ini memang membuat saya gelo, gelo akan ilmu alam dan wacana lingkungan hidup juga filsafat tentunya. [gambar : goodreads.com]

Iklan

Berkomentarlah !

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s